SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
78


__ADS_3

Hutama memasuki istana nya, keadaanya juga sama saja seperti saat divilla Aiden. Semua penjaga rumah tertembak mati dan para maidnya disekap digudang belakang.


"Nyo nyonya dibawa pergi oleh para penculik itu Tuan." adu Bik Siti pada Hutama.


Hutama membanting guci yang ada disampingnya, Ia benar benar sangat marah saat ini.


"Sial, apa yang sebenarnya dia lakukan." umpat Hutama dengan mata memerah.


"Tuan, sebaiknya kita segera menemui Hendra." ajak Vans.


"Ya, aku memang ingin kesana sekarang, siapkan semua pasukan yang kita punya." perintah Hutama yang langsung di angguki Vans.


Mereka sampai di istana Hendra dengan membawa banyak pasukan namun Hutama dibuat tercengang saat istana Hendra sama sekali tidak dijaga padahal tadinya Hutama berniat ingin mengajak perang Hendra.


"Wah wah, ada apa ini, kenapa ramai sekali?" tanya Hendra yang baru saja keluar dari istananya melihat Hutama berdiri disana.


"Masuklah kawan, apa yang kau lakukan disini?" tanya Hendra terdengar ramah.


"Jangan bersandiwara, dimana anak dan istriku!"


Hendra menatap Hutama heran, "Apa maksudmu, aku tidak mengerti."


"Jangan pura pura bodoh, aku tahu kau menculik putri dan istriku!"


Hendra tertawa, "Aku bahkan tidak tahu jika kau memilki putri dan juga seorang istri, apa karena hubungan kita yang semakin jauh membuatku tidak mengetahui tentangmu?"


"Jangan pura pura bodoh, cepat katakan dimana istri dan putriku!" Hutama terlihat sudah emosi.


"Aku benar benar tidak tahu." balas Hendra santai.


"GELEDAH SEMUA TEMPAT INI!" perintah Hutama pada anak buahnya.


Segera anak buah Hutama mengeledah seluruh tempat di istana milik Hendra namun sayangnya mereka tidak menemukan apapun.


"Bagaimana? kau sudah mendapatkan apa yang kau cari?" tanya Hendra tersenyum mengejek.


"Jika terjadi sesuatu pada putri dan istriku, aku akan membunuhmu!" ancam Hutama yang membuat Hendra tertawa.


"Kau bahkan tidak memilki bukti apapun dan kau berniat membunuhku? aku sangat sedih melihat temanku kejam seperti ini sekarang." ucap Hendra dan kembali tertawa.


Hutama yang sudah sangat emosi akhirnya menodongkan pistolnya tepat didepan kepala Hendra.


"Bunuh saja aku, kau juga tidak akan mendapatkan apapun dariku!" balas Hendra terlihat santai.

__ADS_1


Hutama kembali memasukan pistolnya, Ia segera pergi dari istana Hendra. melihat wajah Hendra membuatnya semakin muak.


"Cari dimanapun keberadaan istri dan putriku." perintah Hutama pada para anak buahnya.


"Baik Tuan."


"Dan kita kembali ke villa Aiden, kita tunggu disana sampai Aiden kembali." kata Hutama pada Vans.


"Baik Tuan."


Mobil Hutama melaju meninggalkan istana Hendra menuju Villa Aiden.


Setelah melihat semua orang sudah pergi, Hendra menelepon seseorang, "Sudah aman, bawa mereka kemari." kata Hendra lalu mengakhiri panggilan.


Tak berapa lama sebuah mobil memasuki istana Hendra, seorang pria bertubuh kekar keluar dari sana dan setelah itu memaksa dua wanita yang terikat ikut keluar bersamanya. Dua wanita yang tak lain adalah Lara dan Rena.


"Lepaskan aku!" teriak Lara memberontak sementara Reni terlihat lemas tak berdaya mengikuti perintah anak buah Hendra.


"Wah wah, kita bertemu lagi Nyonya." sapa Hendra pada Rena.


Rena menatap tajam Hendra, sementara Lara tampak terkejut melihat Ibunya sudah mengenal pria yang menculik mereka.


"Ibu, siapa dia? ibu mengenalnya?" tanya Lara yang langsung di gelengi oleh Rena.


"Dan gadis ini, ah kau istrinya Aiden ya? kau terlihat cantik jika dilihat secara langsung seperti ini Nona." ucap Hendra membuat Lara lagi lagi terkejut nama Aiden dibawa.


"Jangan berani kau menyakiti putriku!" ucap Rena masih menatap Hendra tajam.


Hendra tertawa, "Tidak sekarang, tapi aku juga tidak janji putrimu akan baik baik saja."


"Apa masalahmu Tuan? aku tidak mengenalmu!" ucap Lara menantang Hendra.


"Kau memang tidak mengenalku dan kita memang tidak memiliki masalah apapun namun karena kau, Aiden meninggalkan putriku hingga membuat putri ku gila!"


Lara terkejut, tiba tiba Ia ingat tentang undangan pertunangan milik Aiden waktu itu, "Ja jadi wanita itu adalah putri dari pria ini?" batin Lara menebak.


"Bawa mereka masuk ke kamarku, aku ingin menikmati mereka sebelum akhirnya ku bunuh." perintah Hendra.


Lara semakin memberontak, "Sialan, apa yang kau lakukan pria tua brengsek" umpat Lara pada Hendra.


Lara dan Rena dilempar ke ranjang big size milik Hendra.


"Mungkin setelah Tuan menikmatimu, aku juga ingin menikmatimu juga Nona." ucap salah satu pria kekar lalu tertawa nakal.

__ADS_1


"Brengsek, sebelum kalian menyentuhku, suamiku akan lebih dulu membunuh kalian!" kata Lara yang langsung membuat para pria kekar itu tertawa.


"Kami sangat takut Nona, tapi sepertinya Suamimu yang akan lebih dulu di bunuh oleh asistennya sendiri." kata salah satu pria itu sebelum akhirnya mereka keluar meninggalkan Lara dan Rena.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Raka membunuh Aiden. jangan ... jangan sampai!" Lara terlihat sangat shock.


"Sayang, tenangkan dirimu. kita berdoa saja semoga ayahmu segera datang dan menyelamatkan kita."


"Tapi Bu, bagaimana jika Raka benar benar membunuh Aiden? dia sudah berkhianat, aku sudah mengatakan pada Aiden namun dia tidak percaya jika Raka berkhianat."


"Semua akan baik baik saja. kita akan selamat. Aiden dan Ayahmu akan menyelamatkan kita." kata Rena memberikan ketenangan pada Lara namun tetap saja Lara tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Sejak siang, Lara dan Rena hanya bisa meratapi nasib mereka sambil berdoa, berharap Aiden dan Hutama segera menyelamatkan mereka.


Hari sudah malam, pintu terbuka memperlihatkan Hendra yang memasuki kamar sambil membawa sebotol bir. Saat ini Hendra sudah mengenakan jubah mandi, seolah sudah siap untuk menikmati Lara dan Rena.


"Wanita wanita cantik, Hutama dan Aiden sangat beruntung mendapatkan kalian." ucap Hendra sambil menuangkan bir ke dalam gelasnya.


"Apa yang akan kau lakukan? lepaskan kami." pinta Rena.


Hendra tertawa, Ia membawa segelas bir mendekat ke arah Rena.


"Tentu saja aku ingin bersenang senang dengan kalian berdua." kata Hendra menyentuh dagu Rena.


Rena meludahi wajah Hendra, "Jangan menyentuhku!" Rena terlihat marah.


Plakkk... Hendra membalasnya dengan menampar Rena.


"Sial, jangan menyakiti Ibuku." sekuat tenaga Lara mendekat ingin menendang Hendra namun tidak bisa karena kakinya juga terikat.


Hendra tertawa, Ia menarik tubuh Rena dan membawanya ke sofa, "Aku akan menikmati ibumu lebih dulu sebelum kau selanjutnya," kata Hendra membuat Lara benar benar marah sementara Rena sudah menangis, Ia tak tahu lagi apa yang harus Ia lakukan.


Hendra memandangi kaki mulus milik Rena yang hanya mengenakan rok selutut. Ia mulai membuka kancing baju Rena hingga terlihat bra yang Rena pakai.


"Lihatlah tubuh mulus ini, pantas saja Hutama tergila gila padamu." ucap Hendra.


Hendra menyiramkan bir ke leher Rena hingga menetes ke bawah membasahi baju Rena, "Aku ingin menyesapi bir mahal ini pada tubuh wanita cantik sepertimu."


Namun baru ingin mendekatkan bibirnya, Pintu kamar terbuka kasar dan ...


Dorr...


Tembakan melesat mengenai lengan Hendra.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


jgn lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2