Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 32


__ADS_3

Petang kami tiba di Terminal Senen Jakarta Pusat. Beruntung, aku yang tak tau tempat dan arah telah dijemput oleh salah satu sanak saudara dari Rico yang tinggal di Jakarta.


Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Fahmi, usianya mungkin sekitar 25 tahunan. Setelah itu dia membawa kami ke sebuah rumah petak yang lumayan padat penduduk.


"Kalian kan baru tiba hari ini, lebih baik tinggal disini dulu. Besok baru cari tempat tinggal," ucap Bang Fahmi usai membuka pintu rumahnya.


Mataku mengedar setelah Bang Fahmi mempersilahkan aku dan Rico masuk ke dalam rumah. Rumah yang nampak sangat sederhana dan berukuran kecil, hanya terdapat satu ruangan tanpa sekat dan di sisi pojok terdapat satu ruang kecil yang aku yakini kamar mandi dan sebelahnya terdapat sebuah dapur kecil.


"Hidup di Jakarta ya seperti ini. Harus banyak prihatin, khususnya buat anak perantau," ucap Bang Fahmi yang beranjak menuju dapur menyiapkan air minum.


"Abang disini kerja atau kuliah?" sahutku yang mulai meletakkan tas ranselku pada lantai di sisi tembok.


"Dia udah lulus kuliah, tinggal disini melanjutkan hidup untuk mengadu nasib," sahut Rico melepas jaket yang dia kenakan.


Aku mengangguk dan memilih untuk mengambil duduk di atas karpet yang telah di gelar di lantai sambil beristirahat sejenak.


Tadi di perjalanan Rico memang telah menceritakan sedikit tentang sepupunya itu padaku. Bahwa memang u


Petang kami tiba di Terminal Senen Jakarta Pusat. Beruntung, aku yang tak tau tempat dan arah telah dijemput oleh salah satu sanak saudara dari Rico yang tinggal di Jakarta.


Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Fahmi, usianya mungkin sekitar 25 tahunan. Setelah itu dia membawa kami ke sebuah rumah petak yang lumayan padat penduduk.


"Kalian kan baru tiba hari ini, lebih baik tinggal disini dulu. Besok baru cari tempat tinggal," ucap Bang Fahmi usai membuka pintu rumahnya.


Mataku mengedar setelah Bang Fahmi mempersilahkan aku dan Rico masuk ke dalam rumah. Rumah yang nampak sangat sederhana dan berukuran kecil, hanya terdapat satu ruangan tanpa sekat dan di sisi pojok terdapat satu ruang kecil yang aku yakini kamar mandi dan sebelahnya terdapat sebuah dapur kecil.


"Hidup di Jakarta ya seperti ini. Harus banyak prihatin, khususnya buat anak perantau," ucap Bang Fahmi yang beranjak menuju dapur menyiapkan air minum.


"Abang disini kerja atau kuliah?" sahutku yang mulai meletakkan tas ranselku pada lantai di sisi tembok.

__ADS_1


"Dia udah lulus kuliah, tinggal disini melanjutkan hidup untuk mengadu nasib," sahut Rico melepas jaket yang dia kenakan.


Aku mengangguk dan memilih untuk mengambil duduk di atas karpet yang telah di gelar di lantai sambil beristirahat sejenak.


Tadi di perjalanan Rico memang telah menceritakan sedikit tentang sepupunya itu padaku. Bahwa memang untuk sementara Rico akan tinggal dengannya, sedangkan aku sudah pasti dalam waktu dekat ini akan mencari tempat tinggal.


"Kapan kalian mulai kuliah dan memulai pekerjaan?" tanya Bang Fahmi yang telah mengambil duduk berhadapan denganku sambil menyodorkan minuman yang telah dibuat.


"Pihak management hotel sudah mengurusi registrasi. Aku sama Ayu tinggal ngikutin prosedur seperti mahasiswa lain. Kalau untuk masuk kerja lusa kami sudah harus berkumpul ke Hotel Wijaya menemui pihak HRD, soalnya belum tahu kami di tugaskan dimana," ucap Rico menanggapi.


Bang Fahmi mengangguk kemudian menatapku. "Ohya, tadi Abang sudah lapor dengan pemilik kontrakan ini kalau kalian menginap disini. Dan untuk kamu Ayu, Abang tidak bisa mengijinkanmu menginap disini."


Sontak aku dan Rico kini terkejut. Sebab situasi di luar sudah kian malam, lantas aku akan mencari tempat tinggal dimana, batinku.


Rico berdecak. "Bang gak bisa gitu dong?" sahutnya protes.


Namun wajah Bang Fahmi nampak begitu tenang lalu berujar, "Biar Ayu tinggal di kamar sebelah. Ada teman Abang yang sesama wanita. Karena gak mungkin Ayu tinggal satu ruangan bersama dengan yang bukan muhrimnya."


"Bilang dong dari tadi!" sahut Rico namun membuatku juga merasa lega lalu mengangguk.


Jadi untuk malam ini aku telah berada di kamar sebelah milik Mbak Vina. Dia adalah rekan Bang Fahmi yang kenal sebab tinggal dalam satu lingkup kontrakan di tempat ini.


Disini memang bukan rumah kontrakan khusus, namun diperuntukkan untuk umum. Siapa saja boleh tinggal disini, lelaki, wanita, berstatus mahasiswa, pekerja maupun keluarga boleh asal memiliki status yang jelas.


"Rencananya kamu mau tinggal dimana?" tanya Mbak Vina padaku usai aku keluar dari kamar mandi membersihkan diri.


Mbak Vina tampak berfikir. "Tinggal disini saja kalau kamu mau. Lagian aku sendiri disini dan kadang jarang tidur disini."


"Mbak Vina sering pulang ke rumah orangtua ya, jadi tempat ini jarang ditinggali?" sahutku yang ditanggapi olehnya dengan senyum kaku. Namun tak lama Mbak Vina segera berujar, "Lagian kan kalau jamu tinggal disini jadi ngirit bayar tagihan bulanannya."

__ADS_1


Aku pun segera mengangguk dan mengiyakan usulnya. Toh ini juga menguntungkan untukku, karena aku tak perlu repot-repot mencari tempat tinggal baru dan yang penting biaya bulanan yang aku keluarkan menjadi semakin sedikit. Tentunya aku bisa berhemat.


****


Hari pun berlalu, kemarin aku dan Rico telah menyelesaikan kelengkapan data di universitas tempat kami akan menimba ilmu. Dan giliran hari ini pertama kali kami menginjakkan kaki di Hotel Wijaya.


Hotel bintang lima dengan fasilitas lengkap yang tentu saja berstandar Internasional. Bangunannya cukup megah. Dan ketika aku menapakan kakiku disini tubuhku rasanya benar-benar bergetar.


"Rico... Cubit pipiku deh," ucapku lirih menahan rasa geregetan pada diriku sendiri. Karena aku yang biasa hanya tinggal pada rumah petak yang hanya berukuran tiga kali tiga meter kini berada di tempat yang cukup bagus seperti ini. Aku begitu takjub saat sampai di pintu lobby, ya meski tempat yang di khususkan untuk karyawan.


"Jangan kampungan deh!" sahut Rico yang sontak mencubit pipiku menariknya hingga terasa begitu sakit.


Akupun dengan segera menepis tangannya berdesis menyuarakan kata, "Sakit... Rico!"


"Tadi katanya minta dicubit!"


"Tapi juga jangan kenceng-kenceng!" sahutku kesal dan segera aku menghentikan langkahnya dengan mencekali lengannya.


"Kenapa!" ucapnya terheran.


Segera aku memalingkan pipiku ke sisi kiri dan berkata, "Pasti merahkan?" Tanyaku memastikan sebab pipiku rasanya masih sedikit perih. Dan masak mau bertemu pihak HRD dalam penampilan seperti ini.


"Gak," sahut Rico membuat mataku mendelik tak percaya. Tapi kali ini Rico justru malah tertawa dan berujar, "Bedaknya yang luntur," sambungnya dengan mengangkat tangannya lalu memperlihatkan jari-jarinya yang nampak terdapat bekas noda bedak milikku.


Sontak mataku pun membeliak dan berucap geram, "Rico..."


To Be Continue


Hallo teman-teman sedikit pemberitahuan, mungkin nanti disini akan ada banyak pemainnya semoga teman-teman tetap enjoy dengan kisah yang aku bawakan ini

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan kritik dan juga sarannya agar aku semakin semangat dan bisa membenahi tiap kekurangan di dalam tulisan ini, terimakasih 😘😘😘😘😘


__ADS_2