SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
63


__ADS_3

Pagi ini Lara bangun dalam keadaan yang lebih baik. Setelah semalaman Aiden menemaninya bahkan tidur memeluknya semalaman membuatnya lebih baik.


"Mau kemana?" tanya Aiden saat Lara beranjak dari ranjang.


"Mandi."


Aiden ikut bangun, "Ayo mandi bersama." Aiden menghampiri Lara.


"Mandi bersama?" Lara tiba tiba gugup, Ingat jika mereka sudah tidak melakukannya cukup lama pasca keguguran.


"Ya mandi bersama, kita berendam dibath up, aku akan menggosokan punggungmu dan kau juga harus menggosokan punggungku." kata Aiden sambil tersenyum tengil.


"Ta tapi-"


"Jangan banyak protes, aku ingin melakukan hal yang menyenangkan bersamamu." kata Aiden merangkul bahu Lara dan membawanya ke kamar mandi.


Lara menutup matanya saat melihat Aiden membuka baju dan celananya hingga polos tak mengenakan apapun, Aiden langsung memasuki bath up yang sudah berisi air busa.


"Apa yang kau lakukan sayang? kemarilah." Aiden tertawa melihat Lara menutup matanya, segera Ia meminta Lara mendekat.


"Ak aku juga harus membuka bajuku?"


Aiden kembali tertawa, "Tentu saja, cepat kemarilah."


"Tutup matamu, jangan melihatku membuka baju."


Aiden tertawa, "Padahal aku sudah melihat semuanya, kenapa masih malu."


"Ck, kubilang tutup matamu."


"Baiklah, baiklah." Aiden menurut dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Lara ikut masuk ke bath up dan duduk memunggungi Aiden.


"Apa aku sudah boleh membuka mataku?" tanya Aiden pura pura padahal sedari tadi Ia mengintip.


"Ya."


Aiden menarik tubuh Lara membawanya semakin dekat, tangannya kini sudah berkelana kemana mana, bibirnya juga tak mau kalah, menciumi belakang leher jenjang Lara.


"Kau bilang ingin menggosok punggung?" protes Lara membuat Aiden tertawa.


Aiden menghentikan gerakan tangannya yang nakal dan beralih menggosok punggung mulus milik Lara.


"Sial, aku sudah tidak tahan lagi." batin Aiden saat miliknya sudah berdiri tegak dibawah sana.


"Aku sudah selesai, sekarang waktunya kau menggosokan punggungku." kata Aiden membuat Lara berbalik.


"Kenapa tidak berbalik?" tanya Lara melihat posisi Aiden masih sama.

__ADS_1


Aiden tak menjawab, Ia menarik tubuh Lara membawanya ke pangkuan, "Ternyata ada hal lain yang lebih menarik dari gosok menggosok." kata Aiden memulai aksinya mencium bibir Lara dengan tangan yang sudah berkelana kemana mana.


Lara pasrah saja dengan apa yang Aiden lakukan karena memang ini sudah kewajibannya sebagai seoarang istri, melayani suaminya meski Ia masih sangat gugup dan jantungnya berdegup sangat kencang.


Mereka melakukan dibath up sekali dan saat kembali ke kamar, mereka melakukan nya lagi lagi dan lagi seolah tidak ada lelahnya.


"Kau sekarang sudah mulai menikmatinya sampai mengeluarkan suara yang indah." kata Aiden membuat Lara menutup wajahnya merasa malu.


Aiden tertawa, "Tidak apa, aku sangat menyukainya. teruslah bersuara seperti ini jika kita sedang melakukannya."


Lara ikut tersenyum, Ia sendiri tak mengerti kenapa bisa mengeluarkan suara seperti itu. Ia merasa sangat nikmat hingga suara itu muncul dengan sendirinya.


"Kau seharusnya menjadi kakak ku tapi malah cabul padaku." celoteh Lara membuat Aiden kembali tertawa.


"Hey, aku sudah menjadi suami mu sekarang!"


"Jika Ibu masih ada mungkin Ibu akan marah karena kau malah menikahiku!"


Aiden terdiam, "Kau merindukan Ibu?"


"Aku bahkan tidak bisa mengingat wajah Ibuku, aku hanya ingat namanya, itupun karena Ayah Roy yang membawaku ke makam Ibu."


"Apa kau ingin kita kesana lagi? kita menjenguk Ibu bersama sama?" tawar Aiden.


"Apa boleh?"


"Tentu saja boleh sayang." Aiden mencium kening Lara.


Aiden mengangguk, Ia memeluk tubuh Lara, memberikan ketenangan untuk Lara.


Siang ini, Lara dan Aiden bersiap untuk pergi ke makam Ibu. Saat mereka keluar kamar, Ada Nathan dan Risa menunggu keduanya.


"Tuan Nyonya, Risa ingin berbicara sebentar dengan Tuan dan Nyonya." kata Nathan mengawali.


Aiden menatap Risa malas berbeda dengan Lara yang menyambut Risa dengan baik.


"Baiklah ayo kita duduk dan berbicara sebentar." ajak Lara dan akhirnya mereka duduk disofa yang ada diruang tamu.


Dengan wajah penuh penyesalan, Risa akhirnya mengungkapkan isi hatinya.


"Saya ingin meminta maaf kepada Nyonya atas apa yang sudah saya ucapkan tempo hari yang membuat Nyonya menjadi sakit."


"Berarti benar kau penyebab istriku keguguran!" timpal Aiden dengan suara membentak membuat Risa ketakutan.


Lara menyentuh tangan Aiden, memberi kedipan mata agar Aiden tidak terlalu galak pada Risa.


"Maaf Tuan, saya benar benar tidak menyangka ucapan saya membuat Nona sampai keguguran." Risa mulai menangis.


"Sudah sudah, jangan pikirkan lagi. bukan salahmu atas apa yang sudah terjadi padaku, memang takdirnya harus seperti itu." kata Lara merasa kasihan dengan Risa yang menyesali perbuatannya meskipun Lara sendiri masih merasa sakit hati dengan ucapan Risa.

__ADS_1


"Kau terlalu baik sayang." cibir Aiden terlihat masih saja kesal dengan Risa.


"Sudahlah jangan diperpanjang lagi, semua sudah berlalu. kita marah pun juga percuma, bayi kita tidak akan kembali." kata Lara pada Aiden.


"Jadi apa Nona mau memaafkan saya?" tanya Risa penuh harap.


"Tentu saja, aku sudah memaafkan semuanya. aku tahu kau pasti kesal padaku karena aku dan Nathan dekat ja-"


"Kau dan Nathan dekat?" Potong Aiden memandangi Nathan dan Lara secara bergantian.


"Tuan jangan salah paham dulu, tidak seperti itu." kata Nathan takut Aiden salah paham lagi.


"Dekat sebagai teman, aku suka berada di taman membantu Nathan merawat taman, apa itu salah?" tanya Lara mencari pembelaan.


"Ck, aku akan mengawasimu mulai sekarang!" kata Aiden pada Nathan membuat Nathan mengangguk lalu menunduk tidak berani menatap Aiden.


"Saya memang cemburu waktu itu karena sering melihat Nona bersama Nathan di taman namun ternyata saya salah sangka. cinta Nona hanya untuk Tuan, dan Nathan hanya milik saya." tambah Risa.


"Kau jangan membela pacarmu!"


"Tidak Tuan, saya bisa memastikan jika mereka hanya berteman."


Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berkata, "Sebaiknya kau bekerja disini lagi saja dan awasi pacarmu baik baik. kau tidak jadi kupecat."


Risa tersenyum senang, "Terima kasih Tuan, terima kasih. saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."


"Jika kau sampai melakukan hal buruk pada istriku, kau langsung ku penggal, ingat itu!"


"Baik Tuan, baik saya akan bekerja dengan baik mulai sekarang."


"Jadi semua masalah sudah selesai, aku dan Aiden harus pergi ke suatu tempat jadi kalian jaga rumah baik baik ya." kata Lara mengakhiri perbincangan mereka.


"Baik Nona."


Aiden segera mengajak Lara keluar,


"Kau lihat, bukankah mereka sangat baik?"


Risa mengangguk, "Aku menyesal pernah berbuat jahat pada Nona Lara."


Nathan merangkul bahu Risa, "Sudah yang terpenting sekarang kita berubah lebih baik lagi." kata Nathan dan Risa mengangguk setuju.


Diluar, saat Aiden dan Lara akan memasuki mobil, ada dua mobil mewah yang memasuki pekarangan Villa.


"Ck, untuk apa pria itu kesini!" kesal Aiden melihat mobil Hutama yang datang.


Aiden berjalan menghampiri Hutama yang baru saja keluar dan langkahnya terhenti kala melihat seorang wanita ikut keluar dari mobil Hutama.


"Ti tidak mungkin..."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jgan lupa like vote dan komenn yahh


__ADS_2