Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 42


__ADS_3

Dua hari yang kumiliki hanya untuk mengurung diri di kamar tanpa keluar. Pagi dan malam Rico yang selalu membawakanku makanan, meletakkannya di depan pintu bersamaan dirinya yang mengirimiku pesan mengingatkan agar aku memakannya dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan.


Sekarang pun aku telah bersiap untuk berangkat bekerja. Rico telah menunggu seperti biasa di atas motornya, tanpa banyak bicara dia menyodorkan helm kemudian melajukan motor kala aku telah siap duduk di jok belakang.


Tak banyak kata sampai kami tiba di kawasan hotel. Berpisah menuju ke tempat masing-masing. Dengan langkah menunduk melewati lorong kamar tamu, keningku terasa tertahan akibat sesuatu. Membuatku seketika tersentak dan mendongak, menatap orang yang amat kukenal mengenakan setelan jas yang berbalut pas di tubuhnya. Pak Akram.


"Jalan itu pake mata."


"Yang benar pake kaki, Pak."


Sahutku yang datar nyatanya memancing tawa Pak Akram yang nyaris tanpa suara. Meski begitu dirinya tetap berdehem menormalkan suara.


"Apa yang kamu lihat sampai fokus menatap ke bawah?"


"Atau barang kali kamu berharap ada uang terjatuh," ucapnya yang menimpali pertanyaannya sendiri, namun aku tetap tersenyum menanggapi.


Fokus mataku kali ini terhenti pada name tag yang dia pakai, tertulis jelas jabatannya adalah sebagai wakil manager. Sontak aku memundurkan langkahku, tak seharusnya aku bersikap sok akrab dengan atasanku saat berada di lingkungan kerja.

__ADS_1


Aku juga membungkukkan badanku sebagai tanda hormat padanya, seperti halnya ketika bertemu dengan atasan yang memiliki pangkat tertinggi di hotel ini.


Pak Akram tersenyum tipis. "Biasa saja, jangan berlebihan," ucapnya menepuk pundakku.


"Tidak, Bapak tetap atasan saya," ucapku menimpali.


Terdengar helaan napasnya. "Oke. Tapi kalau di luar area kerja bersikaplah biasa," ucapnya yang lagi menampilkan senyum yang masih menawan layaknya dulu. "Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu, semangat Ayu!"


Lagi-lagi senyumku terbit menanggapinya, sedang dirinya melanjutkan langkah yang tentunya berjalan berlawanan arah dengan tempatku bekerja.


Bagai pungguk yang merindukan bulan. Apalagi Cinderella bertemu dengan pangeran. Tidak-tidak, aku kembali menepisnya.


Berjalan dengan langkah yang semakin gontai tak lagi fokus hingga kembali keningku menabrak sesuatu, begitu keras. Hampir saja aku terjatuh tapi ada lengan yang menarik pinggangku merapat pada tubuhnya.


Dan ketika aku mendongak mulutku seketika terbuka tak lama terkatup kembali setelah aku menarik diri, berdiri mengambil jarak dan berkata, "Maaf."


Sengaja aku berkata demikian agar tak timbul masalah yang kian besar. Dia adalah lelaki yang pernah menabrakku dulu, aku berharap lagi dia tak mengenaliku agar dia tak memperpanjang permasalahan. Sudah cukup urusan pribadiku yang ruwet jangan ditambah dengan masalah pekerjaan, batinku.

__ADS_1


Tapi saat aku bergerak memberinya akses jalan mempersilahkan agar dia lebih dulu angkat kaki, dirinya malah tetap berdiri di tempat.


"Kamu masih mengenalku?"


Aku memalingkan wajahku menatap ke arah lain terlebih dulu sebelum menjawab. Mau bilang tidak dia terlanjur bertanya, sudah dipastikan kalau aku tetap nekat mengatakan tidak dia akan mencerca. Pada akhirnya aku memilih mengangguk.


"Bapak yang dulu menabrak saya," ucapku tiada basa-basinya dan terkesan datar, malas. Kuharap sih setelah ini dia bungkam, mengangguk lalu berlalu pergi.


Namun kenyataannya tidak, dia justru lebih mendekat membuatku sedikit waspada dan bertanya, "Bagaimana dengan kakimu, sudah—"


"Sudah sangat baik Pak, bahkan untuk berlari saja bisa," ucapku cepat memotong kalimatnya. Kupikir karena Bapak-bapak di hadapanku hanya berbasa-basi aku pun berucap undur diri. "Maaf Bapak, kalau misalkan perlu layanan hotel bisa hubungi petugas yang berada di lantai tempat Bapak tinggal atau bisa menghubungi pihak Resepsionis. Saya ingin undur diri terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan yang harus saya kerjakan. Ter—"


Ucapanku tergantung saat aku baru saja menegapkan tubuhku dan tak sengaja membaca name tag yang tertera disana tertulis General Manager bernama Kevin.


Sontak aku menutup mulutku dari rasa keterkejutan atas ketidak sopananku, berucap datar juga berucap permisi dengan nada bicara yang kutahu tak enak untuk di dengar.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2