Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 90


__ADS_3

"Sudah pulang?"


Ayu terkejut sebab ada suara bersamaan dengan Kevin yang tiba-tiba muncul dari pintu kamarnya yang memang sengaja dia buka.


"Sudah Pak. Saya datang kesini untuk berkemas dan mengambil barang," sahut Ayu memasukkan beberapa barang yang tinggal sedikit ke dalam tas jinjingnya.


Kening Kevin mengernyit. Melangkah lebih masuk ke dalam ruang kamar apartemen yang di tempati Ayu semalam. "Memang kamu sudah bertemu dengan keluargamu?"


Ayu tersenyum simpul, kemudian mengangguk.


"Mereka menerimamu?"


"Iya, meski— saya harus berusaha lagi untuk mengambil hati Kakek," sahut Ayu yang lagi-lagi tersenyum.


Kevin menghela. Senyum yang dia lihat dari bibir gadis di hadapannya nampak lebih natural, tak seperti kemarin yang terkesan dipaksakan. Mungkin beban dalam diri Ayu telah berkurang, batin Kevin.


Tangan Kevin terulur menyentuh puncak kepala Ayu. "Jangan sungkan untuk meminta tolong lagi padaku."


"Maaf sudah merepotkan Bapak," sahut Ayu cepat.


Kevin menggeleng. "Bertemu denganmu, aku justru mendapatkan pelajaran hidup," sahut Kevin dengan bahasa tak lagi formal.


Kening Ayu mengernyit tak paham.


Kevin pun makin menarik sudut bibirnya, senyumnya makin terlihat begitu kentara. "Aku akan mencoba untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih manusiawi."


Ayu pun tersenyum menganggapi. "Selamat mencoba."


Namun Kevin berdecak usai menarik tangannya yang sekarang dia justru dimasukkannya ke dalam saku celana bahannya. "Tapi bukankah itu sulit?" kata Kevin berasumsi.


Ayu pun mendengus, memutar tubuhnya kembali menyelesaikan pekerjaannya mengemas pakaian.


"Belum mencoba sudah pesimis. Tapi terserah lah, itu kan pilihan hidup Bapak," sahut Ayu bersamaan dengan selesainya berkemas.


Dia pun menurunkan tasnya dari atas ranjang. Merapikan sebentar kamarnya yang tentu saja ditunggui oleh Kevin, setelahnya dia pun berpamit. "Terimakasih atas kebaikan Bapak, semoga Tuhan membalas dengan yang lebih baik," ucap Ayu tulus.

__ADS_1


Kevin terdiam masih tercenung akan kata terserah dari Ayu. Memang ini adalah hidupnya maka dia pula yang harus memilih. "Tapi apa kamu yakin saya bisa berubah?" ucap Kevin yang justru menanyakan isi pikirannya.


Ayu menghela. "Asalkan matahari masih terbit dari timur, itu artinya Bapak masih memiliki kesempatan."


"Tapi—"


Ayu seketika menyela, "Kalau Bapak terus berkata tapi—tapi dan tapi, itu artinya Bapak gak ada niat. Meski Bapak bilang mau berubah seribu kali pun, kata tapi yang terus Bapak ucapkan tadi adalah upaya Bapak untuk menyangkal. Dan jelas saya gak bisa memasang ekspektasi tinggi kalau Bapak mampu berubah walau sampai matahari terbit dari barat. Mustahil!"


Menghela napas sejenak dan jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam Ayu pun berujar, "Kalau begitu saya pamit Pak. Tadi saya bilang sama orang rumah bahwa hanya ijin sebentar."


"Biar saya antar," sahut Kevin yang justru mengambil alih barang bawaan Ayu, kemudian berjalan mendahului.


Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman milik Kakeknya Ayu, Kevin tak menyadari bahwa rumah yang akan dituju juga merupakan tempat tinggal dari saudaranya.


Entah, kata-kata Ayu masih saja terngiang. Meninggalkan kenikmatan dunia apalagi wanita-wanita yang senantiasa dengan suka rela memberinya kepuasan, membuatnya serta merta geleng kepala.


"Lalu apa menurut kamu solusi agar aku bisa melampiaskan hasratku? Sementara aku sudah ingin berubah."


Pertanyaan macam apa? Bibir Ayu seketika terbuka menoleh menatap Kevin dengan pandangan— menjengkelkan. Rasanya bila dia tak mengingat kalau orang yang duduk di sampingnya adalah Bosnya, sudah dipastikan Ayu akan menggetok kepala Kevin. Tanpa ampun, sebab yang di ke depankan lelaki ini adalah hawa nafsu.


Ayu berdecak, tapi dalam hati jelas mengumpat. Berganti mendengus Ayu pun berujar, "Orang yang telah dewasa di anjurkan untuk menikah Bapak!"


"Menikah?"


"Hmmm. Memang Bapak gak punya impian untuk menikah?"


Belum mendapat respon dari Kevin, Ayu pun melirik. "Atau jangan-jangan Bapak tak berkeinginan untuk menikah?" tanya Ayu asal tebak.


Kevin menaikan sudut bibirnya. "Dulunya ada, bahkan ada satu perempuan yang hendak aku pilih, sebab aku tahu bagaimana wataknya dan aku memahami cara menyikapinya. Tapi sayang dia justru saudara kandungku sendiri."


Entah harus tertawa atau merasa ini hal yang gila. Bagaimana bisa memiliki rasa pada saudaranya sendiri, bahkan itu diistilahkan dengan kata inses. Ayu pun kian memandang horor Kevin.


"Bagaimana bisa?" tanya Ayu sulit dipercaya.


"Entahlah, kupikir nyaman saja saat aku sharing dan bersama dengannya bila dibanding dengan satu saudara kandungku yang lain. Dia lebih mudah diatur, penurut dan yang pasti sosok perempuan manja. Tahu sendiri kan bagaimana dengan sifat dasar seorang perempuan yang kebanyakan punya sifat pembangkang, aku tak suka dengan perempuan yang susah diatur," jelas Kevin yang membuat Ayu makin dibuat bergidik.

__ADS_1


"Selain wanita lain apa Bapak belum pernah menjalin hubungan yang serius. Misalkan salah satu teman sekolah Bapak, teman kencan atau teman wanita yang maaf, sering Bapak ajak tidur barang kali?"


Kevin menggeleng. "Kesemuanya adalah teman bersenang-senang, gak ada yang serius," tegas Kevin.


"Baru kali ini saya bertemu dengan orang aneh macam Bapak," sahut Ayu layaknya menggerutu. "Saya tak habis fikir saja dengan jalan hidup Bapak, lalu— apa tujuan hidup Bapak?"


Lama Kevin berfikir tapi dia justru tersenyum hambar. "Aku ingin menjadi sosok Bramantyo. Tapi aku kecewa setelah tahu dia bukan Papa kandungku melainkan adik dari Papa kandungku."


"Lalu apa masalahnya? Apa karena kekecewaan itu Bapak tak lagi ingin menjadi sosok yang Bapak panuti. Karena apa?"


"Jelas karena malu karena aku bukanlah anaknya!" ucap Kevin dengan suara meninggi.


"Tapi bukankah Bapak tidak berfikir bahwa Bapak Bramantyo akan merasa malu jika saja melihat kelakuan Bapak!" tegas Ayu dengan suara tak kalah tinggi dari Kevin.


Alhasil yang terjadi kaki Kevin menekan pedal remnya secara spontan, hingga mobil terhenti pada bahu jalan, karena sempat Kevin banting stir ke arah kiri.


Hal itu jelas membuat Ayu terkejut, jantungnya seakan terloncat dari tempatnya. Hampir saja kepalanya terantuk dengan bagian depan mobil tapi terhalang oleh sabuk pengaman yang terikat kencang di tubuhnya.


"Kenapa aku tak berfikir sejauh itu. Arrrggggg!" teriak Kevin layaknya frustasi.


"Pasti Papa sekarang yang lebih kecewa terhadapku," gumam Kevin menghantuk-hantukan belakang kepalanya pada sandaran jok mobil. Matanya terpejam layaknya frustasi.


Ayu yang masih menormalkan detak jantungnya berusaha menguasai diri. Dan ketika tangan Kevin hendak dilayangkan untuk memukuli kepalanya guna merutuki kebodohannya, Ayu dengan gerak sigap mencekalnya.


"Memukuli diri sendiri adalah tindakan yang bodoh. Hentikan Pak!" kata Ayu yang masih berusaha menarik tangan Kevin.


"Dan sudah banyak kesalahan yang kulakukan. Aku tak berfikir jauh dan hanya melakukan tindakan itu atas dasar rasa pelampiasan. Dan yang jelas makin mempertegas bahwa aku adalah keturunan dari Hary Wijaya si pelaku maksiat," ucap Kevin dengan mata mengisyaratkan kepedihan.


"Pak Kevin!" tegas Ayu. "Seperti yang saya bilang tadi, selagi esok matahari terbit dari timur dan Bapak bangun dalam keadaan bernapas itu artinya Bapak masih memiliki kesempatan," ujar Ayu memberi segenap kepercayaan pada Kevin.


"Ayu yakin pasti Bapak bisa!" tegas Ayu sekali lagi.


"Lalu—"


"Lalu kenapa lagi? Asal Bapak punya keyakinan besar dan tekad kuat, pasti—

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak dari dulu aku bertemu denganmu?" ujar Kevin memotong cepat ucapan Ayu.


__ADS_2