
Hendra baru saja sampai di istananya, Ia langsung disambut gembira oleh para Maidnya.
"Akhirnya Tuan pulang." ungkap Bik Siti yang langsung menatap ke arah Rena yang sedari tadi digenggam tangannya oleh Hutama juga Weni yang berada disamping Rena.
"Dia istriku dan dia maid baru disini, tunjukan kamarnya dan beri dia pekerjaan." perintah Hutama yang langsung diangguki Bik siti meski Ia masih terkejut dan bingung dengan ucapan Hutama.
"Ayo ku tunjukan kamarmu." ajak Bik Siti pada Weni.
Hutama tersenyum menatap istrinya, "Pasti masih terasa aneh kan?"
Rena mengangguk, "Aku tidak terbiasa ditempat seperti ini." ungkap Rena yang selama ini tinggal disatu ruangan dengan tangan terikat dan kaki terpasung.
"Kau akan terbiasa nantinya sayang." ucap Hutama lalu mengecup kening Rena.
"Wah wah, lihatlah siapa yang baru saja pulang." sebuah suara dari pintu mengejutkan Rena dan Hutama.
Hendra pria itu datang bersama beberapa anak buahnya.
Hutama segera melepaskan genggaman tangannya, Ia menatap ke arah Vans, "Bawa ke kamar." perintah Hutama yang langsung di angguki oleh Vans.
"Siapa dia? kau tidak ingin memperkenalkan wanita itu padaku?" tanya Hendra yang masih bisa didengar oleh Rena.
"Dia juga terlihat sangat cantik." ucap Hendra dengan tatapan nakal yang hampir membuat Hutama emosi.
"Apa ada sesuatu yang penting?"
Hendra mengangguk, "Tentu saja. jika tidak penting mungkin aku tidak akan kesini."
"Kita ke ruanganku saja." ajak Hutama berjalan menuju ruang kerjanya di ikuti oleh Hendra.
Sementara itu Vans sudah membawa Rena ke kamar Hutama.
"Silahkan Nyonya istirahat lebih dulu."
"Siapa pria tadi? dia seperti orang jahat." tanya Rena pada Vans.
"Jika tentang itu sebaiknya Nyonya bertanya saja pada Tuan karena bukan hak saya untuk menjawab."
Rena mengangguk paham, "Ya sudah kembali lah ke bawah." kata Rena.
__ADS_1
Vans segera ke bawah, mendampingi Tuannya yang mungkin sedang dalam bahaya, melihat mata Hendra yang menampakan amarah pada Tuannya.
Namun saat Vans akan masuk ke ruangan Hutama sudah dicegah oleh anak buah Hendra yang berjaga didepan pintu.
"Biarkan mereka berbicara berdua." kata salah satu anak buah Hendra.
Vans menatap ke arahnya tajam, "Aku tidak mempercayai kalian." kata Vans lalu memaksa membuka pintu.
Vans sudah melewati pintu, Ia melihat Hutama dan Hendra duduk berhadapan.
"Tunggu diluar, aku baik baik saja." kata Hutama yang langsung diangguki Vans.
Vans kembali keluar dan menutup pintu.
"Kau lihat, anak buahmu begitu mengkhawatirkan mu. apa aku terlihat jahat untukmu?" tanya Hendra dengan senyuman menyerigai.
"Tidak ada masalah di antara kita, jadi apa yang ingin kau bahas denganku?" tanya Hutama tak ingin berbasa basi dengan Hendra.
"Kau yakin tidak ada masalah diantara kita? aku pikir kau mengirimkan anak buahmu itu untuk menyelamatkan Aiden." Sindir Hendra.
Hutama berdehem, merasa sudah ketahuan.
"Jadi apa masalahmu sekarang? aku memang ingin menghabisi Aiden, kenapa kau malah membantunya? kita sudah sepakat tentang ini!"
"Katakan saja, aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk menunggu diam mu itu!"
"Aiden itu putra angkatku, dia juga putra kandungmu, apa kau yakin ingin membunuhnya?" tanya Hutama yang akhirnya membuka suaranya.
Hendra tertawa, "Apa kau yakin karena itu? bukan karena dia menjadi menantumu sekarang?" tanya Hendra membuat Hutama terkejut setengah mati.
"Kau sudah menemukan putrimu dan kembali dengan wanita yang kau cintai, lalu putrimu menikah dengan Aiden, sekarang Aiden sudah menjadi menantumu, itulah sebabnya kau melindunginya, apa aku benar?"
Hutama terlihat shock karena Hendra mengetahui segalanya, dan yang membuat Hutama heran, siapa yang memberitahu Hendra sampai sedetail itu?
"Dari mana kau tahu?" tanya Hutama.
"Bukan urusanmu dari mana aku tahu semua itu, pengkhianat! apa kau tahu karena Aiden reputasiku sudah hancur dan putriku juga gila!" kata Hendra sangat marah.
"Gi gila?"
__ADS_1
"Ya putriku Gila karena pernikahannya gagal, katakan padaku Tama, siapa yang pantas disalahkan? apakah kau?"
Hutama tersenyum, "Semua ini terjadi karena masa lalu mu yang kurang baik. seharusnya kau intropeksi diri dan jangan menyalahkan orang lain."
Hendra tertawa, Ia bahkan tepuk tangan atas apa yang baru saja dikatakan Hutama, "Bagus sekali kata katamu huh! hanya karena kau sudah kembali dengan kekasih di masa lalu mu kau bisa menceramahiku seperti ini? tidak ingatkan kau juga pernah jadi orang jahat?" tanya Hendra sinis.
"Itu sudah menjadi masa lalu ku, aku sudah tidak tinggal disana. ayolah Hendra kita sudah tua, waktunya kita berubah menjadi lebih baik lagi." Hutama hendak menepuk bahu Hendra namun tangan Hutama ditepis oleh Hendra.
"Omong kosong! kau benar benar menantangku huh!"
"Tidak, aku hanya ingin kau intropeksi diri dan menerima Aiden sebagai putramu."
"Jangan mimpi, aku tidak akan menerima Aiden sebagai putraku sampai kapanpun!" kata Hendra lalu keluar dari ruangan Hutama, pergi meninggalkan rumah Hutama.
"Sial, dia memang mengajak perang denganku, lihat saja aku pasti akan membalas semuanya." umpat Hendra saat memasuki mobil.
Hutama masih berada diruangannya, Ia menghela nafas berkali kali mengingat ucapan Hendra yang memberikan ancaman untuknya.
"Apa terjadi sesuatu Tuan?" tanya Vans yang baru saja masuk keruangan Hutama.
"Ya, aku pikir ada pengkhianat diantara kita." ungkap Hutama membuat Vans terkejut.
"Saya akan segera mencari pengkhianat itu Tuan."
Hutama mengangguk, "Ya, kau harus menemukan siapa dia, aku tidak ingin kebahagiaan ku hancur karena pengkhianat itu."
Vans mengangguk paham, "Baik Tuan saya mengerti."
Hutama menepuk bahu Vans sebelum akhirnya Ia keluar meninggalkan Vans seorang diri disana.
"Aku tidak menyangka, dia benar benar jadi pengkhianat." gumam Vans.
Sebelum kembali ke kota, Vans sempat ingin menemui Raka untuk berpamitan dan dirinya juga masih berharap bisa kembali akur dengan Raka namun sesuatu yang tak sengaja terjadi saat Vans membuka pintu dapur untuk ke taman menghampiri Raka yang duduk dibangku taman, Vans mendengar suara umpatan Raka.
Tadinya Vans belum yakin jika Raka mengkhianati Aiden namun setelah Tuannya mengatakan jika ada pengkhianat kini Vans sangat yakin jika yang mengatakan segalanya pada Hendra adalah Raka, anak buah Aiden.
Kini Vans berniat mencari tahu alasan Raka mengkhianati Aiden, jika karena uang tidak mungkin karena gaji Raka cukup besar, Vans yakin pasti karena masalah lain dan Vans harus segera tahu alasan Raka mengkhianati Aiden.
"Aku harus mencari tahu, aku harus segera mencari tahu sebelum semuanya terlambat."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen yahh...