Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 132


__ADS_3

"Papa—" Rengek Nagita yang entah sejak kapan turun dari ranjang. Kini menarik-narik celana milik Akram.


Mendorong dada Akram, Vina tersenyum setelah melepas pagutannya membuat Akram begitu tersentak.


"Bahkan untuk berciuman saja kamu masih payah," ujar Vina mengejek meneruskan langkahnya naik ke atas ranjang.


Pias serta merta terpancar di wajah Akram. Dia masih dalam kondisi terkejut dengan apa yang dilakukannya tadi, begitu spontan dan tentu payah seperti dengan apa yang dikatakan Vina tadi.


Ini adalah kali pertama Akram mencium seorang wanita, dan tindakannya tadi padahal hanya tempel bibir semata. Tentu dengan Vina yang lebih mendominasi, mengajarkan cara berciuman yang sesungguhnya.


Dengan masih menormalkan detak jantungnya, Akram mengambil duduk di pinggir ranjang dengan posisi membelakangi Vina. Dalam hati sebenarnya Akram mengakui dirinya sekarang tengah dikuasai rasa malu luar biasa.


"Maaf... " ucapnya setelahnya. Dalam hati dia juga menyuarakan, tak sepantasnya melakukan tindakan tadi, tindakan di luar batas dan yang Akram anggap tercela.


"Pa—" lagi-lagi Nagita memanggil Akram dengan disertai menggoyang-goyangkan lengannya. Dan ketika Akram menatap bocah kecil itu matanya nampak sayu.

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua masuk kesini?" ucap Vina yang tanpa menanggapi ucapan maaf Akram tadi, justru menanyakan tujuan Akram yang masuk ke kamarnya.


"Tadi— aku dan Nagita berniat untuk tidur disini," ucap Akram yang kemudian menarik tangan Nagita yang tengah mengucek matanya, pertanda anak itu telah mengantuk.


"Naik lah," ujar Vina usai Akram menoleh menatapnya, dengan dirinya yang mengkode melirik tempat kosong di samping tempatnya merebahkan diri. Mengijinkan Akram dan putrinya untuk tidur bersamanya.


Tanpa mengeluarkan kata, Akram kemudian beranjak menggendong Nagita untuk memutari sisi ranjang. Meletakkan Nagita di tengah-tengah lalu dirinya bergabung untuk tidur bersama.


Karena kondisi Nagita yang sudah dikuasai kantuk, bocah itu tak begitu rewel. Dengan hanya sesekali bergumam meminta untuk diusap-usap kepalanya atau beralih meminta di tepuk-tepuk pelan bagian belakang tubuhnya.


Namun nasi telah menjadi bubur. Akibat pilihannya yang mendobrak aturan-aturan yang diberlakukan oleh orangtuanya, dirinya memilih mencari kebahagiaannya sendiri.


Gairah muda, kebebasan dan kebahagiaan semu, nyatanya tak mampu bertahan lama hingga pada akhirnya berujung pada kenistaan yang kini dia derita.


Penyesalan? Iya itulah yang kini Vina hadapi.

__ADS_1


Mengamati kembali wajah Akram yang masih terfokus untuk menidurkan putrinya, terasa desiran aneh mengalir di tubuhnya. Tapi dia buru-buru menampik sebab tak sepantasnya Akram yang mempunyai sikap dan perigai yang baik mendapat orang sepertinya.


Vina cukup tahu diri siapa dirinya, bagaimana kondisinya dan hanya dalam hitungan waktu mungkin dia akan bisa bertahan. Bertahan yang mana menjalani sisa hidupnya dalam menyaksikan tawa anaknya dan kesempatan mendapatkan cinta tulus dari Akram.


Bahkan kini dalam hati Vina juga telah ikhlas jika saja dirinya tiada, dia akan menyerahkan putrinya kepada Akram.


Dengkur halus kini terdengar yang menandakan putrinya telah tertidur, tak ingin Akram menyadari bahwa dirinya telah lama memperhatikan lelaki itu, akhirnya Vina juga memilih untuk memejamkan mata, berpura-pura tidur.


Hingga saat keheningan telah membentang lama, Vina sudah mampu menebak dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Yakni sekarang, Akram tengah merapikan selimutnya, memberi kecupan lembut di keningnya juga mengucapkan kata selamat beristirahat.


To be Continue


Yang sudah kangen Ayu dan Kevin? Jangan lupa suaranya yaaaa

__ADS_1


__ADS_2