
Sebelum ke kota, Aiden mengantar Lara ke klinik lebih dulu untuk check up kandungan Lara.
Mereka menemui dokter Clara, dokter kandungan terbaik di klinik itu.
Saat sedang menunggu diruang tunggu, ponsel Aiden berdering mengejutkan lamunan keduanya. Aiden merogoh ponselnya, melihat nomor baru menghubungi dirinya, segera Aiden menolak panggilan itu lalu kembali memasukan ponsel ke dalam saku celana nya.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Lara.
"Tidak penting." balas Aiden yang mengetahui jika nomor yang menghubunginya itu adalah nomor Adira yang tidak Ia simpan.
"Ck, kamu terlalu meremehkan sesuatu." gerutu Lara.
Ponsel Aiden kembali berdering, kali ini Aiden mendiamkan nya sampai ponsel itu mati namun kembali berdering lagi berkali kali membuat Lara menatap Aiden penuh tanya dan Aiden menjadi kesal.
Aiden merogoh ponselnya dan mematikan ponselnya.
"Selesai." kata Aiden membalas tatapan Lara.
"Kau yakin tidak penting sampai mematikan ponsel?" tanya Lara lagi.
"Penting atau tidak penting, saat ini aku sedang bersama mu dan aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun." balas Aiden yang akhirnya membuat Lara tersipu malu dan akhirnya diam.
Setelah menunggu antrian, kini giliran Lara memasuki ruang periksa dimana sudah ada dokter Clara menyambut mereka.
"Selamat pagi Tuan dan Nona." sambut Clara begitu ramah.
"Periksa dia!" kata Aiden dengan nada galak membuat Lara terkejut dan melotot ke arahnya sementara Clara hanya menghela nafas panjang.
"Kau masih sama saja, masih galak seperti biasanya." kata Clara membuat Lara kembali terkejut.
"Kalian saling mengenal?"
"Ya nona, pria menyebalkan ini teman ku semasa sekolah dan juga mantan kekasihku." kata Clara sambil tersenyum lebar.
Aiden mendengus sebal, "Hanya cinta monyet, wanita ini menjebak ku, menyatakan cinta saat jam istirahat membuat semua orang melihat dan aku terpaksa menerima cinta nya." jelas Aiden tampak kesal.
"Kau tidak pernah mengakui jika kau sangat menyukai ku waktu itu?" protes Clara.
"Aku tidak akan pernah mengakui karena aku tidak pernah menyukai mu!" balas Aiden tak kalah sengit.
Lara hanya diam saja, mendengar kedua orang di depan nya itu berdebat sampai akhirnya Clara sadar dan merangkul bahu Lara,
"Kita mulai pemeriksaan sekarang nona?" ajak Clara yang langsung di angguki Lara.
Lara berbaring di ranjang, perutnya di sentuh oleh dokter Clara untuk memastikan jika benar Lara sedang hamil.
__ADS_1
"Mungkin usia nya masih empat minggu." kata Dokter Clara.
"Apa keluhan mu?"
"Mual dan pusing." balas Lara.
"Bagaimana dengan makanan apa juga membuatmu mual?"
Lara menggeleng, "Aku tidak merasa mual saat memakan apapun tapi aku merasa mual dan pusing saat Aiden ingin mencium ku." kata Lara jujur yang langsung membuat Clara tertawa sementara Aiden melotot pada Lara.
"Seharusnya jangan katakan hal seperti ini padanya." protes Aiden membuat Clara semakin terbahak.
"Kau tahu Aiden, masih di perut saja calon bayi mu sudah malas dengan mu apalagi nanti kalau sudah keluar, bisa bisa kalian menjadi musuh bebuyutan." ejek Clara.
"Tutup mulutmu atau aku akan menutup klinik kecil mu ini!"
"Hey berhenti menghina klinik ku, meskipun ini masih kecil tapi dengan klinik ini aku bisa membantu orang orang yang tinggal di daerah terpencil ini untuk melahirkan." kata Clara yang akhirnya membuat Aiden diam.
"Tidak apa apa Nona, sudah biasa saat umur kehamilan masih empat minggu, masih rentan dan sensitif dengan sesuatu, selama itu tidak menganggu pola makan, tidak masalah." kata Clara.
"Akan ku berikan resep vitamin untuk menguatkan kandungan mu nona." kata Clara mulai menulis resep vitamin yang harus ditebus.
"Sudah? tidak ada masalah kan?" tanya Aiden setelah selesai pemeriksaan.
"Terima kasih banyak dokter." ucap Lara saat Ia akan keluar dari ruangan.
"Sama sama Nona cantik, jangan lupa minum vitamin mu juga jangan terlalu banyak berpikir karena bisa membahayakan kandungan mu." kata Clara memperingatkan.
Lara mengangguk, Aiden langsung mengenggam tangan Lara dan berjalan keluar ruangan.
"Tunggu, ngomong ngomong kapan kalian menikah, mengapa aku dan Devan tidak diberi undangan?" tanya Clara saat Aiden dan Lara di puncak pintu.
"Kami belum menikah." balas Lara sambil tersenyum.
"Kami akan segera menikah, tunggu saja aku pasti akan mengundangmu." kata Aiden langsung menarik tangan Lara agar segera keluar dari sana.
"Astaga, apa aku salah bicara?" Clara memukuli bibirnya menggunakan tangan merasa sudah salah bicara.
Aiden dan Lara sudah berada didalam mobil. Aiden mengantar Lara kembali ke Villa sebelum Ia pergi ke kota.
"Jangan pikirkan ucapan Clara, dia memang seperti itu." kata Aiden melihat Lara hanya diam saja selama perjalanan.
"Aku tidak memikirkan apapun."
"Benarkah? jika ku lihat kau sedang cemburu saat ini." goda Aiden membuat Lara melotot tak terima.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak cemburu!"
"Jika tidak cemburu kenapa harus marah?"
"Siapa yang marah? aku tidak marah!" balas Lara lagi.
"Kalau tidak marah kenapa suaramu terdengar ketus?"
"Ck, memang suara ku seperti ini." balas Lara masih tidak mau mengakui.
Aiden yang gemas akhirnya memeluk Lara membuat Lara memberontak karena ada Raka didepan yang sedang menyetir.
"Jangan seperti ini, Raka bisa melihat." protes Lara namun Aiden tidak melepaskan pelukan nya.
"Jangan pikirkan saya Nona, saya tidak melihat apapun." kata Raka yang pura pura tidak melihat romantisme dari kedua majikan nya itu.
"Kau dengar, dia fokus menyetir, tidak melihat kita." bisik Aiden yang akhirnya membuat Lara pasrah dipeluk Aiden padahal Ia sangat kesal dengan Aiden saat ini.
Hingga sampai di Villa, Aiden masih belum melepaskan pelukan nya,
"Aku harus keluar sekarang!"
"Tunggu sebentar lagi." balas Aiden masih memeluk Lara.
"Aku merasa ingin mual lagi." kata Lara yang akhirnya membuat Aiden melepaskan pelukan nya.
"Kau pasti berbohong." dengus Aiden dengan wajah kesal.
"Aku tidak berbohong. Jika aku tidak keluar sekarang mungkin aku akan muntah di sini."
"Baiklah baiklah, keluarlah, kau senang sekarang?"
Lara tersenyum, Buru buru Ia membuka pintu sebelum Aiden berubah pikiran dan kembali memeluknya namun saat Lara akan keluar, Aiden menahan tangan Lara.
"Jangan khawatirkan tentang masalah pernikahan, aku pasti akan segera menikahimu." kata Aiden membuat Lara mengangguk.
Aiden melepaskan genggaman tangan nya dan akhirnya Lara bisa keluar.
Raka kembali melajukan mobilnya meninggalkan Villa. Sesekali Raka melirik ke arah Aiden yang mengulas senyum.
"Memiliki kekasih sungguh menyenangkan Tuan?" cibir Raka membuat senyum Aiden seketika memudar kembali ke mode dingin menatap Raka yang malah tertawa dan tak membalas tatapan mata Aiden.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komennn
__ADS_1