
Hutama ingin memeluk Lara lagi namun Lara menghindar, memberi batasan agar Hutama tidak memeluknya. Lara menjauh dan malah meminta perlindungan dari Aiden.
Hutama tersenyum kecut, dadanya terasa sesak. Baru saja Ia merasakan sebuah kehangatan dan cinta memiliki seseorang dalam hidupnya kini sudah hilang lagi.
Lara bahkan tak sudi melihatnya. Ya putri yang baru saja Ia temukan terlihat membencinya.
Tentu saja ini akan terjadi karena apa yang Ia lakukan di masa lalu sangatlah jahat.
"Ayo kita kembali, bawa aku pergi dari sini." bisik Lara dengan wajah kecewa dan sedih.
Aiden mengangguk, Ia tahu apa yang dirasakan Lara saat ini, shock dan terluka "Baiklah ayo kita pergi."
"Saya juga ikut." ucap Mbok Nah tak ingin menjadi tawanan Hutama.
Hutama membiarkan Aiden membawa pulang Lara dan Mbok Nah. Ia tidak ingin memaksa Lara dan tak ingin membuat Lara semakin membencinya meskipun Ia masih ingin Lara tinggal disini.
Aiden merangkul tubuh Lara, keduanya berjalan kembali ke villa. Setelah mengantar Lara ke kamar dan menemani Lara hingga terlelap, Aiden keluar untuk menemui Mbok Nah dan Raka yang menunggunya di ruang keluarga.
"Saya benar benar tidak menyangka." ucap Raka setelah mendengar penjelasan Mbok Nah.
"Dulu Tama itu pria yang baik, Tama dan Rena pasangan serasi pada waktu itu. mereka bersama sama hampir lima tahun meskipun sempat LDR karena Tama kuliah diluar negeri. Namun sayangnya keluarga Tama tidak merestui hubungan mereka. orangtua Tama selalu melabrak Rena tanpa sepengetahuan Tama hingga akhirnya hari itu tiba, hari dimana Tama tidak mempercayai Rena karena Rena dijebak oleh orangtua Tama. sejak saat itu Tama berubah dan memiliki dendam pada Rena, mungkin itu menjadi alasan Tama membunuh Rena."
"Tapi tetap saja dia bodoh!" umpat Aiden.
Raka dan Mbok Nah menatapnya lalu mengangguk setuju, "Seharusnya dia menyelidiki dulu penyebabnya jangan asal membunuh orang seperti itu!" kata Aiden terdengar sangat kesal.
"Dia terlalu dibutakan cinta hingga akhirnya membuatnya memiliki dendam seperti itu. aku yakin dia pasti menyesal saat ini." kata Mbok Nah.
"Tapi aku juga masih dendam padanya, karena dia membunuh Friska." timpal Raka.
"Ikhlaskan saja Nak, jika dia mau bertobat biarkan hukum yang berjalan dan menghukum perbuatannya." kata Mbok Nah namun Raka malah mendengus sebal.
"Sudahlah, aku akan kembali ke kamar karena Lara masih terlihat sangat shock." pamit Aiden berjalan menuju kamar Lara.
Aiden membuka pintu kamar Lara lalu berbaring disamping Lara, menatap wajah Lara yang terlihat sedih.
Ia mengelus pipi Lara dan Lara membuka matanya, "Maaf, apa aku menganggumu?" tanya Aiden merasa tak enak karena Lara terbangun.
"Tidak, aku sebenarnya belum tidur." kata Lara tersenyum menampilkan giginya yang rapi.
"Oh jadi kau menipuku." Aiden mencubit pipi Lara gemas.
__ADS_1
Lara kembali tersenyum, "Jika kau mengenal ibuku, kenapa aku tidak mengenalmu?"
"Aku membuatmu jatuh hingga kepala mu membentur batu dan itu membuatmu lupa ingatan." jelas Aiden.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengingat masa kecil ku bersama ibuku, karena yang aku ingat hanya saat Ayah menangisi peti mati milik ibuku." kata Lara.
Aiden terdiam, "Aku malah menyukai kau lupa ingatan karena kau tidak harus mengingat saat ibumu ditabrak oleh pria brengsek yang ternyata Ayahmu sendiri." batin Aiden.
"Aku benar benar ingin mengingat masa kecilku." pinta Lara lagi berharap Aiden mau sedikit berbagi kenangan padanya.
"Sewaktu kecil kau sangat cengeng, kau suka membawa boneka kemana mana, jika melihatku kau pasti akan meminta gendong dan...
"Dan?"
"Dan ibumu sangat menyayangimu juga aku, Ibumu sangat menyayangi kita." ucap Aiden yang membuat Lara menundukan kepalanya sedih.
"Jadi Roy bukan Ayahku? pantas saja dia memperlakukan aku seperti itu. awalnya setelah Ibu meninggal dia sangat baik tapi semakin lama dia berubah." ungkap Lara.
"Dia tidak membiayaiku sekolah dan memaksa ku untuk bekerja." kenang Lara.
Aiden memeluk tubuh Lara, "Semua sudah berakhir, semua sudah berakhir sayang."
Aiden mengangguk, "Aku sengaja melakukannya, aku sengaja menjebak Roy agar terlilit hutang dan akhirnya menjualmu padaku. dengan begini sekarang aku bisa menjagamu." jelas Aiden lalu mengecup kening Lara.
"Tapi kau malah menikahiku, seharusnya kau menjadi kakak ku." protes Lara.
Aiden tersenyum, Ia sadar seharusnya memang menjadi kakak Lara namun saat melihat Lara tumbuh dewasa, saat itu Ia baru pulang kuliah diluar negeri, Ia mencari keberadaan Lara dan menemukan Lara yang sudah dewasa membuat Aiden malah jatuh cinta dengan paras cantik Lara.
"Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada wanita secantik dirimu." ungkap Aiden membuat wajah Lara tersipu.
"Ck, berhenti merayuku!"
Aiden tertawa dan merasa heran dengan Lara yang masih saja malu malu padanya padahal mereka sudah bersama beberapa bulan.
"Sudah sebaiknya kau tidur." kata Aiden.
"Jika saja ibuku masih hidup, Tuan Hutama pasti tidak akan menyesali perbuatannya. aku bisa melihat Tuan Hutama sangat mencintai ibuku."
Aiden tersenyum, "Kenapa memanggilnya Tuan? seharusnya kau memanggil Ayah kan?"
Lara mendecak sebal, "Aku tidak mau, dia bukan ayahku!"
__ADS_1
"Lalu kau memilih Roy sebagai Ayahmu?"
"Tidak juga, aku tidak mau keduanya. berhenti mengodaku!" kesal Lara dan akhirnya Aiden tertawa.
Sementara itu di villa Hutama, saat ini Hutama sedang duduk di taman belakang. menyendiri menikmati heningnya malam sambil menyesali perbuatan nya.
Menyesal, Hutama benar benar menyesal dengan apa yang sudah Ia lakukan di masa lalu.
"Tuan, saya sudah kembali." suara seseorang dibelakang punggung Hutama membuat Hutama berbalik.
"Vans, syukur lah kau sudah kembali."
"Saya sudah menyelamatkan Tuan Aiden dan untuk masalah Hendra sepertinya dia tidak akan berhenti mengusik Aiden." jelas Vans yang tak lain adalah anak buah kepercayaan Hutama yang Ia tugaskan untuk membuntuti Aiden saat pergi waktu itu. Dan beruntung Vans ikut hingga tahu jika Aiden dalam bahaya jadi dirinya bisa menyelamatkan Aiden yang sudah dikepung para anak buah Hendra.
"Aku tahu, Hendra tidak akan menyerah dengan mudah namun sekarang sebaiknya kita memikirkan hal lain saja."
"Baik Tuan, apa yang bisa saya kerjakan?"
"Antar aku ke tempat itu."
Vans tampak terkejut, "Tuan yakin ingin kesana?"
"Ya, aku sangat ingin bertemu dengan dia."
Setelah menempuh perjalanan hingga semalaman, akhirnya Hutama sampai disebuah rumah.
Rumah ditengah tengah hutan yang hanya dihuni dua orang saja.
"Tuan datang?" tampak salah satu penghuni itu keluar dan menyambut kedatangan Hutama.
"Aku ingin bertemu dia."
Wanita penghuni rumah itu mengangguk dan mengantar Hutama memasuki sebuah kamar.
Seorang wanita terlelap di ranjang dengan keadaan tangan di ikat juga kakinya dipasung.
"Dia baru saja tidur Tuan, akhir akhir ini sudah jarang menangis lagi." jelas wanita yang berdiri disamping Hutama.
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen pemirsaahhh
__ADS_1