
Hutama membuka matanya, mendengar suara burung bersahutan menandakan jika ini sudah pagi. Hutama memandangi wajah cantik Rena yang masih terlelap. Wajah cantik yang membuatnya jatuh cinta berkali kali pada gadis ini bahkan Hutama tidak akan melepaskan Rena sampai kapanpun.
Bibir Hutama mengulas senyum, mengingat apa yang mereka lakukan semalaman. Pertama kalinya dirinya menyentuh wanita dan nyatanya Hutama juga pria pertama untuk Rena, pria pertama yang menjamah tubuh Rena bahkan mendapatkan keperawanan milik Rena.
"Aku sangat berutung." gumam Hutama mencium kening Rena membuat tidur Rena terusik dan akhirnya bangun.
Rena tampak terkejut melihat Hutama bahkan Rena sampai mendorong Hutama untuk menjauh darinya.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Rena menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Hutama tersenyum geli, "Apa kau lupa sayang jika semalaman kita tidur bersama disini?" tanya Hutama yang akhirnya membuat Rena sadar apa yang terjadi dengan nya.
Wajah Rena terlihat sendu, "Kita menginap disini, bagaimana jika orang tua kita mencari."
"Apa kau takut pulang kerumah?" tanya Hutama.
"Tidak, aku hanya mengkhawatirkan mu, aku takut kau akan kena marah orangtuamu." kata Rena yang sadar jika dirinya berasal dari keluarga miskin broken home, tidak akan ada yang memperhatikan nya sekalipun dia tidak pulang kerumah.
Hutama mengelus rambut Rena, "Jangan khawatirkan apapun, aku hanya ingin bersama mu disini sesaat untuk melepaskan rindu setelah empat tahun tidak bertemu."
Rena akhirnya tersenyum mendengar ucapan Hutama,
"Apa masih sakit?" tanya Hutama membuat Rena mengerakan kakinya.
"Aneh sekali, kenapa sudah tidak sakit padahal semalam sakit sekali." gumam Rena.
Hutama tersenyum, mengingat semalam saat Rena tidur dirinya mengoleskan salep untuk meredakan rasa sakit pada milik Rena.
"Jadi apa kau ingin berenang di danau bersama ku hmm?" ajak Hutama yang langsung di gelengi kepala oleh Rena.
"Tidak, aku takut tenggelam."
Hutama tertawa, "Tentu saja tidak akan tenggelam karena kita akan menggunakan pelampung."
Karena dipaksa oleh Hutama akhirnya Rena ikut berenang menggunakan pelampung.
Selesai berenang, Rena ingin mengganti baju yang sudah disiapkan di rumah pohon dan saat Ia sudah melepaskan seluruh pakaian nya tiba tiba Hutama masuk kerumah pohon membuat Rena terkejut dan menutupi tubuhnya dengan handuk.
Hutama tersenyum, "Kenapa malu? aku sudah melihat semuanya semalam." ucap Hutama namun tetap saja Rena masih tak nyaman.
Hutama yang saat ini telajang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya pun menarik handuk yang Rena pakai hingga Ia bisa melihat tubuh indah milik Rena.
__ADS_1
"Berjanjilah jangan biarkan pria lain menyentuhmu." bisik Hutama yang diangguki Rena.
Rena ingin merebut handuknya dari tangan Hutama namun tidak berhasil karena Hutama malah mendorongnya hingga jatuh di ranjang.
"Aku takut jika rasanya masih sakit." ucap Rena dengan wajah pucat.
"Aku pastikan kali ini tidak akan menyakitkan." ucap Hutama.
Dan benar saja, kali ini bukan rintihan yang keluar dari mulut Rena melainkan suara kenikmatan yang baru Ia rasakan untuk pertama kalinya.
Suara indah Rena membuat Hutama semakin mengebu dan mereka kembali melakukan berkali kali pagi ini.
"Kau terlalu mengoda hingga membuatku lupa jika aku harus memberimu sarapan." kata Hutama yang saat ini mengajak Rena turun ke bawah untuk sarapan.
"Bukan aku yang mengoda tapi kamu yang mesum."
Hutama tertawa, "Bukan kah rasanya sangat nikmat sayang?" goda Hutama membuat pipi Rena memanas.
"Sudahlah jangan di bahas lagi."
Hutama kembali tertawa dan kali ini lebih keras, rasanya menyenangkan bisa mengoda kekasihnya itu.
Sore sebelum keduanya pulang, Hutama kembali melakukan dengan Rena. Rasanya Hutama tidak ada lelahnya, Rena bagai candu untuknya meskipun berkali kali melakukan nya namun tidak ingin berhenti, ingin lagi lagi dan lagi.
"Ck, satu kali lagi."
"Tidak, kita harus pulang sekarang!" kata Rena yang akhirnya di turuti oleh Hutama.
Setelah mengantar Rena pulang, Hutama melajukan motornya menuju rumah orangtuanya dimana Winda sudah menunggu kepulangan nya.
"Kau membohongi Ibu? kau bilang akan pulang sebelum makan malam tapi kenapa baru pulang kemana kau semalaman?" tanya Winda dengan nada marah.
"Hanya bertemu dengan teman, lagipula malam ini kita masih bisa makan malam bersama kan." balas Hutama santai.
"Kau tidak tahu betapa marahnya ayahmu?"
"Aku akan meminta maaf padanya, ibu tenang saja." ucap Hutama lalu meninggalkan ibunya yang masih berdiri disana.
"Anak itu benar benar!" Winda mengepalkan tangannya.
Suasana makan malam dirumah Hutama sangat tengang, dimana Ayah, ibu dan anak hanya fokus pada makanan mereka masing masing hingga makan malam usai dan Willy ayah Hutama mulai mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Sudah waktunya kau menggantikan posisi Ayah, meneruskan bisnis Ayah." ucap Willy yang langsung di angguki Hutama.
"Kau juga harus segera menikah."
"Ya Ayah, aku sudah mempunyai ca-"
"Ayah sudah menyiapkan calon untukmu, kita akan mengadakan pertemuan dengan calon istrimu besok malam."
"Tidak, aku tidak mau!" protes Hutama.
"Tidak ada penolakan dengan apa yang sudah ku ucapkan. persiapkan dirimu untuk besok. jangan mengecewakan ku." kata Willy lalu meninggalkan meja makan diikuti oleh Winda.
Hutama mengepalkan tangannya, selalu seperti ini, Ia seperti boneka yang harus menuruti keinginan orangtuanya.
Hutama yang muak dengan keputusan orangtuanya akhirnya memilih pergi dari rumah. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga sampai disebuah rumah sederhana.
Belum sempat Hutama mengetuk pintu, pemilik rumah sederhana yang tak lain adalah Rena sudah membuka pintu.
"Kenapa kemari lagi?" tanya Rena.
Hutama tak menjawab dan langsung menarik tangan Rena, "Naik!" perintah Hutama saat Rena tak kunjung membonceng motornya.
"Ki kita mau kemana lagi?"
"Kubilang naik." ucap Hutama dengan nada marah membuat Rena akhirnya menuruti perintah Hutama.
Dengan mengenakan piyama panjang, Rena menaiki motor Hutama dan motor itu melaju kembali ke rumah pohon yang ada di hutan.
"Kenapa kita kembali kesini lagi?'" tanya Rena saat melihat sekitarnya gelap.
"Naiklah jika tidak ingin dimakan binatang buas.'' kata Hutama menaiki rumah pohon lebih dulu membuat Rena takut dan akhirnya ikut naik ke atas.
Tanpa mengatakan apapun, Hutama mendorong tubuh Rena hingga jatuh ke ranjang dan mencium kasar bibir Rena.
"Ap apa yang terjad-"
Belum sempat Rena menyelesaikan ucapannya, Hutama sudah mencium bibir Rena dengan kasar. Saat ini Hutama butuh ketenangan dan hanya dengan tubuh Rena, Ia bisa mendapatkan ketenangan itu.
Rena tampak pasrah dan tak melawan kala Hutama menikmati tubuhnya dengan kasar sesekali Rena merintih agar Hutama tahu jika dirinya kesakitan namun sepertinya Hutama tidak mengubris dan terus melakukan nya hingga Rena pingsan karena kelelahan.
Bersambung...
__ADS_1
Planningnya cuma dua part tapi masih kurang... gimana nih readeers lanjut gak ngulik masa lalu hutama sama Rena?
jangan lupa like vote dan komen yaahh