SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
28


__ADS_3

Aiden mengendong tubuh Lara ke ranjang. Ia tampak mengkhawatirkan Lara apalagi melihat wajah Lara yang sangat pucat.


"Apa yang kau makan hari ini? wajahmu sangat pucat." kata Aiden mengelus kepala Lara, memegang dahi Lara dan merasakan suhu normal.


"Entahlah, aku tadi baik baik saja namun saat kau mencium ku mendadak aku merasa sangat mual."


Aiden segera mencium bau mulutnya, "Aku sudah mengosok gigi malam ini dan mulutku juga tidak bau."


Lara tersenyum geli, "Ini bukan karena mulut mu bau, mungkin aku saja yang sedang mual."


"Tunggu di sini aku akan meminta Mbok Nah membuatkan sesuatu untuk meredakan rasa mualnya."


Aiden pergi ke dapur mencari Mbok Nah, beruntung Mbok Nah masih berada didapur.


"Lara mual, bisakah membuatkan sesuatu untuk meredakan mual nya?"


Mbok Nah terkejut, "Nona mual?"


"Iya, tolong buatkan sesuatu untuk meredakan mualnya Mbok." pinta Aiden sekali lagi.


"Nona tidak pernah mual sebelumnya, apa jangan jangan..."


Aiden mengerutkan alisnya, "Jangan jangan apa Mbok?"


"Tidak ada Tuan, biar saya buatkan teh hangat untuk Nona." kata Mbok Nah yang langsung di angguki Aiden.


Aiden kembali ke kamar Lara, melihat Lara berbaring lemas.


"Apa aku harus memanggil Devan?" gumam Aiden.


"Tidak, tidak perlu memanggil dokter, aku sungguh baik baik saja." kata Lara yang mendengar gumaman Aiden.


"Apa kau yakin sayang? aku sangat khawatir." kata Aiden yang entah mengapa pipi Lara langsung memanas mendengar Aiden memanggilnya sayang.


"Iy iya, aku baik baik saja." Lara menunduk, tak ingin Aiden melihatnya tersipu malu.


Pintu terbuka, Mbok Nah membawa secangkir teh hangat untuk Lara.


"Tadi sore Nona baik baik saja." kata Mbok Nah mengulurkan teh pada Lara.


"Aku juga tidak tahu Mbok, mendadak perutku sangat mual."


"Apa Nona juga merasa pusing?"


Lara mengangguk, "Sedikit pusing."


Tanpa ragu Mbok Nah memegang perut Lara, untuk menghilangkan kecurigaan yang terlintas di pikiran nya.


"Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Aiden saat melihat wajah terkejut Mbok Nah.


"Saya juga tidak yakin Tuan, untuk lebih jelasnya sebaiknya Tuan memanggil Dokter Devan untuk memeriksa nona." kata Mbok Nah yang sebenarnya sudah tahu namun Ia ragu untuk mengatakan nya, takut salah.


"Tidak perlu, setelah minum teh mungkin akan reda." kata Lara.


"Baiklah, tapi jika kau mual lagi aku akan memanggil Devan untuk memeriksamu." kata Aiden yang langsung di angguki Lara.


Mbok Nah keluar membawa cangkir kosong, setelah menutup pintu kamar Lara, Mbok Nah terdiam sejenak.


"Aku yakin ada sesuatu di rahim Nona, apa mungkin Nona hamil? ah sudah lah sebaiknya aku jangan ikut campur." kata Mbok Nah segera kembali ke dapur.


Aiden menyelimuti Lara, Ia mengelus dahi Lara dan juga mengecupnya.


"Tidurlah, aku tidak akan menganggu lagi."

__ADS_1


Lara menatap Aiden, "Apa kamu akan pergi lagi?"


Aiden mengangguk, "Mungkin besok pagi, ada apa?"


Lara menggeleng, "Aku hanya bosan."


Aiden tersenyum, "Ajak Mbok Nah jalan jalan, didekat villa ada danau, kau bisa kesana namun jangan sendirian."


"Bolehkah?"


"Tentu saja boleh, asal jangan kabur lagi!" kata Aiden mencubit hidung Lara.


"Tidak, aku tidak akan kabur lagi. lagipula untuk apa aku kabur lagi, disini hidupku sudah terjamin meskipun sangat membosankan tapi aku tidak perlu mencuci piring lagi untuk makan." ungkap Lara dengan mata berlinang.


"Apa mau mengungkapkan rasa sedihmu?"


"Mana ada, kau tidak lihat aku baik baik saja."


Aiden tersenyum, "Kau sedih, terlihat dari mata mu. apa yang kau pikirkan?"


Lara menundukan kepalanya, Ia ingin menahan tangisnya namun akhirnya pecah juga,


"Ak aku merindukan Ayah ku, apa kau tahu kabar tentang Ayah ku?" tanya Lara akhirnya mengungkapkan isi hatinya.


Aiden menghela nafas panjang, "Apa kau tidak membenci Ayahmu? dia sudah menjualmu."


Lara menggeleng, "Aku tidak pernah membenci Ayah, mau bagaimanapun hanya Ayah yang ku miliki saat ini."


"Kau mempunyai aku sekarang." kata Aiden yang kembali membuat pipi Lara memanas.


"Pipi mu merah seperti tomat membuatku gemas saja." kata Aiden lagi sambil mencubit pipi Lara.


"Berhentilah mengodaku!"


Aiden tersenyum, "Aku tidak mengoda, aku mengatakan yang sebenarnya."


"Dia dipenjara." ungkap Aiden jujur membuat Lara sangat terkejut.


"Di penjara? bagaimana bisa? memang apa yang sudah Ayahku lakukan?"


"Dia menjual kekasihnya padaku seharga satu milyar, setelah itu berpesta dengan para gadis dan digrebek polisi. Ayahmu kedapatan menggunakan narkoba." jelas Aiden jujur.


"Menjual kekasihnya? apa itu May?"


Aiden mengangguk,


"Astaga, Ayah benar benar sudah keterlaluan!"


"Jadi apa kau masih merindukan Ayah mu?"


Lara diam,


"Dimana May? apa kau menempatkan dia di villa mu yang lain?" tanya Lara menatap Aiden curiga.


"Apa kau mencurigaiku atau kau cemburu?"


Lara gugup, "Tidak keduanya."


Aiden tertawa, "Jika kau ingin aku berkata jujur, katakan apa kau cemburu jika aku menempatkan May di villa ku yang lain?"


Lara menatap Aiden sebal, "Aku hanya ingin tahu saja, bukan berarti cemburu."


Aiden kembali tertawa, "Kau galak juga ternyata."

__ADS_1


"Jadi dimana May?" tanya Lara masih penasaran.


"Dia sudah berada ditempat dimana Ia berasal dulu."


Lara mengerutkan keningnya tak mengerti,


"Dia kembali bekerja di club malam ku, apa kau puas sekarang?"


Lara mengangguk, disatu sisi Ia merasa senang karena May sudah tidak akan meminta uang pada Ayahnya lagi namun di sisi lain Ia juga merasa kasihan dengan May yang harus kembali menjual diri lagi.


"Tutup matamu, waktunya kembali tidur." kata Aiden.


"Aku sudah tidak mengantuk lagi."


"Lalu aku akan membuatmu kembali mengantuk." kata Aiden sudah memanyunkan bibirnya ingin kembali mencium Lara namun dengan cepat Lara menutup wajahnya menggunakan selimut.


"Baiklah aku akan tidur sekarang." ucap Lara di balik selimut.


Aiden tersenyum melihat tingkah Lara, Ia ikut berbaring disamping Lara dan terlelap bersamanya.


Pukul tiga pagi, Aiden dikejutkan oleh suara Lara di kamar mandi.


Ia mendengar Lara muntah muntah lagi.


Aiden segera menyusul ke kamar mandi dan melihat Lara tergeletak lemas di kamar mandi.


"Apa yang terjadi? kau muntah lagi?"


Lara mengangguk lemas,


Aiden mengangkat tubuh Lara membawanya kembali ke ranjang. Aiden segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Devan.


"Ini masih sangat pagi untuk buka praktek, aku tidak akan kesana." kata Devan di dalam telepon.


"Jika kau tidak segera kesini, aku akan menyebarkan video mesum mu bersama para perawat mu itu." ancam Aiden.


"Sialan kau, baiklah aku akan kesana sekarang!"


Aiden mengakhiri panggilan nya, Ia tersenyum puas bisa mengancam Devan.


Devan sampai di villa Aiden dan masih mengenakan piyama tidur,


"Apa yang terjadi padamu Nona?"


"Perutku mual dan aku juga merasa pusing." keluh Lara.


Devan memeriksa Lara menggunakan steotoskopnya,


"Apa yang kau lakukan?" protes Aiden saat Devan membuka baju Lara.


"Aku hanya ingin memeriksa perutnya, apa masalahmu!"


"Ck, kau mencari kesempatan huh!"


Devan mengabaikan Aiden dan melanjutkan memeriksa,


"Wohoo hebat sekali. congrats brother sebentar lagi kau akan menjadi Ayah."


Lara dan Aiden sama sama terkejut,


"Kau hamil Nona, segera ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut."


"Ha hamil?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2