SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
68


__ADS_3

Pagi ini berbeda dari pagi biasanya di Villa Aiden, Ya karena pagi ini ada Hutama yang ikut sarapan di Villa Aiden.


"Sampai kapan kau menumpang makan di Villa ku?"


"Sampai kami menikah dan aku membawa Rena keluar dari sini." balas Hutama sambil memperlihatkan genggaman tangannya dengan Rena pada semua orang.


"Ck, hentikan romantisme kalian ini. sungguh Tama kau sudah tidak muda lagi!" cibir Nana yang ikut sarapan bersama.


Rena terlihat malu malu sementara Hutama malah tertawa, "Bilang saja kau iri dan ingin kan?" ejek Hutama.


"Tidak, sama sekali tidak! aku justru mual melihat tingkah kekanakanmu itu!"


Hutama kembali tertawa, "Aku hanya memperlihatkan rasa sayangku pada kekasihku, apa salahnya?"


Nana memutar bola matanya malas, tak lagi menjawab begitu juga dengan Aiden yang hanya menggelengkan kepalanya tak menyangka pria berdarah dingin seperti Hutama bisa sebucin itu.


"Sebaiknya kalian segera memberikan cucu agar mereka bisa sadar dengan umur mereka!" kata Nana pada Aiden dan Lara.


"Cucu? tidak perlu repot anak ku, kami bisa membuatnya sendiri. aku bahkan berencana memberikan Lara seorang Adik." ucap Hutama membuat Lara dan Rena tersedak bersamaan.


"Apa? tidak mungkin!" kata Rena merasa tak yakin.


"Tidak ada yang tidak mungkin sayang, aku masih bisa melakukannya." kata Hutama penuh percaya diri.


"Tentu saja karena kau sering melakukan dengan para wanita muda."


Hening, tidak ada lagi yang bersuara, bahkan raut wajah Rena pun berubah. Hutama terlihat melototi Aiden karena berbicara sembarangan seperti itu.


Rena segera pergi dari meja makan membuat Hutama panik,


"Sialan, kenapa kau berbicara seperti itu!" umpat Hutama lalu ikut pergi mengejar Rena.


Lara pun juga menatap Aiden, merasa jika candaan Aiden sudah keterlaluan.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Aiden membela diri.


Sementara itu Rena kini duduk dibangku taman disusul Hutama yang ikut duduk di taman.


"Kau pasti marah?"


Rena menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku mengerti kau seorang pria pasti membutuhkan semua itu."

__ADS_1


Hutama tersenyum, Ia mengenggam tangan Rena, "Aku memang sering berpesta dengan wanita muda tapi aku tidak pernah melakukan itu. aku hanya menyentuh mereka tapi tidak pernah melakukan sampai seperti itu." ungkap Hutama berkata jujur.


Selama ini memang Hutama sering berpesta dengan para gadis namun tidak sampai meniduri mereka.


Setelah tidak bersama Rena, Hutama tidak bisa melakukan dengan siapapun karena para gadis itu tidak bisa membuatnya bergairah. Selalu bersama Rena yang Ia inginkan namun waktu itu Ia merasa di khianati dan marah membuatnya melampiaskan dengan para gadis muda namun tidak pernah meniduri mereka.


Rena tersenyum, senyuman yang menandakan jika Rena tidak percaya dengan ucapan Hutama.


"Tidak apa jika kau tidak percaya, tapi aku akan tetap menikahimu." kata Hutama.


"Ya aku tahu, pria pemaksa sepertimu tidak akan menyerah dengan mudah." cibir Rena membuat Hutama tersenyum.


"Karena aku ingin bahagia bersamamu." kata Hutama menarik pinggul Rena agar mendekat ke arahnya. melihat bibir Rena membuat Hutama ingin menciumnya namun sayangnya keduanya dikejutkan oleh benda jatuh dibalik semak semak.


"Siapa yang mengintip!" suara Hutama terdengar kesal.


"Sudahlah, lagi pula apa yang ingin kau lakukan?" Rena menahan tangan Hutama yang hendak melihat ke semak semak.


"Tentu saja ingin mencium mu, aku tidak suka di ganggu saat intim seperti ini."


Rena menggelengkan kepalanya tak percaya, Hutama terlalu bucin padanya hingga lupa dengan umur mereka dan tidak seharusnya mereka melakukan hal seperti itu disini, ditaman belakang villa yang mungkin banyak orang bisa melihat.


...


Meskipun pernikahannya sangat sederhana namun Hutama ingin pernikahan keduanya itu sah di mata agama dan negara.


Selesai melaksanakan ijab dan kabul, Rena dan Hutama bergantian memasangkan cincin lalu Rena mencium tangan Hutama dan Hutama mencium kening Rena.


Sorakan terdengar dari beberapa anak buah Hutama yang berada disana menyaksikan pernikahan Hutama.


Raka terlihat tak menyukai pemandangan seperti ini. Ia akhirnya memilih pergi dari sana meninggalkan acara.


Raka hendak memasuki mobil namun seseorang mendekatinya, "Ini adalah hari pernikahan Tuan kita, kenapa kau harus pergi?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Vans, orang kepercayaan Hutama.


"Bukan urusanmu!" kata Raka menyingkirkan tangan Vans lalu Ia memasuki mobil, "Dia Tuanmu bukan Tuanku!" ucap Raka sebelum Ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat acara.


Vans menatap jalanan yang baru saja dilewati mobil Raka.


Ingatannya melayang mengingat dulu dirinya dan Raka bersahabat namun persahabatan itu hancur perlahan setelah mereka memiliki Tuan yang berbeda. Raka bersama Aiden dan Vans bersama Hutama.


Berkali kali Vans mencoba mendekati Raka agar mereka kembali berteman namun sayang Raka menolak apalagi setelah kematian Friska kekasih Raka membuat Raka semakin membenci Vans.

__ADS_1


Padahal Vans berharap saat ini hubungannya dengan Raka bisa membaik mengingat hubungan Aiden dan Hutama juga sudah membaik.


"Dari mana?" tanya Hutama saat Vans baru saja kembali dari luar.


"Dari luar Tuan, saya baru saja selesai merokok."


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Hutama yang langsung diangguki Vans.


"Tuan ingin berangkat sekarang?"


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar dengan apa yang akan ku lakukan hari ini."


Vans tersenyum, mengingat Hutama sudah tidak lagi muda namun semangatnya masih sangat muda, "Baiklah Tuan saya akan menyiapkan mobil."


Hutama mengangguk, "Perketat penjagaan, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istriku!"


"Baik Tuan."


Hutama kembali memasuki tempat acara, Ia menghampiri istrinya yang sedang berbincang dengan Lara dan Nana.


"Sudah waktunya kita pergi sayang." ajak Hutama.


"Biarkan dia disini dulu, memang kau ingin membawanya kemana?" protes Nana tak dengan nada tak suka.


"Tentu saja aku ingin mengajaknya honeymoon agar bisa membawa adik untuk Lara." ungkap Hutama yang membuat Rena tersenyum malu sementara Lara cukup terkejut mendengar ucapan ayahnya tentang adik untuknya, rasanya terlalu tua bagi Lara memiliki seorang adik.


"Kau memang mengelikan, tidak sadar jika sudah tua, apa kau yakin masih bisa memiliki anak?" ejek Nana.


"Tentu saja masih bisa, jangan meremehkanku, sebaiknya kau cari pendamping lagi agar tidak selalu mencibir ku!" ejek Hutama tak kalah sengit membuat Nana melotot tak terima.


"Sudah sudah, kalian seperti anak kecil saja." lerai Rena bosan melihat Hutama dan Nana yang selalu bertengkar.


"Ayo sayang kita pergi sekarang." ajak Hutama mengandeng tangan Rena membawanya keluar.


"Apa kau juga ingin honeymoon seperti itu?" tanya Aiden tiba tiba merangkul Lara yang memandangi orangtuanya berjalan keluar.


"Tidak, disini saja juga sudah serasa honeymoon."


"Tapi aku ingin, agar kita segera memiliki baby, aku tidak ingin kalah dari pria tua itu." bisik Aiden di telinga Lara.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komeen


__ADS_2