SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
10


__ADS_3

Lara membuka matanya, melihat keadaan nya sudah tidak seburuk tadi. Sekarang Ia sudah mengenakan baju juga keadaaan ranjangnya yang rapi.


Lara mengerakan tubuhnya, terasa sakit semua apalagi dibawah sana, terasa perih membuat Lara meringis kesakitan.


Lara akhirnya kembali berbaring. Ia merasa tenggorokan nya sangat kering juga perutnya yang lapar. Lara mengelusi perutnya yang keroncongan.


Lara menghela nafas panjang sampai Ia dikejutkan oleh suara Aiden yang ternyata duduk di sofa sedang memandangi dirinya.


"Lapar? mau ku ambil kan makan malam?" tawar Aiden yang entah mengapa mendengar suara Aiden membuat Lara sedikit takut. Mengingat siang tadi Aiden begitu tenangnya melayangkan tembakan juga saat Aiden memperkosa dirinya tanpa belas kasihan.


"Aku akan meminta Mbok Nah untuk mengambil kan makanan." kata Aiden berdiri dan masih menatap Lara, menunggu jawaban Lara namun Lara tampak diam tidak merespon ucapan Aiden.


Aiden berjalan mendekat dan Lara langsung membalikan tubuhnya memunggungi Aiden. Lara menaikan selimutnya hingga seluruh tubuhnya tertutupi selimut.


Aiden tersenyum geli melihat tingkah Lara, segera Aiden keluar untuk meminta Mbok Nah mengambilkan makanan.


Tak berapa lama, Mbok Nah memasuki kamar Lara dan membawa nampan berisi makanan.


"Makan dulu Nona." tawar Mbok Nah yang langsung di angguki Lara.


Lara bangun perlahan, Ia duduk bersandar pada ranjang,


"Bolehkah saya menyuapi Nona?" tanya Mbok Nah yang merasa kasihan melihat Lara begitu kesakitan.


Lara mengangguk setuju,


Mbok Nah duduk di pinggir ranjang dan mulai menyuapi Lara,


"Seandainya Nona tidak kabur dari sini, mungkin semua ini tidak akan terjadi." kata Mbok Nah di tengah suapan nya.


"Bagaimana keadaan Nathan?" tanya Lara dengan suara serak.


"Tidak ada yang tahu tentang dia." kata Mbok Nah membuat Lara menghela nafas panjang.


Semua salah nya, semua karena dirinya.


"Kenapa dia begitu kejam mbok?"


Mbok Nah menghela nafas panjang, "Bukankah Nona sendiri yang membuat nya menjadi kejam?"

__ADS_1


Lara mengerutkan keningnya, tak mengerti apa maksud Mbok Nah,


"Jika saja Nona tidak kabur dan meminta bantuan Nathan, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Lara menundukan kepalanya, bahkan Mbok Nah yang berhati lembut saja menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi hari ini,


"Aku merasa terpenjara di sini, dia bukan siapa siapa kenapa harus melakukan ini padaku!" protes Lara.


Mbok Nah tersenyum, "Bukankah Nona seharusnya beruntung berada disini?"


"Apa maksud mu Mbok?" Lara tak paham dengan ucapan Mbok Nah.


"Jika saja Tuan tidak menginginkan Nona, mungkin keadaan Nona sekarang berbeda, mungkin Nona sudah menjadi pelacur di club malam milik Tuan. ingatkan jika status Nona saat ini adalah tawanan Tuan yang menebus hutang Ayahmu?"


Deg... Lara terkejut, tak menyangka Mbok Nah mengetahui semuanya.


"Mbok Nah bisa tahu semuanya?" tanya Lara penasaran.


Mbok Nah kembali tersenyum, "Tuan belum pernah seperti ini sebelumnya, membawa wanita kemari, sering pulang kemari, makan tepat waktu dan menatap Nona dengan tatapan yang berbeda."


"Awalnya Mbok menyukai Nona, karena Nona membuat Tuan muda kami berbeda, Nona membuat Tuan muda kami lebih bahagia, lebih banyak tersenyum namun jika mengingat hari ini rasanya sangat mengecewakan, melihat Tuan muda menjadi brutal seperti biasanya." ungkap Mbok Nah.


Mbok Nah meletakan piringnya lalu mengenggam tangan Lara, "Tuan muda kami sudah banyak menderita selama ini, jika memang Nona adalah kebahagiaan untuk Tuan muda kami, tolong jangan membuatnya kecewa lagi." kata terakhir Mbok Nah sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Lara.


Lara termenung dengan ucapan Mbok Nah, Ia menyadari sikapnya buruk akhir akhir ini dan Ia juga sadar dirinya hanyalah tawanan yang sudah di jual oleh ayahnya.


Lara ingat, perlakuan Aiden padanya awalnya sangat baik hingga akhirnya hari ini terjadi, hari dimana Ia bisa melihat Aiden yang sesungguhnya.


Lara menghela nafas panjang, Ia merasa sudah menyadari kesalahan nya.


Pintu kembali di terbuka, Lara melihat Aiden kembali memasuki kamarnya. Lara segera menutupi tubuhnya dengan selimut, Ia merasa harus lebih waspada mulai sekarang. Sebaik baiknya Aiden hanyalah seorang pria normal yang pastinya menginginkan tubuhnya.


Aiden tersenyum menatapnya, "Sudah kenyang?"


Lara mengangguk,


"Mau ku bantu ke kamar mandi?" tawar Aiden yang membuat Lara terkejut karena Ia memang ingin buang air kecil.


Lara menggelengkan kepalanya, Ia membuka selimutnya dan mencoba untuk berjalan namun baru selangkah, Lara merasakan miliknya sangat sakit.

__ADS_1


Aiden akhirnya memaksa, mengendong Lara ala bridesmaid membuat Lara memberontak awalnya namun akhirnya menyerah juga.


"Keluar," kata Lara saat sudah berada di kamar mandi.


"Aku sudah melihat semuanya, kenapa harus-"


"Keluar!"


"Baiklah, katakan jika sudah selesai."


Melihat Aiden keluar, Lara segera buang air kecil. Selesai dengan hajatnya, Ia sudah di tunggu oleh Aiden diluar dan tanpa mengatakan apapun, Aiden mengendong Lara kembali ke ranjang.


"Aku akan tidur di sini menemanimu." kata Aiden yang sudah berbaring disamping Lara membuat Lara sedikit ketakutan.


"Tidak, keluar dari sini!" usir Lara namun tidak di gubris oleh Aiden.


Aiden malah memeluk Lara dari belakang, Lara awalnya memberontak namun akhirnya Ia menyerah juga. Ia diam dipelukan Aiden yang entah mengapa Lara merasa sangat nyaman berada di pelukan Aiden, menikmati setiap hembusan nafas Aiden yang membuat jantungnya berdegup.


"Ja jangan lakukan itu lagi padaku," gumam Lara.


Aiden tersenyum lalu membalikan badan Lara hingga wajah Lara kini Ia lihat secara jelas, Aiden mengelus pipi halus milik Lara, "Jadilah gadis penurut dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan dari ku."


Lara terdiam sejenak, "Apa kau melakukan seperti ini pada banyak wanita?" tanya Lara akhirnya penasaran dengan ucapan Nathan yang mengatakan jika Aiden memiliki banyak wanita.


Aiden tidak menjawab, Ia kembali memeluk Lara namun kali ini pelukan nya terasa lebih erat dan tanpa di sadari Lara menangis di dalam sana.


"Jangan lakukan ini padaku lagi, ku mohon jangan lakukan ini padaku." ucap Lara sambil menangis sesenggukan.


"Ma maafkan aku." kata yang sulit untuk Aiden ucapkan namun akhirnya Ia ucapkan atas rasa bersalahnya membuat Lara menangis.


Cukup lama Lara menangis di pelukan Aiden hingga Ia merasa lega dan menghentikan tangisnya.


"Lihatlah, baju ku basah terkena ingusmu." Aiden memperlihatkan baju nya yang basah terkena air mata Lara.


Lara tertawa, "Salahmu karena kamu yang membuatku menangis."


Keduanya pun tertawa bersama dan kembali berpelukan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2