
"Tunggu!"
"Apalagi?" ucap Rico sebab aku menghentikan langkahnya.
Aku berdecak. "Aku mau membenahi dandananku dulu, masak mau ketemu dengan bagian HRD muka cemong begini," ucapku beralih mengambil bedak yang menyelip dalam saku tasku.
"Cepetan, nanti keburu telat," sahut Rico dan aku segera menepi pada sisi kaca lobby.
Aku pun mulai menyapukan bedak beberapa kali pada pipiku dan memastikan tampilanku agar terlihat lebih baik. Untuk sentuhan terakhir aku mengambil lipstik memoleskannya pada bibirku, kemudian mencecap kedua belah bibirku agar sapuan lisptikku merata.
Namun tiba-tiba aku tersentak kala kaca di hadapanku yang tadinya berwarna hitam kini nampak terang sebab tirainya tengah dibuka, menampilkan sosok lelaki yang juga tengah menatapku.
Aku terbengong dengan tak sengaja lipstik yang kupegangi meluncur ke dasar lantai. Mataku berkedip sulit kupercaya, apa yang telah kulakukan? batinku bertanya.
Sadar aku telah jadi tontonan orang di hadapanku, aku pun segera memutar langkah. Berjalan cepat dengan mengapit lengan Rico kemudian menyeretnya pergi dari tempat ini sejauh mungkin.
Aku tak memperdulikan Rico yang terus saja mengomeliku, karena yang ada dalam benakku kini malu dan malu.
"Apaan sih, kayak habis lihat setan!" ucap Rico dan aku melepas cekalan lenganku.
"Lebih dari setan," sahutku dengan berusaha menormalkan napasku yang terasa ngos-ngosan.
"Apa, setan? Dimana?" ucapnya bingung dengan menoleh ke arah sekitar.
__ADS_1
Aku mendesah. "Sudahlah, ayok jalan!" ucapku menarik lengannya lagi.
Berjalan menyusuri lobby aku berusaha menormalkan degup jantungku. Yang kulihat tadi entah siapa aku tak tahu, dia amat tampan menurut penilaianku namun lelaki tadi hanya menatapku tanpa ekspresi.
Dan kupikir mungkin dia hanyalah seorang pelanggan hotel disini, batinku.
Tiba di ruang HRD kulihat sudah ada Pak Erwin yang telah hadir lebih dulu. Kata seorang pegawai yang kami tanyai, kami di haruskan untuk menunggu terlebih dahulu sebab di dalam ruangan ada karyawan yang tengah ada keperluan.
Aku melirik sekilas ke arah pintu HRD sebelum mengambil duduk di samping Rico. Namun tak lama pintu itu terbuka membuatku sedikit tersentak sebab yang tengah kulihat adalah sosok yang sangat kukenal, Pak Akram.
"Akram."
"Pak Erwin. Anda kemari?" sahut Pak Akram menyambut uluran tangan Pak Erwin, mereka berdua saling berjabat tangan dengan aku dan Rico yang kemudian mendekat. Sejenak mereka saling mengobrol.
"Lama gak bertemu kamu Co," ucap Pak Akram yang berlanjut berpelukan dengan Rico, mereka berdua dulu memang saling akrab. Bahkan saking Akrabnya pernah kudengar Pak Akram kerap menginap di rumah orangtua Rico saat masih tinggal di Solo. Meski terpaut usia beberapa tahun tak menghalangi untuk bisa bersahabat.
Dan kali ini Pak Akram menatapku dengan kembali tersenyum. Dia mendekat dengan aku yang masih berdiri terpaku di tempat dengan dia yang kian melangkah mendekat kemudian berhenti tepat di hadapanku. Tangannya pun terulur lalu mengacak rambutku. "Sampai juga kamu disini," ucapnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kepalaku mengangguk dibarengi dengan air mataku yang menetes.
Tangan Pak Akram kali ini bergerak menepuk pundakku. "Tinggal sebentar lagi cita-cita kamu akan terwujud," ucapnya yang membuatku kembali menganggukan kepala.
"Gak usah menangis yang ada bedak kamu kembali luntur," celetuk Rico mengingatkan dengan menyenggol lenganku.
__ADS_1
Akupun memberengut atas ucapannya, namun dengan segera aku menormalkan suaraku dengan berdehem kemudian berkata meski disertai dengan rasa gugup. "Pak Akram sudah lama tidak bertemu."
"Iya, dan nampaknya kamu sudah banyak perubahan," sahut Pak Akram yang menatap penampilanku.
Apanya yang berubah, batinku. Karena rasanya sama saja, aku tetap begini-begini saja.
"Ya jelas lah Kram, bedanya sekarang si Ayu kan jadi sering hobi dandan padahal dulu saja polosan. Tuh bedak saja sampai dibawa kemana-mana," sahut Rico menunjuk ke arah saku tasku yang ternyata terdapat tempat bedak yang menyembul.
Sontak saja aku mencubit lengan Rico dengan kerasnya sebab rasanya aku telah dipermalukan olehnya di depan Pak Akram.
"Sakit woy!" protes Rico mengusap lengannya.
Kulihat Pak Akram terkekeh atas ulah kami barusan dan dia berkata, "Pantas saja terlihat lebih cantik."
Rasanya aliran darahku merangkak naik ke pipiku. Pipiku kini rasanya memanas, apa mungkin sudah seperti kepiting rebus. Tapi entahlah. Sekuat tenaga aku berusaha bersikap normal, tak mungkin di tempat ini aku bersorak sebab dapat pujian dari Pak Akram.
Namun tak ubahnya Rico, dia kali ini malah menertawakanku.
"Ya sudah kalau begitu saya mau kembali ke tempat kerja. Mungkin kalian sebentar lagi yang akan masuk ke dalam dan mendapat arahan akan di tempatkan di departemen bagian mana," ucap Pak Akram yang mulai berpamitan.
Aku dan Rico pun mengangguk paham sebelum akhirnya Pak Akram beranjak pergi lebih dulu. Sementara Pak Erwin memang sudah berada di dalam ruangan HRD beberapa menit yang lalu.
To Be Continue
__ADS_1