Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 109


__ADS_3

Ayu cepat-cepat mengangkat ponselnya saat muncul dering ponsel dalam genggamannya. Secepat kilat mata Ayu menjurus pada layar ponsel dan melihat nama yang tertera disana, justru harapannya sirna. Bukan Kevin yang menelpon melainkan sepupu iparnya, Soraya.


Berdehem. Ayu pun segera mengangkat panggilan. "Ya Mbak? Hallo."


"Hallo Ayu. Bagaimana kabar kamu? Oh ya Mbak mau ngasih kabar sekalian undangan untuk dua minggu depan. Kamu sudah dengar kabar kan sepupu Mbak, Angel akan melangsungkan pernikahan. Keluarga Mbak khusus undang kamu. Kamu pulang ya, ajuin cuti lebih awal."


Dahi Ayu berkerut, mengingat-ingat sepupu dari Soraya?


"Gimana? Bisa kan? Dia kerabat dekat dari Mbak. Adiknya Kevin," jelas Soraya.


"Oh... " Sahut Ayu lirih mulai paham. "Iya Mbak, akan Ayu usahakan untuk pulang."


"Sudah hampir malam, kamu segera istirahat ya dan selamat ulangtahun. Nanti setelah pulang kita rayakan sama-sama. Jaga diri baik-baik disana dan Mbak tutup telponnya, sampai jumpa," ucap Soraya dan setelah Ayu menyahuti dengan bergumam sambungan telpon terputus.


Mencampakkan ponsel di samping tempatnya duduk, pandangan Ayu teralih pada jendela. Menatap kosong, hingga malam semakin beranjak tapi dia membiarkan ruangannya tetap gelap.


Beberapa jam lagi sudah di pastikan hari akan berganti usai jarum jam melewati angka dua belas. Bersamaan dengan itu rasa kecewa merayapi dadanya.

__ADS_1


Berharap pada ucapan orang lain yang terang-terangan mengatakannya secara langsung nyatanya lebih sakit, ketimbang menyimpan perasaannya sendiri terhadap orang lain.


Ayu terbangun dalam keadaan linglung. Sinar matahari telah menerobos masuk dari jendela dengan tirai yang semalaman tak ditutup. Hingga detik berlalu Ayu baru sadar kalau dia tak beranjak dari tempatnya sedikit pun, masih berada di sofa. Bahkan dia tak tahu kapan tepatnya matanya terpejam. Dan saat menarik ponsel yang tak jauh dari tempatnya waktu telah menunjukkan pukul enam pagi.


"Pak Kevin gak datang?" gumam Ayu penuh kekecewaan.


Rasanya dia ingin menangis dan dengan masih menggenggam erat ponselnya, jari Ayu bergerak mencari kontak milik Kevin. Tanpa berfikir lagi Ayu mendial nomor itu, hingga tak lama sambungan telpon mulai terhubung.


"Bapak bohong. Katanya mau datang?" kata Ayu dengan dada naik turun menahan luapan emosinya.


"Aku sudah datang."


"Semalam," sahut Kevin dengan suara lirih.


"Tapi Bapak kenapa gak ketuk pintu. Pencet bel atau menggebrak pintu seperti yang biasa Bapak lakukan," ucap Ayu berujar tak sabaran.


"Kamu menungguku?" sahut Kevin menyela.

__ADS_1


Menelan salivanya berulangkali. Ayu berusaha mengendalikan diri dan menahan kata-katanya agar tak terdengar seperti orang yang tak sabaran. Tapi tetap saja percuma, sulit dia menyembunyikan debaran-debaran di dalam dadanya yang serasa ingin mendobrak. "Bapak dimana?" ucap Ayu pada akhirnya.


"Keluar lah."


Serta merta kepala Ayu menoleh ke arah pintu. Langkahnya berusaha dipercepat dengan masih menggenggam erat ponsel dan menempelkan di telinga. Sambungan telpon itu masih berlangsung, tentu saja Kevin yang berada di seberang sana mendengar derap langkah kaki Ayu.


"Bapak dimana? Gak ada?" ucap Ayu saat pintu sudah terbuka lebar. Kepalanya bergerak gelisah mencari keberadaan Kevin.


"Di handle pintu. Aku taruh hadiahmu disana," kata Kevin menyahuti.


Ketika Ayu memutar tubuhnya dan memang mendapati ada beberapa bungkusan tergantung disana. Tapi bukan itu yang Ayu mau melainkan kehadiran Kevin.


"Aku sudah menepati janjiku. Selamat ulang tahun."


"Tapi Bapak gak datang? Bagaimana bisa Bapak bilang sudah menepati janji? Bahkan Bapak sendiri yang bilang akan merayakannya bersama."


"Baru dua bulan. Rasanya aku belum pantas berdiri di hadapanmu... " kata-kata itu yang Ayu dengar sesaat setelah dirinya memilih menjauhkan ponselnya dari telinga dan tak ingin lagi mendengar apa-apa lagi yang akan Kevin ucapkan.

__ADS_1


Tertohok. Iya dua bulan tapi rasanya Ayu seperti tengah memaksa. Rasanya dia ingin mengabaikan waktu yang baginya cukup lama itu. Kemudian mengabaikan logikanya dan menjadi wanita munafik, menyerahkan diri pada Kevin yang terlanjur telah membuatnya jatuh...


To be Continue


__ADS_2