SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
27


__ADS_3

Saat Roy masuk, Salah seorang wanita berdiri lalu dengan hati hati Ia memasukan satu bungkus kecil narkoba di celana Roy setelah itu wanita lain memasukan narkoba ke minuman yang akan diberikan pada Roy. Rencana mudah yang sangat berhasil membuat ketiga wanita itu mendapatkan apresiasi dari bos mereka, Aiden.


Ya Aiden memang menjebak Roy karena Ia merasa geram dengan tingkah Roy. jangan katakan Aiden kejam dan licik karena apa yang dilakukan Roy sangat lah kejam.


"Aku sudah mentransferkan bonus uang untuk kalian." kata Aiden pada ketiga wanita yang baru saja datang setelah berhasil menjalankan misi mereka.


"Terima kasih Tuan Aiden." ketiga wanita itu tampak girang mendapatkan bonus yang mereka tahu itu tidaklah sedikit.


Aiden berjalan memasuki mobil dimana sudah ada Raka disana,


"Kita langsung ke Villa Tuan?" tanya Raka.


"Tidak, kita ke kantor polisi lebih dulu. aku penasaran ingin melihat apa yang dilakukan Roy dirumah barunya." kata Aiden tersenyum puas.


Sampai di kantor polisi, Aiden sudah bisa mendengar teriakan tak terima dari Roy. Suara yang sangat Aiden kenali.


"BUKANKAH SUDAH KU KATAKAN PADA KALIAN JIKA AKU DIJEBAK!" teriak Roy didalam sel yang tidak di gubris oleh para polisi yang berjaga.


"KALIAN TIDAK BECUS BEKERJA, MENANGKAP ORANG YANG SALAH, KALIAN SEMUA BODOH!" kecam Roy yang akhirnya membuat seorang polisi mendekat.


"Diamlah atau ku jahit mulutmu!" ancam polisi itu.


"Aku tidak akan diam sebelum kau melepaskan aku dari sini."


Dor... polisi itu melepaskan tembakan ke lantai membuat Roy menciut takut dan berjalan mundur.


"Jangan terlalu keras padanya, dia hanya ingin membela diri." kata Aiden pada polisi itu.


"Semua bukti sudah ada, dan dia jelas menggunakan narkoba, tapi masih saja protes dan membuat masalah!" kata Polisi itu.


"Bisakah aku bicara dengan nya? aku mengenal pria ini." kata Aiden.


"Silahkan."


Polisi itu pergi meninggalkan Aiden.


"Kau... kau pasti menjebak ku kan Tuan!"


Aiden tersenyum, "Sekarang kau malah menuduhku?"


"Aku sangat yakin kau menyuruh para wanita itu untuk menjebak ku."


"Jadi aku sudah ketahuan sekarang." balas Aiden santai.


"Kau, jadi benar kau, sialan! HEY POLISI, TANGKAP PRIA INI. DIA YANG SUDAH MENJEBAK KU!" teriak Roy lagi.


Aiden tertawa, "Mau teriak sekeras apapun juga tidak akan membuat para polisi itu percaya padamu. menyerah saja dan jalani hukuman."


"Tidak, aku tidak sudi berada disini. aku akan melaporkan mu. kau sudah menjebak ku!" kata Roy sangat marah.


"Laporkan saja dan aku juga akan melaporkan mu."


Roy mengerutkan keningnya,

__ADS_1


"Aku akan mengatakan pada polisi jika kau sudah menjual putri dan kekasihmu padaku. bagaimana? bukan kah itu sangat menarik?" kata Aiden sambil tersenyum membuat Roy mengepalkan tangannya penuh dendam.


"Sialan, jadi kau sudah merencanakan ini semua?"


"Tentu saja, aku ingin pria kejam yang tidak tahu malu sepertimu mendapatkan hukuman."


Aiden tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Roy yang kembali berteriak mengecam dirinya.


"Sudah selesai Tuan?"


"Sudah, aku sangat puas sekali melihatnya menderita." kata Aiden.


"Kita ke villa sekarang Tuan?"


Aiden mengangguk, "Percepat laju mobilmu agar kita segera sampai."


"Baiklah Tuan." balas Raka tersenyum geli.


Sesampainya di villa, Aiden disambut hangat oleh Mbok Nah.


"Nona baru saja tidur Tuan."


Aiden mengangguk, "Apa dia nakal selama aku tidak disini?"


"Tidak Tuan, Nona justru bersikap baik. sepertinya Nona sudah berubah." kata Mbok Nah yang membuat Aiden tersenyum.


Aiden memasuki kamar Lara dimana Ia melihat Lara sudah terlelap di ranjang.


Aiden berjalan mendekat, duduk di pinggir ranjang menatap wajah polos Lara.


Puas memandangi wajah Lara, Aiden keluar dan pergi ke kamarnya untuk mandi.


Lara terbangun, "Aku seperti mendengar suara Aiden."


"Ck, pasti aku hanya bermimpi." gumam Lara melanjutkan tidurnya karena matanya masih lengket.


Setelah mandi dan makan malam, Aiden kembali masuk ke kamar Lara, Ia berbaring disamping Lara, menarik tubuh Lara agar mendekat padanya.


"Ck, kenapa aku bermimpi lagi." gumam Lara membuka sedikit matanya, melihat Aiden berbaring disampingnya dan tersenyum.


"Apa yang kau mimpikan?" tanya Aiden dengan suara pelan.


"Aku bermimpi melihatmu." balas Lara tersenyum, "Aku pasti sudah gila, pria menyebalkan itu pasti belum pulang. aku hanya bermimpi." gumam Lara dengan mata masih terpejam.


Aiden tersenyum geli, "Jadi pria itu menyebalkan?"


"Ya sangat menyebalkan!" Balas Lara.


Karena merasa ada yang aneh, Lara langsung membuka matanya lebar lebar dimana Ia melihat Aiden berada didepan nya dan yang lebih mengejutkan lagi, Aiden tersenyum menatapnya.


"Jadi benar, ini bukan mimpi?"


"Ya, pria menyebalkan ini sudah pulang. apa kau merindukan aku huh?" goda Aiden membuat pipi Lara memerah malu.

__ADS_1


"Tidak! aku sama sekali tidak merindukan mu. aku justru senang kau tidak pulang!" kata Lara ketus.


"Benarkah seperti itu? baiklah jika memang tidak merindukan aku."


Aiden bangun dan hendak pergi namun Lara menahan tangan nya,


"Mau kemana?"


"Tentu saja pergi lagi, kau tidak merindukan aku." balas Aiden santai membuat Lara kesal dan memukuli punggung Aiden.


"Dasar menyebalkan. pria menyebalkan." umpat Lara membuat Aiden berbalik dan menahan tangan Lara agar berhenti memukulinya.


Aiden kembali membaringkan tubuh Lara lalu mengelus lembut pipi Lara.


Cup, satu kecupan mendarat di dahi Lara yang entah mengapa membuat Lara merasa sangat nyaman.


"Ka kamu tidak membunuh Nathan? kamu menyelamatkan nyawanya?" tanya Lara akhirnya.


"Tentu saja, aku bukan pembunuh untuk apa aku membunuh orang." balas Aiden membuat Lara tersenyum.


"Kau senang melihat Nathan tidak mati dan akan mengajaknya kabur lagi?" sindir Aiden.


"Tentu saja tidak, aku bersyukur kau tidak membunuh seseorang karena ku!" balas Lara tak terima.


Aiden tersenyum, "Jadi apa gadis ini nakal selama aku tidak ada?" tanya Aiden sambil mencubit dagu Lara.


"Memang kau pikir aku anak kecil."


"Ya, kau gadis kecil yang sangat nakal." Aiden kembali mencium dahi Lara.


"Dan kau pria tua yang sangat cabul."


"Hey, aku tidak cabul." protes Aiden.


"Kau pria tua, kau sangat cabul. cabul, cabul cabul." ucap Lara sambil terus memukuli dada Aiden.


Aiden tertawa, menahan tangan Lara dan menatap Lara lebih dekat membuat Lara gugup.


Aiden memajukan bibirnya, semakin dekat dan menempel ke bibir Lara.


Lara membuka sedikit bibirnya hingga lidah Aiden bisa masuk ke dalam.


Belum sempat Aiden memberikan *******, Lara mendorong tubuh Aiden hingga terlepas dan Lara berlari ke kamar mandi.


Hoekk...


Hoekkk.


Aiden mendengar suara muntahan Lara segera berlari menghampiri Lara.


"Apa yang terjadi?"


Aiden melihat wajah Lara sangat pucat.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2