SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
24


__ADS_3

Lara bangun kesiangan pagi ini, mengingat semalam Ia tidak bisa tidur hingga keasikan mengobrol dengan Nathan yang membuatnya tidur pukul satu malam hingga bangun terlambat.


Lara baru ingin memasuki kamar mandi, melihat pintu terbuka dan Risa tampak memasuki kamarnya.


"Ada apa Risa?"


"Nona bolehkah saya meminta sesuatu?"


Lara mengangguk, "Apa yang kau inginkan dari ku Risa?"


Tanpa ragu Risa akhirnya mengatakan, "Saya hanya ingin Nona jangan terlalu dekat dengan Nathan karena saya tidak ingin Nathan mendapat masalah lagi karena Nona."


Lara masih diam,


"Kami berdua bekerja disini dan menabung untuk menikah, jika sampai bermasalah dengan tuan dan tidak bisa bekerja lagi disini, hancur sudah impian kami." ungkap Risa.


Lara tersenyum, "Baiklah, lagi pula aku hanya menganggapnya teman tidak lebih."


"Benar hanya menganggapnya teman Nona tapi jika sampai Tuan melihat mungkin akan berpikiran lagi. jadi saya mohon pengertian Nona."


Lara memaksakan senyum, "Baiklah Risa, jangan khawatir. aku tidak akan mendekati Nathan lagi dalam hal apapun."


Risa tersenyum, "Terima kasih banyak atas pengertian Nona. saya permisi."


Risa keluar dari kamar Lara setelah mendapatkan apa yang Ia inginkan.


"Apa yang kau lakukan di kamar Nona?" tanya Nathan yang melihat Risa keluar dari kamar Lara membuat Risa sedikit gugup.


"Hanya menanyakan apa Nona membutuhkan sesuatu." jelas Risa berbohong.


"Benar begitu? aku pikir..."


"Memang apa yang kau pikirkan?" tanya Risa saat Nathan tak melanjutkan ucapan nya.


"Ah sudahlah, lupakan."


"Jangan berpikir untuk menyukai Nona, aku tidak ingin kamu bermasalah lagi dengan Tuan." kata Risa.


Nathan memeluk Risa, "Kamu hanya terlalu mengkhawatirkan itu, aku sangat mencintaimu bagaimana mungkin aku berpaling." balas Nathan membuat Risa tersenyum lega.


Sementara itu, Lara tampak termenung bersandar pada ranjangnya.


Entah mengapa pagi ini tiba tiba Ia sangat merindukan Ayahnya.


Ya meskipun sikap Ayahnya tidak pernah baik padanya namun tetap saja, Ia sangat menyayangi Ayahnya.


"Bagaimana kabar Ayah? apa wanita itu merawat Ayah dengan baik?" gumam Lara.


"Ck, tentu saja dia harus merawat Ayah dengan baik, bukankah wanita itu dan Ayah mendapatkan uang yang banyak dari hasil menjualku?" Lara tiba tiba kesal dengan sendirinya.


"Tapi aku merindukan Ayah." gumam Lara sekali lagi.

__ADS_1


Keadaan sangat berbeda dari apa yang Lara pikirkan, Lara pikir Ayahnya akan baik baik saja bersama wanita yang Ia cintai namun kenyataan nya salah.


Roy Ayah Lara tampak tak terurus setelah Lara pergi.


Tidak ada yang menyiapkan makanan untuknya karena May tidak bisa memasak. Uang dari Aiden pun sudah habis untu belanja barang barang yang di inginkan May.


Dan sekarang hampir satu bulan Lara pergi, Roy sudah tidak memiliki apapun lagi. Yang kini Ia rasakan hanyalah omelan May setiap detik yang selalu meminta uang padanya.


Byurr... May menguyurkan segayung air pada Roy yang masih tidur membuat Roy tersentak dan akhirnya bangun.


"Apa kau akan tidur terus sepanjang hari?"


Roy mengelapi wajahnya yang basah karena air, "Tidak seharusnya kamu melakukan ini May." kata Roy dengan suara lembut. Selama bersama May, Roy memang tidak bisa marah apalagi membentak May karena May selalu mengancam akan pergi jika Roy sampai memarahinya.


"Jika tidak ku siram dengan air, mungkin kau tidak akan bangun!"


Roy melihat jam dinding masih pukul enam pagi, masih terlalu pagi untuknya bangun.


"Cari uang, aku butuh uang sekarang!"


"Dimana aku bisa mendapatkan uang? Lara yang menghasilkan uang saja sudah ku jual dan uangnya sudah kau habiskan untuk membeli barang barang yang tidak berguna itu." Roy sedikit kesal.


"Tidak berguna kau bilang! bahkan barang barang yang ku punya itu lebih berharga dari pada dirimu!" sentak May membuat Roy terdiam.


"Bukankah Lara bekerja di devil club? kenapa kau tidak datang kesana dan meminta uang padanya." kata May yang membuat Roy terkejut.


Awalnya dulu, Roy memang ingin melakukan itu, setelah menjual Lara, Roy masih ingin meminta uang pada Lara yang bekerja di devil club namun niatnya Ia urungkan karena mendadak Ia merasa malu jika harus bertemu dengan Lara. Roy merasa sudah tega menjual buah cinta nya hanya karena dibutakan oleh seorang wanita.


"Baiklah, jika kau tidak mau melakukan itu. aku akan pergi dari rumahmu!" ancam May membuat Roy takut.


Jika May pergi, Roy sudah tidak memiliki siapapun lagi.


"Baiklah, baiklah, aku akan kesana sekarang."


Roy bergegas bangun dan bersiap menuju devil club sendirian.


Sampai disana keadaan Devil club sudah tutup karena club itu beroperasi pada malam hari.


Roy memberanikan diri mendekati pria berbadan kekar yang berjaga disana.


"Tuan bisakah aku bertemu dengan seseorang?"


"Siapa yang kau cari!" penjaga itu menatap tajam Roy.


"Lara, dia bekerja di club ini. bisakah aku bertemu dengan nya?" tanya Roy sedikit hati hati.


"Tidak ada wanita bernama Lara yang bekerja disini!"


Roy tentu saja terkejut, "Tidak mungkin, anda pasti salah."


"Jika tidak percaya pergi saja! jangan membuatku marah!" kata Pria berbadan kekar itu membuat Roy mundur ketakutan.

__ADS_1


Roy hendak berbalik dan Ia berpapasan dengan Raka. Roy masih ingat dengan Raka asisten Tuan Aiden.


"Tuan tuan..." panggil Roy mengejar Raka yang sempat mengabaikan nya.


Raka berbalik dan melihat Roy, Ia menatap Roy seperti pernah mengenalnya namun Raka lupa.


"Siapa kau?"


"Sa saya Ayah Lara, ingatkan Tuan pada saya?" tanya Roy pada Raka yang akhirnya membuat Raka ingat jika pria ini adalah Ayah Lara.


"Ada urusan apa kau kemari?"


"Saya ingin bertemu dengan Lara."


Raka tertawa, "Kau gila, kau bahkan sudah menjual putrimu dan sekarang dengan percaya dirinya kau datang untuk menemuinya, kau pikir dia mau bertemu denganmu?" Sinis Raka masih menertawakan Roy.


"Saya harus bertemu dengan Lara, tidak peduli apapun itu karena saya membutuhkan uang saat ini dan hanya Lara yang bisa membantu saya." ungkap Roy.


Raka tersenyum, "Oh jadi kau butuh uang lagi?


Roy mengangguk pasrah,


"Jika kau butuh uang seharusnya kau menemui Tuan Aiden bukan Lara." kata Raka yang akhirnya membuat Roy mengangguk setuju.


Raka akhirnya membawa Roy pada Aiden yang masih di ruangan nya,


"Pria ini..." Aiden pura pura mengingatnya.


"Ayah Lara Tuan."


"Oh ya aku ingat. ada apa kau kemari lagi?"


"Sa saya..."


"Dia membutuhkan uang lagi Tuan." Raka menjawabkan.


"Jadi uang yang kuberikan sudah habis?" tanya Aiden yang di angguki oleh Roy.


"Jadi berapa uang yang kau butuhkan? lima ratus juta atau mungkin satu milyar?" tanya Aiden.


Roy seperti tak percaya mendengar penawaran dari Aiden,


"Satu milyar bagaimana?"


"It itu sudah sangat cukup Tuan." kata Roy tersenyum senang.


"Namun tentu saja ada syaratnya,"


Roy menatap Aiden, "Apa syaratnya Tuan?"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2