Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 25


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah ada perasaan sedikit menyesal sebab teringat dengan Zahra yang tadi waktu berangkat sempat menangisiku, bahkan aku membentak dirinya.


Kini aku pulang sendiri dengan mengendarai motor milik Pak Akram, tadinya aku meminta Sandy terlebih dahulu untuk mengambilnya. Dan beruntung setibanya di rumah hujan turun dengan derasnya.


Ibu sempat terkejut akan kedatanganku dengan mengendarai motor tapi setelah kujelaskan Ibu baru paham juga tersenyum penuh kelegaan seraya mengatakan bahwa diriku dikelilingi dengan orang-orang yang begitu baik juga peduli terhadapku.


Meski hidup dalam kondisi yang serba kurang tapi Allah masih mengirimkan uluran rizki lewat tangan kepercayaan-Nya, yaitu orang-orang disekitarku.


Ibu juga menasehatiku agar aku lebih bersyukur akan menjalani hidup ini. Karena setiap datangnya kesulitan bersamaan akan hadirnya kemudahan.


Ujian hidup memang berat, namun manusia dituntut tetap harus kuat dalam menjalaninya. Kemuliaan itu selalu di liputi dengan kesulitan dan hal-hal yang menyakitkan, dan kebahagiaan itu tidak bisa dicapai kecuali dengan menyeberangi jembatan kesulitan dan jaraknya tidak bisa ditempuh dengan jarak kecuali dengan perahu kesungguhan dan ketegaran.


Untuk itu Ibu mengatakan lagi agar diriku tetap rajin berusaha dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Menikmati waktu dan masa mudaku dengan sebaik mungkin sebab semua yang terjadi tak akan kembali lagi.


Dengan berupaya dan bersungguh-sungguh bisa jadi esok aku bisa menggapai harapan dan impianku. Hingga—keadaan hidup keluarga yang kami jalani menjadi lebih baik dari yang sekarang. Bahkan dalam kitab suci diterangkan bahwa, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka."


Dan sudah jelas di keluarga ini akulah harapan bagi Ibu dan juga Zahra. Sudah sepantasnya pula aku sadar diri sebab akulah pemegang peran penting, harapan mereka agar kehidupan yang kami jalani kelak mempunyai masa depan yang cerah.


"Zahra," panggilku seraya mendekat padanya, beruntung adikku yang kini sedang sibuk mencorat-coret buku dengan pensil menoleh, menanggapi panggilanku. Raut wajahnya nampak biasa justru kali ini dia tersenyum ke arahku. Kelegaan membanjiri hatiku, dia tak lagi marah atau takut akan hal sebelum aku pergi tadi.


Akupun turut bergabung dengannya, memperhatikan apa yang dia lakukan. Dia juga menunjuk ke arah coretan-coretan pensil bergambar abstrak untuk di perlihatkan padaku, akupun tersenyum menanggapi.


Tanganku pun mengelus belakang kepala Zahra, kemudian mataku mengedar menatap kesepenjuru ruang sempit kos-kosan tempat tinggal.


Dalam tekad aku berjanji, pasti suatu saat nanti roda akan berputar. Bila waktunya tiba aku akan membawa serta keluargaku keluar dari tempat ini berpindah pada tempat yang lebih layak dengan keadaan yang tentunya lebih baik pula.


"Ya aku pasti bisa," gumamku dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


***


Masa sekolah yang aku jalani penuh kehangatan, aku menemukan teman juga sahabat yang selalu memberi dukungan. Walau ada persaingan itu masih dalam hal yang wajar dalam berkompetisi untuk mengejar suatu prestasi.


Usai sudah ujian nasional yang kujalani. Detik-detik pengumuman kelulusanpun rasanya sungguh mendebarkan.


Sore ini kami para murid berkumpul di aula sekolah, menanti pengumuman tiba. Hingga tiba saatnya kata LULUS kami teriakan bersama.


Corat-coret seragam putih abu-abu hingga berkonfoi memutari kota menjadi hal yang begitu menyenangkan. Senyum dan tawa kami mengembang mewarnai hari kami yang baru saja dinyatakan lulus dari SMK.


Senandung masa remaja yang penuh warna dan dari sini aku menemukan teman, sahabat sekaligus cinta pertama.


Session pertama sudah berakhir yang setuju cerita Ayu berlanjut hingga dewasa, komen di bawah.....


Dalam perjalanan pulang ke rumah ada perasaan sedikit menyesal sebab teringat dengan Zahra yang tadi waktu berangkat sempat menangisiku, bahkan aku membentak dirinya.


Kini aku pulang sendiri dengan mengendarai motor milik Pak Akram, tadinya aku meminta Sandy terlebih dahulu untuk mengambilnya. Dan beruntung setibanya di rumah hujan turun dengan derasnya.


Ibu sempat terkejut akan kedatanganku dengan mengendarai motor tapi setelah kujelaskan Ibu baru paham juga tersenyum penuh kelegaan seraya mengatakan bahwa diriku dikelilingi dengan orang-orang yang begitu baik juga peduli terhadapku.


Meski hidup dalam kondisi yang serba kurang tapi Allah masih mengirimkan uluran rizki lewat tangan kepercayaan-Nya, yaitu orang-orang disekitarku.


Ibu juga menasehatiku agar aku lebih bersyukur akan menjalani hidup ini. Karena setiap datangnya kesulitan bersamaan akan hadirnya kemudahan.


Ujian hidup memang berat, namun manusia dituntut tetap harus kuat dalam menjalaninya. Kemuliaan itu selalu di liputi dengan kesulitan dan hal-hal yang menyakitkan, dan kebahagiaan itu tidak bisa dicapai kecuali dengan menyeberangi jembatan kesulitan dan jaraknya tidak bisa ditempuh dengan jarak kecuali dengan perahu kesungguhan dan ketegaran.


Untuk itu Ibu mengatakan lagi agar diriku tetap rajin berusaha dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Menikmati waktu dan masa mudaku dengan sebaik mungkin sebab semua yang terjadi tak akan kembali lagi.

__ADS_1


Dengan berupaya dan bersungguh-sungguh bisa jadi esok aku bisa menggapai harapan dan impianku. Hingga—keadaan hidup keluarga yang kami jalani menjadi lebih baik dari yang sekarang. Bahkan dalam kitab suci diterangkan bahwa, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka."


Dan sudah jelas di keluarga ini akulah harapan bagi Ibu dan juga Zahra. Sudah sepantasnya pula aku sadar diri sebab akulah pemegang peran penting, harapan mereka agar kehidupan yang kami jalani kelak mempunyai masa depan yang cerah.


"Zahra," panggilku seraya mendekat padanya, beruntung adikku yang kini sedang sibuk mencorat-coret buku dengan pensil menoleh, menanggapi panggilanku. Raut wajahnya nampak biasa justru kali ini dia tersenyum ke arahku. Kelegaan membanjiri hatiku, dia tak lagi marah atau takut akan hal sebelum aku pergi tadi.


Akupun turut bergabung dengannya, memperhatikan apa yang dia lakukan. Dia juga menunjuk ke arah coretan-coretan pensil bergambar abstrak untuk di perlihatkan padaku, akupun tersenyum menanggapi.


Tanganku pun mengelus belakang kepala Zahra, kemudian mataku mengedar menatap kesepenjuru ruang sempit kos-kosan tempat tinggal.


Dalam tekad aku berjanji, pasti suatu saat nanti roda akan berputar. Bila waktunya tiba aku akan membawa serta keluargaku keluar dari tempat ini berpindah pada tempat yang lebih layak dengan keadaan yang tentunya lebih baik pula.


"Ya aku pasti bisa," gumamku dengan penuh keyakinan.


***


Masa sekolah yang aku jalani penuh kehangatan, aku menemukan teman juga sahabat yang selalu memberi dukungan. Walau ada persaingan itu masih dalam hal yang wajar dalam berkompetisi untuk mengejar suatu prestasi.


Usai sudah ujian nasional yang kujalani. Detik-detik pengumuman kelulusanpun rasanya sungguh mendebarkan.


Sore ini kami para murid berkumpul di aula sekolah, menanti pengumuman tiba. Hingga tiba saatnya kata LULUS kami teriakan bersama.


Corat-coret seragam putih abu-abu hingga berkonfoi memutari kota menjadi hal yang begitu menyenangkan. Senyum dan tawa kami mengembang mewarnai hari kami yang baru saja dinyatakan lulus dari SMK.


Senandung masa remaja yang penuh warna dan dari sini aku menemukan teman, sahabat sekaligus cinta pertama.


Session pertama sudah berakhir yang setuju cerita Ayu berlanjut hingga dewasa, komen di bawah.....

__ADS_1


__ADS_2