Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 59


__ADS_3

Aku masih ingat tatapan tak suka yang dilayangkan oleh Pak Kevin. Dia menyebutkan kalau mobil yang telah dikotori oleh Mbak Vina adalah miliknya. Dan ketika Pak Akram mengatakan besoknya akan diserahkan pada pihak showroom untuk dibersihkan, Pak Kevin justru menunjukku agar aku yang bertanggungjawab atas kebersihan mobil miliknya.


Hal itu sepanjang malam terus saja terfikirkan olehku hingga menyebabkanku kesulitan tidur, padahal paginya segala rutinitas telah menunggu. Lingkaran hitam di mataku adalah buktinya. Alarm yang telah kusetel sebagaimana biasanya telah berdering. Dengan langkah gontai yang tentu saja kupaksakan aku bergegas menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahku, berharap rasa kantukku segera lenyap.


Usai keluar dari kamar mandi segera aku menghampiri Zahra yang masih bergelung di dalam selimut. Semalam setelah aku sampai kamar kos aku mengambil Zahra dari tempat Mbak Astri dalam kondisi dia yang masih berjaga. Saat aku tanya, adikku mengatakan belum tidur karena menungguiku.


"Zahra, bangun yuk. Sudah pagi. Sekolah," kataku sembari menarik selimutnya. Tapi dia sepertinya enggan untuk terbangun, tangannya mencengkeram kuat selimut yang setelah menutupi tubuhnya.


"Gak mau sekolah," tolaknya dengan suara meninggi.


Aku mencoba untuk menunggunya, berusaha bersabar sedikit menghadapi penolakan Zahra. Telah beberapa hari dia begini, tak ingin sekolah dengan alasan dia takut. Padahal baru hitungan hari aku telah menemui gurunya, meminta agar Zahra diberi pengawasan lebih.


"Bangun yuk, kan Mbak kemarin sudah ke sekolah Zahra. Mbak sudah bilang sama Bu guru biar Zahra dan teman-teman nanti diawasi Gak bakal gangguin Zahra lagi," ucapku berusaha membujuk.

__ADS_1


"Gak!" teriak Zahra menolak.


Sedang aku yang tak lagi bisa bersabar justru malah hilang kendali dan membentaknya. "Zahra! Mbak sudah gak punya banyak waktu buat bujuk kamu. Mbak juga masih punya urusan. Jadi mengertilah," ujarku dengan kata melemah di akhir kalimat.


Kali ini bukan hanya Zahra yang menangis melainkan aku juga malakukan hal yang sama. Rasanya aku begitu merasakan lelah yang amat luar biasa. Bukan cuma tubuhku tapi hati dan pikiranku. Semuanya. Tubuhku pun meluruh, duduk berjongkok di samping Zahra yang menangis menangkup menyembunyikan wajahnya. Bila begini dia akan sulit untuk ditenangkan.


Apa yang terjadi pada pagi ini malah mengakibatkan Mbak Vina terusik. Dia terbangun dengan suara menggerutu, "Aissssttt... Berisik banget sih pagi-pagi begini!"


Sontak aku seketika menghentikan tangisku, dan kulihat Mbak Vina mulai beranjak dari pembaringannya, meringis sembari memegangi kepalanya. "Kenapa sih sama kalian berdua," ucapnya menatapku dan Zahra.


"Biarin aja, dia lagi tantrum," ucap Mbak Vina membuatku terpaksa menghentikan bujukanku pada Zahra.


Aku mendesah lelah. Memang beginilah kondisi adikku, bila dalam kondisi begini aku layaknya seorang kakak yang tak becus dalam menjaga adiknya. Tingkat kesabaran yang kumiliki tiadanya seujung kuku. Apalagi ketulusanku, patut dipertanyakan sebab aku selalu selalu mengeluh dan merasa dengan apa yang tengah aku hadapi begitu berat.

__ADS_1


"Kalau mau siap-siap buat berangkat kerja, udah sana! Biar Zahra aku yang urusin," ujar Mbak Vina yang membuatku menatap Zahra.


"Tapi bentar, aku dulu yang pakai kamar mandi!" ucapnya lagi yang bergegas buru-buru bangkit dari ranjang. Usai Mbak Vina masuk dalam toilet terdengar dirinya yang muntah-muntah.


Aku pun kini pasrah karena jam sudah menunjukkan pukul enam pagi lebih. Tawaran Mbak Vina pun kuterima. Setelah Mbak Vina keluar dari kamar mandi berganti denganku yang bersiap.


Tiga puluh menit kemudian saat aku telah selesai bersiap hendak berangkat kerja, Mbak Vina memanggilku dan dari mimik wajahnya aku merasa apa yang akan dia sampaikan adalah hal penting.


"Semalam apa yang terjadi di Bar?"


Aku sesaat terdiam, tapi Mbak Vina segera berujar lagi. "Sepertinya aku dan kamu ada masalah besar. Pemilik Bar sore nanti ingin kita ada disana."


Mbak Vina menunjukkan isi pesan yang dikirim oleh salah satu pengelola Bar dan disana juga terdapat foto-foto bukti kejadian semalam. Tubuhku seketika menegang, rasa takut serta merta menjalar ke sekujur tubuhku. Aku menghadapi masalah baru, sepertinya Tuhan memang belum berhenti dalam mengujiku, batinku yang kian begitu nelangsa.

__ADS_1


Mbak Vina pun menarik ponselnya. Tak ada ekspresinya yang berubah hingga dia berujar, "Kita hadapi berdua."


To be Continue


__ADS_2