
Hutama menatap ke arah Rena yang tampak gelisah. Ia akhirnya mendekati Rena, duduk disamping Rena,
"Ada apa sayang?"
"Tiba tiba aku memikirkan Roy!" kata Rena yang langsung membuat Hutama kesal,
"Untuk apa memikirkan pria itu, apa kau masih mencintainya huh!"
"Tidak sayang, bukan seperti itu. aku hanya ingin menemuinya sebentar, apa boleh?" tanya Rena membuat Hutama melotot tak percaya.
"Kau bisa ikut denganku." kata Rena memaksa yang akhirnya dituruti oleh Hutama.
Kini mereka sudah berada dikantor polisi, menunggu Roy dipanggil polisi.
"Ti tidak, tidak mungkin!" Roy tak percaya melihat Rena yang menatap ke arahnya.
Seketika Roy menangis, Ia ingin mendekat namun ada seorang pria yang mencegahnya, "Jaga jarak bung!" ucap Pria itu yang tak lain adalah Hutama anak dari Tuan nya.
"Jadi aku sudah ditipu selama ini?" Roy tertawa, menertawakan dirinya.
"Bukankah seorang penipu memang pantas ditipu?" sindir Hutama.
Roy tersenyum membenarkan ucapan Hutama, "Aku sangat senang dan bersyukur kau masih hidup Rena, aku menjaga putri kita dengan baik." ungkap Roy.
Hutama tertawa, "Menjaga putri kita dengan baik? apa kau yakin?" tanya Hutama membuat Rena menatap ke arahnya memintanya untuk berhenti.
"Aku sangat berterimakasih padamu karena kau mau menjaga Lara namun bukan penjagaan seperti itu yang ku inginkan." kata Rena membuat Roy tertunduk.
"Sejak awal kau hanya menginginkan ku bukan Lara dan setelah aku tahu apa yang sudah kau lakukan pada putriku, aku sudah memaafkanmu." ungkap Rena lagi.
"Tapi aku belum!" tambah Hutama yang langsung mendapatkan pelototan dari Rena.
__ADS_1
"Kenapa? dia yang sudah membuat kita berpisah." protes Hutama tak terima mendapatkan pelototan Rena.
"Itu karena kau bodoh!" ejek Roy.
"Tutup mulutmu, kau sendiri pun juga bodoh tak tahu jika Rena masih hidup." balas Hutama tak mau kalah.
"Karena kau licik, sangat licik!"
Hutama tertawa, "Akui saja kebodohanmu, jangan menyalahkan orang lain."
Roy terdiam sejenak sebelum akhirnya mengatakan, "Jika aku tidak membawa Rena kabur waktu itu mungkin Rena sudah mati di tangan orangtuamu." jelas Roy membuat Hutama terkejut.
"Sudah jangan dibahas lagi, semua sudah berlalu. aku kesini hanya ingin mengatakan padamu jika kita sudah resmi bercerai dan aku sudah menikah dengan Hutama." ungkap Rena membuat Roy lemas seketika berbeda dengan Hutama yang menertawakan kekalahan Roy.
"Bukankah semua akan kembali pada pemiliknya?" ejek Hutama lagi.
Rena hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Hutama, Ia segera membawa pergi Hutama sebelum terjadi pertumpahan darah diantara mereka.
"Jangan bersikap kekanakan."
"Aku hanya kesal karena dia telah kejam dengan putri kita!"
"Iya aku tahu namun semua telah berlalu sayang, lagipula bukankah kau juga kejam denganku?"
"Baiklah, baiklah aku kalah sekarang." balas Hutama yang langsung membuat tersenyum.
Rena memeluk Hutama, "Tentu saja kau pemenangnya karena akhirnya bersama ku." ucap Rena membuat Hutama ikut tersenyum.
"Finally, setelah beberapa tahun akhirnya kita bisa bersama sayang."
"Ya, aku juga sangat bersyukur." balas Rena yang membuat pelukan keduanya semakin erat.
__ADS_1
Sementara itu, Aiden baru saja sampai divilla namun Ia tak segera turun dari mobilnya. Ia teringat beberapa tahun silam saat Ia mencari tahu siapa pembunuh ibunya, bukan Hendra memang bukan Hendra pembunuh ibunya melainkan adalah istri dari Hendra, ibu Adira.
Meski begitu, Hendra juga termasuk penyebab ibunya meninggal. Hendra tidak bisa membela Miranti bahkan dia datang terlambat, saat rumahnya terbakar waktu itu, Ia sedang berada diluar bersama sanaknya sementara sang Ibu sedang tidur didalam karena sakit. kebakaran itu membunuh ibunya dan setelah itu barulah Hendra datang. Hendra pikir Ia dannIbunya mati dalam kebakaran itu namun Hendra salah karena dirinya masih hidup dan memang enggan bertemu dengan Hendra yang mengaku sebagai Ayahnya.
Sejak saat itu, sanak Ibunya menitipkan Aiden dipanti. Hidup dipanti tanpa kasih sayang seorang ibu benar benar menyiksa Aiden sampai akhirnya Ia bertemu dengan Ibu Rena yang begitu tulus menyayangginya.
Mengingat itu Aiden kembali merasakan kebencian. Ia sangat benci pada Hendra juga Ibu Adira meskipun Ibu Adira sudah meninggal saat ini namun Ia masih membencinya.
Tuk tuk tuk...
Kaca mobil diketuk seorang wanita cantik yang tak lain adalah Lara istri Aiden.
Melihat Lara seketika kebencian Aiden menghilang, Lara bagaikan obat untuk dirinya.
Aiden tersenyum, Ia membuka pintu dan langsung memeluk hangat istrinya itu.
"Apa kau merindukanku?"
"Tidak, aku hanya heran kenapa kamu melamun didalam sana." balas Lara merasa malu saat Aiden memeluknya karena mereka berada diluar.
"Aku tidak melamun, aku hanya memikirkanmu."
"Dasar perayu." kata Lara memukul lengan Aiden.
Aiden tertawa, "Terimakasih, sudah hadir dan memberikan warna baru di hidupmu, bukan lagi warna hitam kebencian melainkan warna pelangi yang memberikan kebahagiaan." ucap Aiden membuat Lara tersipu malu.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" heran Lara tak tahan mendengar ucapan Aiden.
Aiden tak menjawab, Ia malah mengendong Lara membawa masuk ke dalam membuat Lara memberontak karena malu para maid dan penjaga Villa melihat aksi romantis Aiden.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangann lupa like vote dan komenn....