SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
76


__ADS_3

Selesai sarapan, Raka segera menuju ke taman dimana Lara duduk disana memandangi taman dengan pandangan kosong.


"Nona..." Sapa Raka yang membuat Lara tersentak dan menggeser tubuhnya, tidak ingin terlalu dekat dengan Raka.


"Nona say-"


"Aku tahu kamu berbohong, kamu membohongi Aiden!" ucap Lara sambil menatap Raka kecewa.


Raka menundukan kepalaya, Ia merasa sangat malu saat ini, seseorang sudah mengetahui kebusukannya.


"Saya tidak bermaksud-"


"Kenapa kamu membohongi Tuanmu sendiri? jelas jelas semalam aku melihat para penjaga pingsan di lantai dan kau berbicara akrab dengan orang misterius itu, aku melihatnya Raka!"


"Maafkan saya Nona, orang itu hanya-"


"Kau mengkhianati Tuanmu?" potong Lara lagi karena Lara tidak ingin mendengarkan penjelasan Raka yang mungkin juga akan berbohong padanya.


"Ti tidak Nona, tentu saja tidak."


"Benar kau mengkhianati Aiden." balas Lara lalu berdiri dari duduknya.


"Satu yang harus kau tahu Raka, Aiden sudah sangat mempercayaimu, dia menganggapmu seperti adik sendiri, jika tahu kau mengkhianatinya, aku tak tahu lagi bagaimana kecewanya Ia padamu." kata Lara lalu meninggalkan Raka yang termenung.


Lara kembali ke kamarnya bersamaan dengan Aiden yang membuka pintu kamar.


"Aku mencarimu sayang." kata Aiden.


Lara memaksakan senyum meskipun Ia tidak bisa tersenyum saat ini, "Aku sudah mengatakan padamu jika aku berada di taman."


"Kau mengujungi Nathan huh!" Aiden terdengar cemburu.


"Untuk apa aku mengunjungi Nathan jika suamiku saja lebih tampan dari Nathan." ungkap Lara yang membuat Aiden tersenyum manis.


"Merayuku huh?"


Lara tersenyum, "Tidak, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"Baiklah, ayo kita jalan jalan ke danau. aku bosan berada disini setiap hari." ajak Aiden yang diangguki Lara.


Keduanya berjalan kaki keluar dari Villa menuju danau didekat Villa mereka.


Aiden membuka tikarnya agar mereka bisa duduk sambil melihat danau juga pemandangan yang indah.


"Bukankah menyenangkan berada disini." gumam Aiden merangkul tubuh Lara.


"Sangat menyenangkan."

__ADS_1


Aiden menatap Lara, "Apa kau masih takut?"


Lara menggelengkan kepalanya, "Tidak,"


"Tapi wajahmu terlihat sangat sedih." ucap Aiden lalu mengelus pipi Lara.


"Aku baik baik saja. aku justru mengkhawatirkanmu."


Aiden tertawa, "Kenapa harus mengkhawatirkan ku?"


"Aku mengkhawtirkan perasaanmu jika nanti kau mengetahui Raka berkhianat." batin Lara.


"Ck, melamun lagi." protes Aiden dan Lara hanya tersenyum.


"Jangan mempercayai seseorang secara berlebihan." kata Lara akhirnya.


Aiden kembali tertawa, "Apa ini tentang Raka lagi?".


Lara menggelengkan kepalanya, "Dengan siapapun, jangan mudah memberi kepercayaan, aku takut kau kecewa nantinya."


Aiden tersenyum, Ia merangkul Lara lebih erat. "Baiklah sayang, mulai hari ini aku hanya akan mempercayaimu saja."


"Aku tidak bercanda."


"Aku juga tidak bercanda sayang." ucap Aiden lalu mencium kening Lara.


"Aku hanya tidak ingin kamu tersakiti karena terlalu percaya dengan seseorang."


Lara tersenyum lega, berharap Aiden benar benar mendengarnya, berharap Aiden tidak terlalu mempercayai Raka.


Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang mengintai mereka dari balik semak, menggunakan ponselnya untuk merekam aktifitas Aiden dan Lara lalu mengirimkan pada seseorang.


"Aku akan mendapatkan bonus dari bos hari ini." ucapnya tersenyum senang.


Sementara itu Hendra baru saja menerima rekaman video dari salah satu anak buahnya yang mengintai di sekitar Villa.


"Gadis ini masih sangat muda, dia juga cantik." ucap Hendra saat memandangi video Lara dan Aiden.


"Tapi putriku lebih berharga dari gadis ini, karena Aiden putriku bahkan kini menjadi gila!"


Hendra melempar ponselnya, mengingat beberapa hari yang lalu Adira putri Hendra harus dibawa kerumah sakit jiwa karena kondisinya yang semakin buruk.


Hendra terus saja menyalahkan Aiden karena Adira sudah terlanjur jatuh cinta pada Aiden dan sudah seharusnya Aiden menikahi Adira bukan malah meninggalkannya, tidak peduli dengan status Aiden sebagai anak kandungnya, Hendra sama sekali tidak peduli. Yang Ia pedulikan hanyalah Adira, anak dari istri sahnya yang memberikan Hendra kekayaan yang berlimpah.


Pintu ruangan diketuk, seseorang memasuki ruangan membuat Hendra tersenyum senang. "Aku menunggumu sejak kemarin dan kau baru datang huh?"


Raka seseorang yang baru saja masuk itu tampak memandangi Hendra dengan pandangan datar.

__ADS_1


"Aku tidak suka caramu bermain, terlalu arogan."


Hendra tertawa, "Bagaimana bisa kau mengatakan aku arogan?"


"Kenapa kau harus membunuh kakek tua yang tinggal di hutan? dia tidak ada masalah apapun dengan kita!" protes Raka terlihat kecewa dan kesal.


Hendra kembali tertawa, "Dia mempersulit pekerjaanku, siapapun yang mempersulit pekerjaanku tentu saja akan ku bunuh!" balas Hendra santai membuat Raka mengepalkan tangannya.


"Aku ingin berhenti!"


Hendra menatap Raka heran, "Berhenti? apa yang kau katakan ini?"


"Aku berhenti, aku tidak akan membantumu lagi. aku akan kembali pada Tuanku."


Hendra tertawa sangat keras, "Kau pikir bisa berhenti semudah itu huh? kita bahkan belum sampai tujuan."


"Aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan mengkhianati Tuan ku lagi!" kata Raka dengan suara lebih keras.


Hendra tampak emosi, Ia mengeluarkan pistolnya dan menodongkan tepat didepan Raka,


"Bunuh saja aku, seharusnya ini yang ku katakan sejak awal, lebih baik aku mati dari pada harus mengkhianati Tuanku." kata Raka terdengar penuh penyesalan.


Hendra kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih sinis, "Jika kau mati lalu siapa yang akan melindungi adik dari kekasihmu yang sudah mati itu." kata Hendra membuat Raka terkejut sangat terkejut karena Hendra mengetahui tentang Nila.


"Sialan, kau."


Hendra tertawa keras, Ia merasa telah mendapatkan kelemahan Raka, "Aku hanya penasaran apa yang akan terjadi pada Nila yang manis itu jika kau tinggal mati."


Raka mengepalkan tangannya, "Jangan menyentuh dia!"


"Tentu saja tidak jika kau terus melanjutkan sampai akhir aku tidak akan menyentuh gadis itu namun jika kau akan kembali pada Tuan mu juga tidak masalah namun jangan salahkan aku jika adikmu itu dinikmati para anak buahku."


Brakk.. Raka mengebrak meja Hendra membuat Hendra tertawa semakin keras.


"Aku tidak akan membunuhmu, kembalilah pada Tuanmu." balas Hendra santai.


"Apa yang kau inginkan huh!"


"Kau sudah tahu rencana kita sejak awal kan? jadi lakukan saja sampai semua berakhir dan Nila akan aman." kata Hendra.


Raka diam, Ia sungguh tak tahu lagi apa yang harus Ia lakukan. Karena kebodohannya semua orang akan jadi korban Hendra.


Nila, Raka tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada gadis itu karena Nila adalah peninggalan Friska yang sangat berharga, yang harus Ia jaga. Raka sangat tidak menyangka Hendra bisa mengetahui tentang Nila, posisinya benar benar terancam sekarang.


Raka melajukan mobilnya keluar dari istana Hendra, tanpa disadari dari jauh ada seseorang yang mengintai dirinya.


"Sial, bodoh! apa yang kau lakukan sebenarnya!" umpat orang itu yang mengetahui jika Raka benar benar berkhianat.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yahh


__ADS_2