Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 124


__ADS_3

"... Apakah Kakek menerima lamaran saya?" pinta Kevin dengan segenap kesungguhan hatinya.


Kakek yang menyimak kata-kata Kevin pun sejenak menatap ke arah Ayu, cucunya. Gadis yang baru dan tiba-tiba saja datang ke kediamannya dan mengatakan bahwa dia adalah anak dari putrinya. Menatap dari garis wajah yang begitu mirip memang sudah tak bisa dia ragukan lagi, bahkan dia sama sekali tak perlu untuk melakukan tes DNA.


Menatapnya sungguh dalam hati merasai perasaan bersalah. Bila saja di masa dulu dia dapat mengembalikan waktu maka anak keturunannya tak akan mengalami hidup dalam kesengsaraan. Kesengsaraan yang dimulai dari tak adanya restu.


Bertahun-tahun Prasetyo Nugroho seperti layaknya di hukum akan takdir dan tentu dirinya tak ingin kisah putri-putrinya terulang kembali pada keturunannya yang lain.


"Ayu, cucu Kakek. Apa kamu mau dan menerima niat baik Kevin untuk meminangmu. Menjadikannya sebagai pimpinan dan pengayom di masa depan kamu?" ucap Kakek yang justru mengulang permintaan lamaran dari Kevin. Dan hal itu dilakukannya karena semata keputusan terbaik dia serahkan langsung kepada cucunya.


Ayu mengangkat wajahnya membalas tatapan Kakek. Bahunya bergerak dengan mulut sedikit terbuka. Harusnya Kakek kan yang menjawabnya, batinnya.


Namun sorot mata Kakek mengharap satu keputusan berada di tangannya. Benar dia memiliki rasa cinta kepada Kevin, dan puncak dari keseriusan suatu hubungan asmara yaitu menikah. Untuk itu tanpa berfikir panjang lagi Ayu mengangguk menerima Kevin sebagai pendamping hidupnya.


Ucap syukur kini terdengar bersamaan di ruang keluarga kediaman Prasetyo Nugroho. Ayu dan Kevin merasakan rasa bahagia yang luar biasa, belum lagi saat Soraya berujar hingga membuat keduanya saling menatap pias.


"Bagaimana kalau setelah wisuda acara pernikahan di gelar?" ujar Soraya memberi usul.


Sontak Bramantyo menimpali. "Ide yang bagus. Gimana Ma?" ucapnya yang meminta pendapat pada istrinya.


Berdehem Cindy pun menyahuti ucapan suaminya. "Mama sih ikut yang terbaik saja Pa, buat Kevin. Asal putra kita bahagia," ujarnya setengah ragu dengan senyum memaksakan.

__ADS_1


"Tentu," sahut Bramantyo penuh keyakinan. "Kevin sendiri kan yang memilih calonnya. Juga mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Ditambah dengan doa restu dari kita semua, pasti anak kita akan bahagia."


Mendengar penuturan suaminya, Cindy pun mengangguk dan melirik ke arah Ayu. Dari pandangannya, dia menilai bahwa Ayu sangat biasa-biasa saja. Apalagi mengingat garis keturunan. Ya memang Ayu adalah keturunan dari Prasetyo Nugroho, tapi dia juga sedikit tahu dari cerita Soraya bahwa dulunya keberadaan Ayu dan adiknya tak diketahui oleh Kakeknya sebab Ibunya pernah minggat atau kata lainnya meninggalkan rumah. Dan dia bahkan sama sekali belum mengetahui siapa lagi garis keturunan calon menantunya itu.


Lama dengan isi pikiran yang berkecamuk, Cindy pun kini berujar, "Bukankah kalau menikah harus dengan wali yang sah. Maksud saya Ayah dari Ayu apa juga turut hadir nanti?"


Pertanyaan dari Cindy kali ini sungguh membuat Ayu begitu tersentak. Dia tak pernah berpikir sepanjang itu. Meski iya, dengan bersamaan dia mengingat surat wasiat yang ditulis oleh Ibunya, bahwa jika suatu saat Ayu menikah dia harus memakai seorang wali yang sah. Karena tentu bentuk dari doa dan restu dari orangtua yang masih hidup sangat diperlukan dalam kehidupan rumah tangganya yang akan dijalaninya kelak.


Ayu kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Cindy, apalagi karena Ayu tak kunjung bersuara kini Cindy berujar, "Ayah kamu masih ada kan?"


Udara nyaris hilang di sekitaran Ayu, untuk menggerakkan bibirnya saja rasanya begitu kelu. Tapi Ayu kini berusaha untuk mengangguk dan menggumamkan kata, "Masih." Tanpa mampu menatap lawan bicaranya.


"Kita bisa memakai wali hakim untuk pernikahan cucu saya nanti," ujar Kakek menimpali. Sebenarnya Kakek juga merasa geram saat disebutkan nama Ayah dari cucunya, tapi dirinya berusaha untuk menahan diri.


"Ma—," ucap Bramantyo berusaha menenangkan istrinya. Dia mulai paham sudah terjadi masalah disini, tangannya pun kini menggenggam tangan istrinya. Berusaha menahan istrinya agar tak lagi bersuara.


Namun Kevin kali ini cepat bersuara, "Biar Kevin dan Ayu nanti yang temui Ayahnya Ayu, Ma. Sekalian Kevin meminta doa dan restu."


Meski Kevin sudah berkata sedemikian, Ayu justru tak mampu lagi mengendalikan ketenangannya. Wajahnya mengeras menahan emosi yang bergumul di dadanya. Jelas dia benci dengan Ayahnya dan tak ingin lagi bertemu dengan sosok lelaki itu.


Tapi kenapa setelah pergi jauh dan masa depan yang sudah dia mulai untuk ditata justru harus menghadirkan Ayahnya kembali ke dalam hidupnya. Apa memang seberapa penting sosok wali dalam pernikahannya? Batinnya.

__ADS_1


Bahkan hingga makan malam dan saat keluarga dari Kevin berpamit, Ayu masih sibuk dengan pemikirannya.


"Aku pulang. Besok aku di rumah jemput dan antar kamu," ucap Kevin sebelum dirinya menyusul kedua orangtuanya yang sudah menuju dalam mobilnya.


Ayu yang tercenung lama pun sontak menggeleng. "Biasanya kan Bapak tunggu saya di Bandara," sahut Ayu menatap Kevin.


Kevin menahan senyumnya. Pura-pura memasang wajah kesal dan memincingkan matanya menatap Ayu. "Baru satu jam sudah lupa? Hubungan yang kita jalin secara sembunyi-sembunyi sudah usai. Jadi gak perlu lagi kita main kucing-kucingan di depan keluarga kita. Ingat itu," ucap Kevin yang tak kuasa untuk menepuk puncak kepala Ayu gemas.


"Dan selalu ingat kalau aku ini sudah jadi calon suamimu," ujar Kevin lagi yang kali ini mendaratkan kecupannya di kening Ayu.


"Hmmmmm?" gumam Kevin usai menarik diri dan menatap gadis di hadapannya. Alisnya mengernyit sebab tak kunjung mendapat sahutan dari Ayu.


Ayu pun mencoba maksakan senyum dan mengangguk memberi tanggapan. Dan lagi-lagi dirinya justru mendapat perlakuan dari Kevin yang mengelus kepalanya sayang.


"Kenapa cuma diam dari tadi? Hmmm? Lagi sariawan?" tanya Kevin yang sedikit menarik diri menatap Ayu, tapi belum sempat dirinya mengamati wajah kekasihnya justru suara klakson mobil sudah terdengar, sebagai kode panggilannya yang tak kunjung menyusul masuk menuju mobilnya.


"Iya Pa, tunggu!" teriak Kevin menanggapi sebagai jawaban.


Kevin melempar senyum ke arah Ayu. "Sudah malam, langsung masuk dan istirahat. Aku pulang," ujar Kevin yang berpamit sedangkan Ayu menanggapi dengan senyum tipis juga anggukan.


"Bye. Hati-hati jalan," ujar Ayu dengan suara nyaris terdengar gentar saat Kevin sudah melangkah pergi menjauh dari tempat berdirinya.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2