
Pagi ini berbeda dari pagi biasanya. Setelah beberapa minggu Aiden berada di villa kini Ia harus pergi sejenak untuk bekerja, mengurus beberapa proyek barunya bersama Raka.
"Aku akan segera pulang setelah selesai, jaga rumah baik baik dan jangan kemanapun, tetap disini." pamit Aiden sambil mengelus pipi istrinya penuh sayang.
"Iya, segera pulang. sejujurnya aku ingin ikut." kata Lara dengan suara manja.
"No, kamu harus tetap disini dan tempat ini aman untukmu, ada penjaga yang akan melindungimu." kata Aiden.
Lara menghela nafas panjang, menatap Aiden yang sangat Ia khawatirkan. Dibelakang Aiden ada Raka yang sedari tadi hanya menunduk tidak menatap Lara.
"Pakai ponsel barumu untuk menghubungiku." kata Aiden yang langsung diangguki Lara.
Beberapa hari yang lalu, Aiden memang membelikan ponsel untuk Lara agar mereka bisa berkomunikasi saat sedang berpisah seperti ini.
"Baiklah Tuan, aku akan menghubungimu setiap tiga puluh menit sekali." canda Lara membuat Aiden tertawa.
Aiden memeluk tubuh Lara dan mencium kening Lara sebelum akhirnya Ia meninggalkan Lara berjalan memasuki mobilnya bersama Raka.
"Segera kembali, aku menunggumu." teriak Lara membuat Aiden tersenyum didalam mobil.
"Kau lihat Raka, bukankah dia sangat mengemaskan?" ucap Aiden saat Raka sudah melajukan mobilnya.
"Benar Tuan," Raka hanya membalas ucapan Aiden singkat, dalam hatinya Ia merasa sangat bersalah karena kebodohannya yang akan membuat kebahagiaan Aiden segera lenyap.
Sementara itu ditempat lain, Vans dengan raut wajah khawatirnya tampak mondar mandir didepan istana Hutama. semenjak semalam Hutama dan Rena tidak pulang, ponselnya pun susah dihubungi.
Setelah kemarin Ia melihat Raka adalah pengkhianat sebenarnya, Vans ingin segera memberitahu Hutama agar Hutama cepat bertindak karena jika Vans mengatakan pada Aiden akan sangat percuma, Aiden tidak mungkin mempercayainya.
"Kemana sebenarnya Tuan pergi!" omel Vans dengan raut wajah khawatirnya.
"Mereka bulan madu. apa yang kamu khawatirkan Tuan?" tanya Weni yang mendengar omelan Vans.
"Ck, untuk apa kau ikut campur. sudah sana kembali bekerja!" sentak Vans pada Weni membuat Weni menatap Vans kesal.
"Dasar pria menyebalkan! aku hanya memberitahumu, kenapa kau harus marah!"
Vans tidak menjawab, Ia mengacuhkan Weni dan pergi meninggalkan Weni membuat Weni semakin kesal.
"Dia sombong sekali, sangat menyebalkan!" ucap Weni kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Tuan, cepatlah kembali sebelum semua terlambat." gumam Vans.
__ADS_1
Dan akhirnya doa Vans terkabulkan saat melihat sedan mewah milik Hutama memasuki istananya.
Vans berlari mendekati mobil,
"Ada apa denganmu?" tanya Hutama saat keluar mobil heran menatap wajah Vans yang terlihat pucat.
"Tuan, saya sudah menemukan siapa pengkhianat itu!"
Rena yang juga baru keluar dari mobil berjalan mendekati Suaminya dan Vans yang sedang berbicara serius.
"Siapa?"
"Raka Tuan, asisten kepercayaan Aiden."
Wajah Hutama terlihat sangat terkejut, "Tidak mungkin."
Vans mengangguk, awalnya Ia juga tidak percaya jika Raka adalah pengkhianat. Raka adalah teman Vans yang paling baik dan tidak pernah neko neko maka dari itu Vans menyelidiki dan memastikan jika Raka tidak berkhianat namun kenyataannya sangat mengecewakan, Raka sudah banyak berubah, Ia benar benar berkhianat pada Aiden.
"Rasanya aku tidak percaya, dulu bahkan kita pernah mengajaknya mengkhianati Aiden namun Ia menolak mentah mentah dan sekarang kenapa dia seperti ini?"
"Saya pikir dia memiliki dendam atas kematian kekasihnya Friska Tuan, apa Tuan ingat?"
Hutama mendengus sebal, "Dia hanya tidak tahu saja seperti apa kelakuan kekasihnya itu! lalu apa sekarang masalahnya?"
" Mereka juga mengincar Lara?" Rena tampak terkejut.
"Tenanglah, tenanglah." Hutama mengelus bahu Rena.
"Bagaimana aku bisa tenang, orang jahat itu mengincar putriku!" kata Rena tampak khawatir dan emosi.
"Sebaiknya kau masuk dan beristirahat didalam, aku dan Vans akan kesana, berbicara pada Aiden agar bisa melindungi putri kita."
"Aku ingin ikut!" pinta Rena.
"Tidak sayang, sebaiknya kau dirumah saja istirahatlah, kau kelelahan. biarkan aku yang menangani ini." kata Hutama yang akhirnya diangguki oleh Rena.
Vans dan Hutama segera memasuki mobil, segera Vans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai.
Keduanya dikawal beberapa anak buah Hutama yang mengikuti mobil mereka dibelakang.
Keduanya sampai setelah tiga jam perjalanan dan Hutama harus merasakan kecewa saat sampai disana semua anak buah Aiden yang berjaga di depan terkena luka tembak dan Nana serta para maidnya diikat di dalam Villa.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Hutama terlihat sudah emosi.
"Nona Lara tidak ada Tuan." kata Vans yang sudah mengelilingi Villa dan tidak menemukan keberadaan Aiden juga Lara.
Vans membuka ikatan Mbok Nah dan melepaskan plester yang menutupi mulut Mbok Nah, "Nona Lara diculik!" ucap Mbok Nah saat plester sudah dibuka.
"Apa! sial kita terlambat!" umpat Hutama.
"Tadi saat Aiden keluar bersama Raka untuk mengurusi proyek baru mereka, banyak pria asing yang memasuki villa dan menembak para penjaga didepan. Mereka membawa Lara dan kami di ikat seperti ini." jelas Mbok Nah.
"Sepertinya mereka juga mengincar Rena, sebaiknya kau segera kembali!" ucap Mbok Nah lagi membuat Hutama panik seketika dan langsung mengajak Vans kembali ke kota.
Sementara itu, Raka dan Aiden kini sudah sampai ditempat tujuan mereka namun saat keluar, Aiden terlihat mengerutkan keningnya saat tahu jika bukan ini tempat tujuan mereka.
Aiden dan Raka berada disebuah gedung kosong terbengkalai dan tidak berpenghuni.
"Kenapa kita berada disini?" tanya Aiden pada Raka yang sedari tadi hanya diam tidak mengatakan apapun.
Raka berjalan mendekat, Ia mengeluarkan pistol dari sakunya lalu menodongkan tepat didepan kepala Aiden.
Awalnya Aiden terkejut namun Ia terlihat tenang setelahnya, "Kau ingin membunuhku?"
Tangan Raka yang membawa pistol terlihat gemetar setelah mendengar suara Aiden.
"Tidak apa apa, bunuh saja aku. aku tidak akan melawan." kata Aiden masih terdengar tenang membuat Raka menjatuhkan pistolnya.
"Kenapa? bukankah kau seharusnya membawa mayatku pada Tuanmu?" tanya Aiden membuat Raka menatapnya dengan tatapan terkejut.
Raka masih diam, bibirnya terasa berat untuk menjawab.
"Tidak perlu terkejut, aku sudah tahu jika kau mengkhianatiku." kata Aiden membuat Raka seketika berlutut didepan Aiden.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya." ucap Raka tidak bisa menahan diri dan akhirnya menangis.
Aiden menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak karena untuk kedua kalinya Ia di khianati oleh orang yang sangat Ia percayai.
Malam dimana Lara sangat ketakutan, Aiden bangun. Niatnya ingin mencari Lara namun karena pintu balkon kamarnya belum tertutup akhirnya Aiden berniat menutup pintu balkon namun Aiden dibuat terkejut saat melihat Raka berbicara dengan pria asing, Aiden juga melihat dari atas para penjaganya terkapar dilantai.
Aiden tidak ingin mempercayai apa yang dia lihat karena Ia sangat mempercayai Raka lebih dari apapun namun sekarang, seketika kepercayaannya itu runtuh tergantikan oleh sesak dadanya mengetahui fakta jika Raka juga mengkhianatinya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn