Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 46


__ADS_3

Ketenangan yang nyaris mengerikan. Sampai prosesi pemakaman berakhir tak ada setitik airmataku yang mengalir. Batinku memaksa menguat untuk mengantar kepergian orang yang amat aku cintai, terakhir kalinya hingga ke liang lahat.


Beberapa kali aku menabur bunga pada gundukan tanah merah di hadapanku, lalu menatap nama yang tertulis pada papan nisan yang telah tertancap di atasnya. Mengelus dan mengeja nama itu dalam hatiku. Mengingat janji dan impian yang belum sempat tercapai karena secepat ini beliau pergi.


"Yu, sudah ayo kita kembali," bisik Risty yang merangkul kuat bahuku.


"Biarkan Ibu tenang disana, ya," bujuk Putri yang memaksaku bangkit, menuntunku kembali ke kos an.


Suasana semakin sore tak seramai tadi, hanya beberapa sahabat yang masih tinggal mempersiapkan acara untuk nanti malam. Mereka akan mengadakan yasin dan doa bersama.


Aku yang telah dibujuk Risty dan Putri untuk berganti pakaian kini mulai mengingat sesuatu, adikku.


"Dimana Zahra?" tanyaku, setelah cukup lama bibir ini bungkam.

__ADS_1


"Dia sama tetangga sebelah, sementara Zahra disana. Biar aku panggilkan," sahut Risty yang kemudian beranjak berdiri.


Namun aku dengan segera mencekalnya. "Biar aku aja yang kesana," kataku bersamaan denganku yang berdiri menuju kamar kos sebelah.


Aku dan kedua temanku di persilakan masuk. Begitu Zahra tahu akan kedatanganku, dia beranjak dari yang tadinya menonton TV mendekat ke arahku. Sontak aku memeluknya erat, menangis mendekapnya. Aku yakin dia tak tahu apa-apa dengan kondisi ini, dengan kepergian Ibu kami.


Setelah aku merasa tenang baru Mbak Tanti yang tinggal tepat di kos sebelahku menceritakan sampai pada Ibu menghembuskan napas terakhirnya.


"Kemarin sempat dibawa ke rumah sakit. Awalnya gak menyangka, dikira masuk angin, minta dikerikin. Aku bantu kerikin punggung sama dada, setelah itu Mbak pijitin juga. Lalu habis itu pamit pulang dari sini, katanya istirahat sebentar. Tapi sampai magrib pintunya masih tertutup, di dalam juga lampunya gak dihidupin. Mbak sama suami juga tetangga lain jadi khawatir, apalagi ada Zahra di dalam. Tapi setelah pintu diketuk-ketuk dab di panggil-panggil Zahra cuma nyahut 'Ibuk tidur', karena dipikir Zahra pasti juga belum makan sementara pintu di kunci, akhirnya kami minta tolong sama Ibu kos buat bukain pintu."


Aku menarik napasku dalam, sebelum akhirnya menggeleng. Tapi Mbak Tanti segera menarik tanganku untuk digenggamnya, seperti menyalurkan kepercayaannya agar aku kuat dalam menghadapi kenyataan ini.


"Dokter menjelaskan asam lambung yang diderita Ibumu sudah kronis."

__ADS_1


Mendengar ucapan Mbak Tanti sontak aku menangis, sudah tak bisa aku membendungnya lagi sambil mendekap erat Zahra. Ibu memang dulu kerap mengalami gangguan pencernaan. Ibu menganggap itu adalah maag dan akan sembuh bila beliau meminum obat yang dibelinya di warung terdekat. Dan siapa sangka justru sakit lambung yang terjadi secara berulang dan dalam jangka waktu lama berakibat menjadi kronis hingga merenggut nyawa beliau.


Rasanya aku kian menyalahkan diriku sendiri yang tak perhatian pada Ibu, bahkan mengabaikan kala aku bertanya tentang keadaannya saat terbaring beristirahat dan akan berkata, 'Tak apa, sebentar lagi juga akan sembuh.'


Kalimat itu yang sekarang berputar di kepalaku. Ibu seberapa sakit yang telah beliau tanggung. Fisiknya, dalam tubuhnya juga batinnya, belum lagi dengan tanggung jawabanya untuk keluarga?


Dalam batinku terasa kian sakit. Apalagi, mana, dimana suaminya yang telah memberi tanggungan yang harus Ibu pikul sendirian. Sampai sekarang bahkan lelaki yang disebut suami itu tak menampakkan batang hidungnya.


"Lalu bagaimana setelah ini Ayu?" tanya Mbak Tanti ketika keadaanku mulai sedikit tenang.


Aku mendesah tak kentara, menunduk menatap wajah Zahra. Lalu kemana tempat yang akan kami tuju. Saudara, kerabat tak ada karena yang kutahu keluarga Bapak memang sudah meninggal ditambah Bapak hanya anak tunggal. Begitu pula keluarga Ibu, gak ada.


Aku menggeleng, gak ada tempat yang kutuju selain Jakarta. "Ayu akan bawa Zahra ke Jakarta, Mbak," sahutku kemudian.

__ADS_1


To be Continue


Apa yang terjadi di masa depan Ayu juga nasib adiknya? Tetap ikuti kisah mereka yaaaa


__ADS_2