
"Itu tempat yang gak bener! Aku gak setuju kalau kamu ada disitu. Lalu ini pakaian apa yang kamu kenakan?" Rico mendengus tertahan, menahan emosinya kala menatapku perpakaian tak seperti biasa.
Bibirku menipis dengan sorot mata meredup. "Aku udah gak punya pilihan lain."
Rico berjalan lurus ke arahku, tangannya kuat mencengkeram kedua bahuku. "Kamu bisa mengatakannya padaku."
Aku tersenyum getir memalingkan wajahku ke arah lain. Dulu aku sempat mengagumi akan kebaikannya, hingga memunculkan perasaan yang sedikit aneh bila kami bertatap muka. Tapi sekarang mengakui kekaguman itu saja, aku sepertinya tak layak.
"Aku terlalu banyak merepotkanmu," sahutku menepis tangannya.
Rico membuang napasnya kasar dan meraup wajahnya, seperti layaknya frustasi akan tanggapanku. "Aku ngrasa gak direpotkan!" tegasnya.
"Itu tetep aja Co. Kamu selalu saja nolongin aku, bahkan aku sampai gak tahu bagaimana caranya aku untuk bisa balas kebaikan kamu. Aku malu Co, malu bukan cuma pada kamu tapi juga pada diriku sendiri."
__ADS_1
"Lalu kamu akan tambah mempermalukan dirimu sendiri!" sela Rico membentakku yang jelas membuatku sulit untuk berdiri tegap. Bukan karena suara bentakannya melainkan isi ucapannya.
"Tempat yang akan kamu datangi adalah tempat maksiat. Dengan hanya kamu masuk kesana, kemungkinan kamu keluar dari tempat itu aku tak akan bisa jamin kamu akan tetap baik-baik saja." Arah pandang matanya pun kemudian menyoroti penampilanku dari atas hingga bawah. "Lalu, kamu berpakaian seperti itu?" sambungnya dengan menuding jari telunjuk pada pakaian minimku.
"Berapa banyak mata lelaki yang akan dengan senang hati menikmatimu sebab kamu mempertontonkan tubuhmu di depan mereka dengan hanya cuma-cuma. Kamu tak akan pernah mengerti bagaimana kaum kami berusaha menekan sisi liar walau sang wanita di hadapannya memakai karung sekalipun untuk menutupi tubuhnya. Lalu kamu? Ingin diperlakukan apa oleh mereka!"
Rendah, aku sungguh berada pada posisi paling rendah. Kepalaku menunduk dalam dengan menahan dadaku yang terasa begitu sesak. Langkahku telah buntu, dan ketika ada jalan— terbuka sedikit untukku keluar dari kepayahan, justru aku semakin dihadapkan pada pilihan yang membuatku dilema.
Dia bergerak menuntunku menuju pada sepeda motornya sebab sekarang kami tengah berada di dekat sebuah Bar. Baru kemarin Mbak Vina mengantarkanku kesini menemui pemilik Bar, memintakan pekerjaan untukku.
Dan kali ini aku segera mencekal lengan Rico. "Aku ada kesepakatan dengan tempat ini, kemarin aku telah menandatangani kontrak kerja."
Rico membalikkan badannya. Menatapku dengan tatapan mata penuh amarah. "Apa kamu sudah kehilangan pikiranmu. Dimana Ayu yang kukenal. Itu tempat maksiat!" ucap Rico menekankan kalimatnya. Dadanya naik turun, emosi tak terelakkan terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
"Kamu tahu tak ada sekali pun tempat maksiat yang mengasilkan uang halal?"
"Jangan sok suci!" suara itu, entah dari mana Mbak Vina muncul. Dia segera menarik lenganku agar berdiri bersebelahan dengannya.
Rico menatap Mbak Vina tak percaya. Memang dia tak pernah tahu dengan pekerjaan Mbak Vina yang sebenarnya. Mbak Vina begitu rapi menyembunyikan jati dirinya, dia akan keluar rumah dengan memakai pakai rapi dan tertutup untuk membungkus pakaian minim di dalamnya.
"Hidup itu realistis. Yang dilakukan Ayu bukan berdasarkan pada keinginan, melainkan dia butuh. Butuh penghasilan lebih untuk menopang hidupnya. Kalau kamu mau mencegahnya untuk tetap berdiri disini, harusnya kamu lebih dulu memberinya solusi," ucap Mbak Vina bersidekap dada menatap Rico.
"Atau mungkin jangan-jangan kamu bersedia dan punya niatan untuk menampung dan menopang kehidupan Ayu dan adiknya?" ucap Mbak Vina tersenyum miring ke arah Rico.
Sedangkan aku dan juga Rico dibuat terkejut oleh kata-kata yang Mbak Vina ucapkan tadi.
Apa yang akan terjadi pemirsa, komen banyak-banyak, siapa yang rindu Kevin dan Akram
__ADS_1