
Rico yang tak mengucapkan sepatah kata pun membuat senyum mengejek dari Mbak Vina terbit. Jaket yang dari tadi menutupi tubuhku ditarik oleh Mbak Vina dan diulurkan pada Rico.
Tak banyak kata Mbak Vina kemudian menarikku masuk menuju Bar, lebih tepatnya ke ruang karyawan untukku bergabung bersama yang lainnya dalam menerima arahan yang akan diberi oleh atasan.
Entah ada suatu rasa kekecewaan yang muncul ketika aku meninggalkan Rico tadi, tapi aku segera menepisnya. Apa-apaan diriku yang memiliki suatu pengharapan akan kebaikan dari seorang Rico, bukan kah aku terlalu tak tahu diri? Sisi lain dalam diriku seolah meneriakkan kata-kata itu.
Aku tersentak dari lamunan kala atasanku memanggil namaku, memberi arahan bagaimana aku akan bekerja karena ini adalah hari pertamaku. Mereka akan mengawasiku terlebih dahulu, imbuhnya.
Musik berdentum dengan keras, aroma alkohol, asap rokok, lampu dengan cahaya gemerlap. Aku harus membiasakan diri dalam lingkungan asing ini walau sisi batinku rasanya seperti menangis.
Sebuah nampan beserta botol minuman beralkohol dengan kadar yang cukup memabukkan dengan nominal harga tinggi membuatku berhati-hati ketika membawanya untuk menuju pada sebuah meja sofa yang terletak di bagian paling sudut.
Belum aku sampai pada nomor meja yang kutuju suara siulan dari orang-orang di sekitarku mulai membuatku begitu risih, dan bukan hanya itu saja. Hampir saja sebuah tangan jahil hendak memegang pahaku tapi hal itu segera ditepis oleh Mbak Vina yang aku tak tahu ternyata dia tengah berada di sekitarku.
"Jangan macam-macam, dia adik Gue!" ucap Mbak Vina bersamaan dengan menepis tangan lelaki yang berdiri tak jauh kami.
"Ups sorry," sahut lelaki dengan tampilan tindik di telinga, kedua tangannya terangkat tapi sorot matanya lekat memperhatikanku. "Baru pertama kali Gue lihat, adik loe dilihat-lihat tampangnya masih polos. Boleh nih Gue coba," sambung lelaki tadi dengan nada menggoda.
__ADS_1
Tapi Mbak Vina memberi pelototan tajam dan menunjuk ke arah orang disekitarnya. "Adik Gue disini cuma jadi waitress, digaris bawahi. Kalau Loe—Loe—Loe berani macam-macam, Gue gak segan buat kasih kalian pelajaran!" ucap Mbak Vina dengan nada mengancam.
"Takut Gue," sahut lelaki tadi berpura-pura menampilkan wajah ketakutan dan ditanggapi oleh yang lainnya dengan tawa.
Mbak Vina segera menepuk bahuku pelan. "Udah sana lanjutkan pekerjaanmu," ucapnya mengingatkan.
Aku pun mengangguk berbalik badan dan melanjutkan langkahku menuju pada meja pelanggan mengantarkan minuman yang dipesan.
Berulangkali pula hatiku merasakan sesuatu yang was-was berada disini, tubuhku entah disengaja atau pun tak sengaja telah bersenggolan dengan beberapa orang-orang disini. Belum lagi kian malam suasana disini semakin ramai.
Lalu aku mulai ingat sesuatu, dengan mata mengedar aku mencari letak tempat Mbak Vina tadi berada. Tapi sudah tak ada, disana telah berganti orang.
Aku mulai melirik jam di pergelangan tanganku yang hampir menunjukkan pukul setengah satu dini hari, sedang jam kerjaku tinggal setengah jam. Dan kami tadi sempat berjanji kalau kami akan pulang bersama, Mbak Vina kesini hanya berniat mengawasiku saja, tidak lebih.
Mataku mulai mengedar lagi kembali menelisik tiap-tiap kerumunan orang, barang kali Mbak Vina ada diantara salah satunya dan hasilnya nihil. Aku pun segera mencegah salah seorang yang tadi sempat kukenali, teman seprofesi. "Bekti, kamu tahu dimana Mbak Vina. Tadi dia duduk di meja itu," tunjukku ke arah meja yang tadi didudukinya.
Bekti menggeleng sambil mengingat, kemudian berdecak. "Tadi dia mabuk," sahutnya hendak pergi. Tapi aku segera mencekal lengannya lagi.
__ADS_1
"Kemana—kemana. Apa kamu tahu Mbak Vina pergi?" tanyaku khawatir dan mulai panik.
Jari telunjuk dan kepala Bekti mengarah ke atas. Apa maksudnya, batinku. Belum lagi aku bertanya dirinya buruan pergi.
Hatiku makin was-was, yang aku pikirkan adalah keadaan Mbak Vina yang dalam kondisi mabuk. Kupikir itu sangat gak baik dalam kondisi dan aku takut sesuatu bakal terjadi karena hatiku merasa mulai tak enak.
Aku pun berjalan tergesa menuju meja bartender, dan meskipun dalam keadaan ramai aku tetap memaksa agar Joe si bartender memberiku informasi tentang apa yang kutanyakan meski jawabannya terdengar ketus bahkan tak enak di dengar.
"Kenapa tanya-tanya, mau juga menjadi pemuas diantara mereka," ucap Joe si Bartender bermulut pedas dengan menujuk ke arah pria-pria yang tengah duduk di kursi tinggi yang berjajar di hadapan mejanya.
Tapi aku tak menanggapi ucapan tadi, sudah cukup jelas di atas sana adalah tempat yang lebih keji dari sini. Segera aku membalikkan tubuhku bergegas hendak menuju arah tangga atas. Namun kali ini langkahku terhenti sebab lenganku tengah di tarik oleh seseorang, yang ssketika tubuhku memutar sebab tarikan kuatnya hingga membuatku begitu tersentak saat kepalaku hendak bertabrakan tepat pada tubuh tegap yang dibalut dengan kemeja yang nampak setengah lusuh.
Samar kudengar Joe berdecak dan bersuara, "Mujur banget nasib loe anak baru."
Aku tahu ke arah mana kalimat yang dilontarkan itu, tubuhku sontak menegang dan aku berusaha menepis tangan yang kian erat mencengkeramku. Hingga ketika cekalannya hendak terlepas karena usaha kerasku, aku kembali di buat tersentak saat kudengar suara yang kukenali berdesis tepat di telingaku, "Apa yang tengah kamu lakukan di tempat seperti ini!"
To be Continue
__ADS_1