SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
49


__ADS_3

Risa mengepalkan tangan nya, Ia merasa sangat malu dan tidak memiliki harga diri karena di tolak mentah mentah oleh Hutama.


"Menawarkan? aku tidak akan sudi melakukan nya lagi!" ucap Risa sambil turun ke bawah.


Saat Risa ingin memasuki kamarnya, Risa mendengar bunyi siulan membuat Risa berbalik dan melihat wajah tengil dengan senyuman mengejek dari sopir Hutama.


"Bagaimana? sudah melakukan berapa ronde pada Tuan Hutama?" tanya Sopir Hutama dengan nada mengejek.


"Tutup mulut mu!" ucap Risa memasuki kamarnya dan ingin menutup pintu kamar namun Sopir Hutama menahan nya.


"Sialan, apa yang kau lakukan!" bentak Risa sedikit emosi.


"Jika kau merasa ingin dan butuh teman tidur, aku bisa melakukan nya, kau terlihat lumayan juga." kata Sopir Hutama membuat Risa sangat marah.


"Kau pikir aku wanita murahan yang bisa tidur dengan sembarang pria!"


Sopir Hutama tertawa, "Jika kau tidak murahan, kau tidak akan menawarkan dirimu pada Tuan Hutama. ayolah kita lakukan saja." kata Sopir Hutama mendobrak pintu kamar Risa hingga akhirnya Risa terjungkal dan jatuh ke lantai.


"Ap apa yang akan kau lakukan, keluar dari kamar ku!" teriak Risa namun tidak di gubris, sopir Hutama malah semakin mendekat dan menatap Risa nakal.


"Hey sialan, kenapa kau tidak mengajak ku!" satu pria yang tak lain adalah anak buah Hutama ikut masuk ke kamar Risa membuat Risa sangat ketakutan.


Risa berdiri dan hendak berlari ke kamar mandi namun sayangnya Ia sudah dicekal lebih dulu dan tubuhnya di banting ke ranjang.


"Ku mohon jangan lakukan itu." pinta Risa sambil menangis, namun permintaan Risa sia sia saja karena dua pria Hutama sudah tergoda dengan tubuh Risa dan membuat Risa di gilir oleh kedua pria hingga mereka puas.


Hutama menghisap rokoknya, duduk di depan kamar Risa sambil mendengar suara jeritan Risa yang tersiksa didalam sana.


Hutana mengerus putung rokoknya, Ia segera berdiri dan kembali ke kamarnya. Hutama kini berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam ini, Setelah Risa berniat mengoda nya, Hutama mengirimkan pesan pada sopir dan anak buahnya untuk mengantikan dirinya menikmati tubuh Risa dan tentu saja tawaran Hutama tidak ditolak oleh kedua anak buahnya.


Hutama masih menatap langit, tiba tiba Ia mengepalkan tangan nya setelah mengingat sesuatu, "Semua wanita murahan, semua wanita sama saja." gumam Hutama mengambil salah satu vas yang ada di meja kamarnya lalu membanting Vas itu hingga pecah.


Setelah sadar, Hutama menjambak rambutnya sendiri lalu mengambil obat yang selalu Ia bawa dan Hutama menelan obat itu sebanyak banyaknya.


"Sial, seharusnya aku tidak mengingat wanita itu lagi!"


Dibawah, setelah puas menikmati tubuh Risa , kedua orang Hutama meninggalkan Risa begitu saja, tidak peduli dengan Risa yang kesakitan dan menangis karena mereka sudah mendapatkan kepuasan untuk diri mereka.

__ADS_1


"Kenapa mereka melakukan ini padaku." ucap Risa sambil menangis sendu.


"Aku bukan wanita murahan, aku tidak menjual diri." ucap Risa lagi.


Risa memasuki kamar mandi, menguyur tubuhnya dengan Air dan mengosoknya karena Ia merasa jijik dengan tubuhnya yang baru dijamah oleh dua pria sekaligus.


"Aku harus pergi, sebaiknya aku pergi saja dari sini." ucap Risa tidak ingin lagi menjadi pemuas nafsu para anak buah Hutama.


Selesai mandi, Risa bergegas mengemasi barang barangnya dan saat Ia keluar dari kamarnya membawa koper, terkejut karena Hutama sudah berada didepan kamarnya.


"Apa yang terjadi, kau mau kemana Nona? apa kau sakit hati karena aku telah menolak mu tadi? aku minta maaf tapi aku memang sedang tidak ingin." kata Hutama terlihat menyesal.


"Aku ingin pergi dari sini, aku tidak mau tinggal disini lagi." kata Risa melewati Hutama namun dengan cepat Hutama meraih tangan Risa.


"Apa yang terjadi, katakan sesuatu Nona?" tanya Hutama penuh kelembutan membuat Risa akhirnya luluh juga.


"Apa kau benar benar tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Risa akhirnya.


"Aku benar benar tidak tahu Nona, apa yang terjadi katakan padaku hmm." rayu Hutama.


"So sopir dan anak buah mu satu lagi te telah memperkosa ku secara brutal baru saja." ucap Risa lalu menangis.


Risa mengangguk, "Aku pergi saja dari sini, aku takut terjadi lagi."


"Nona tenanglah, tenanglah." kata Hutama menepuk bahu Risa.


"Aku akan menghukum mereka berdua, sekarang kembali masuk dan istirahatlah."


"Tidak, aku ingin pergi saja."


"Nona, ini sudah malam, kudengar ada banyak binatang buas disekitar sini." kata Hutama akhirnya membuat Risa terdiam.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Risa memasuki kamarnya.


"Tuan, apa anda yakin tidak ingin membereskan gadis itu?" tanya Sopir Hutama saat Hutama menghampiri keluar.


"Tentu saja ini belum waktunya, kita masih membutuhkan nya." kata Hutama sambil tersenyum menyerigai.

__ADS_1


"Jadi kami bisa menikmati gadis itu setiap malam Tuan?" tanya Anak buah satunya lagi.


"Bodoh, apa hanya itu saja yang kau pikirkan!" Omel Hutama membuat kedua anak buahnya menunduk takut.


"Sementara jangan sentuh dia, biarkan dia merasa nyaman disini sampai kita sudah tidak membutuhkan nya lagi." kata Hutama yang langsung di angguki kedua anak buahnya.


Beberapa hari berlalu, keadaan Lara semakin membaik bahkan Aiden sudah mengizinkan Lara jalan jalan keluar Villa, seperti pagi ini Aiden mengajak Lara pergi ke danau dekat Villa.


"Bukankah ini terlihat indah sayang?" ucap Aiden saat keduanya sudah berada di danau dekat villa.


"Ya indah sekali, aku baru tahu ada danau disekitar sini."


"Aku dulu sudah pernah mengatakan padamu, kau tidak percaya." omel Aiden membuat Lara tersenyum.


"Baiklah baiklah, sekarang aku mempercayai mu."


Aiden mempererat rangkulan nya, Rasanya sangat nyaman seperti ini, bersama dengan seseorang yang sangat disayangi.


"Kenapa aku tidak melihat Risa sejak kemarin?" tanya Lara saat keduanya berjalan kaki untuk pulang.


"Aku sudah memecatnya."


Lara terkejut, "Kenapa kau harus memecatnya!"


"Dia sudah membuat istriku menangis, tentu saja aku harus memecatnya!" balas Aiden santai.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Lara tampak khawatir.


"Mana ku tahu, sudah jangan pikirkan dia lagi. sebaiknya pikirkan tentang kita saja." kata Aiden membuat Lara mendengus sebal.


Keduanya sampai di Villa, saat keduanya ingin masuk gerbang, Aiden sempat melihat sebuah mobil yang melintas di depan Villa nya.


Mobil mewah yang tampaknya tak asing dimata Aiden, "Apa ada penghuni baru disekitar sini?" gumam Aiden lalu menutup gerbang Villa.


"Ada apa?"


Aiden menggelengkan kepalanya, Ia kembali merangkul istrinya "Tidak ada apapun sayang."

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2