SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
43


__ADS_3

Hendra mengamuk di ruang kerjanya, Ia membuang apapun yang ada disana bahkan vas bunga mahal yang di belikan oleh Adira pun sudah pecah berserakan di lantai.


"Bodoh, kalian bodoh!" umpat Hendra pada ke empat pria kekar yang kini berada di ruangan nya.


Empat pria yang Hendra tugaskan untuk menangkap Aiden namun mereka gagal karena di halangi oleh anak buah Aiden.


"Maafkan kami bos, jumlah mereka sangat banyak dan mereka juga menggunakan senjata, kami tidak mampu melawan mereka." kata salah satu pria yang wajahnya sudah babak belur.


"Kalian saja yang bodoh, aku sudah membayar kalian mahal namun pekerjaan kalian sangat mengecewakan." ucap Hendra lagi yang membuat ke empat pria menunduk takut.


Hendra benar benar tak menyangka Aiden adalah anak dari Miranti wanita yang pernah menjalin cinta terlarang dengan nya.


Ya saat Hendra mendapatkan tugas ke desa terpencil, disana Hendra bertemu dengan Miranti, kembang desa yang sangat cantik yang mampu membuatnya jatuh cinta kala itu padahal Ia sudah memiliki istri, Mama nya Adira hanya saja Mama Adira belum hamil saat itu.


Seringnya bertemu dengan Miranti membuat hubungan mereka semakin dekat hingga akhirnya melakukan hubungan terlarang yang membuahkan hasil, Miranti hamil.


Hendra saat itu merasa senang dan bahagia apalagi Ia memang ingin segera memiliki anak namun kebahagiaan Hendra harus pupus setelah istrinya mengetahui perselingkuhan nya dan mengancam akan menceraikan nya. Hendra tentu saja takut bercerai dengan istrinya mengingat istrinya sangat kaya raya dan dirinya tidak bisa hidup tanpa harta istrinya hingga akhirnya Hendra memilih mengakhiri hubungannya.


Hendra kembali ke kota dan menjadi menteri setelah lima tahun, saat Ia kembali ke desa tempat Miranti tinggal Ia sudah tidak menemukan Miranti karena Miranti sudah meninggal dalam kebakaran rumah.


Bukan Hendra yang membakar rumah dan membunuh Miranti, bukan Hendra.


"Ternyata dia masih hidup, pantas aku merasa tidak asing saat dekat dengannya." gumam Hendra yang mengira anak Miranti ikut tewas dalam kebakaran rumah.


Hendra mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Cari tahu tentang Aiden juga aku punya pekerjaan lain untuk mu." kata Hendra.


"Bakar devil club jangan sampai meninggalkan jejak." perintah Hendra lalu mengakhiri panggilan.


Hendra membanting ponselnya di meja, "Ini hadiah karena kau telah menghancurkan reputasi ku, tidak peduli kau putraku!" kata Hendra lalu keluar dari ruangan nya.


Hendra memasuki kamar Adira dimana Adira terbaring lemas disana.


Ia mendekat dan duduk di pinggir ranjang, Hendra mengelus putri satu satunya itu.


"Jangan sentuh aku!" ucap Adira dengan suara serak.


"Sayang, putri ayah-"


"Aku tidak mau mempunyai Ayah sepertimu!" kata Adira lagi yang membuat hati Hendra terasa sakit.

__ADS_1


"Ayah minta maaf, ayah benar benar minta maaf."


"Maaf tidak akan membuat semua kembali seperti semula, semua orang tahu betapa jahatnya Ayah dan juga aku batal bertunangan karena Ayah, aku malu dan sangat membenci Ayah!" kata Adira sambil menangis.


"Maaf, maafkan Ayah sayang. Ayah benar benar menyesal."


"Pergi dari kamar ku dan jangan ganggu aku!" kata membuat Hendra menyerah dan akhirnya keluar dari kamar Adira.


Hendra menutup pintu kamar, Ia mengepalkan tangannya.


"Semua karena Aiden, ya semua karena pria itu!"


Sementara di rumah Hutama keadaan jauh lebih tenang di bandingkan rumah Hendra. Hutama tampak biasa saja tidak ada rasa marah ataupun emosi, Ia justru di buat bingung oleh fakta baru yang mengatakan jika Aiden bukan putra Rani mantan kekasihnya dulu.


"Bagaimana bisa ini terjadi? bukankah dulu bocah kecil yang bersama Rani adalah Aiden? aku pikir dia bayi haram milik Rani." gumam Hutama yang saat ini berada di ruangan nya.


Seseorang memasuki ruangan Hutama, seorang pria kekar dan pria berkaca mata.


"Tinggalkan kami berdua." kata Hutama yang di angguki pria kekar itu.


"Apa kau ingat aku?" tanya Hutama pada pria berkaca mata.


"Ya kau benar sekali."


"Lalu untuk apa Tuan memanggilku lagi?"


"Aku hanya ingin memastikan jika dulu kau mencari informasi yang benar untuk ku." kata Hutama santai membuat pria berkaca mata itu mendadak panik.


"Ada apa? kenapa wajahmu berubah takut seperti itu?" tanya Hutama tersenyum menyerigai.


"Ti tidak Tuan, hanya saja itu sudah lama sekali berlalu kenapa Tuan baru memastikan sekarang?" tanya Pria itu dengan tangan gemetar.


"Karena aku merasa di tipu dan di bohongi jadi apa kau bisa menjelaskan tentang ini?"


Pria berkaca mata itu langsung berlutut di kaki Hutama, "Ampun Tuan, ampun maafkan saya." kata Pria itu membuat Hutama tertawa.


"Hey, ada apa dengan mu? aku bahkan tidak melakukan apapun padamu."


"Saya mengakui telah menipu Tuan waktu itu. saya takut karena tidak bisa menemukan anak itu hingga saya terpaksa berbohong. waktu itu ada dua bocah yang satu perempuan yang satu laki laki, saya pikir-"

__ADS_1


Dorr...


Hutama menembak kepala Pria berkaca mata itu hingga akhirnya pria itu tewas di tempat.


"MASUK DAN BUANG MAYAT INI!" teriak Hutama pada anak buahnya yang ada di luar.


Hutama membanting pistolnya di lantai, Ia benar benar marah saat mendengar pengakuan dari pria yang memberikan pengakuan palsu padanya.


"Sial, bagaimana bisa aku di tipu." ucap Hutama sambil tertawa menertawakan dirinya yang di bodohi pria yang Ia bayar.


"Jadi Anak haram Rani, perempuan bukan Aiden? baiklah mari kita berjuang untuk menemukan anak perempuan itu." kata Hutama lagi lalu tersenyum menyerigai.


Sementara di klinik, Aiden menunggu di luar IGD saat Lara sedang di periksa, wajahnya pucat dan Ia merasa cemas dengan keadaan Lara.


Aiden tidak tahu apa yang terjadi pada Lara, saat Ia masuk ke kamar mandi, Lara tampak baik baik saja namun saat Ia keluar sudah mendapati istrinya yang tersungkur di lantai dan berlumuran darah di kakinya.


"Tuan saya minta maaf atas kecerobohan saya." kata Raka kini mendekati Aiden.


"Sudahlah, bukan waktunya membahas ini."


Raka terdiam, Ia tetap berada di samping Aiden. Raka merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Lara malam ini.


Jika saja Ia membuang undangan yang diberikan pada Adira kemarin siang mungkin keadaan nya tidak seperti ini.


Pintu terbuka, Aiden berdiri dan segera mendekati dokter Clara yang kini berdiri didepan pintu.


"Bagaimana keadaan istriku?"


"Oh jadi kalian sudah menikah?"


"Ck, bukan waktunya untuk bercanda. katakan bagaimana keadaan nya?"


Dokter Clara menghela nafas panjang, "Maaf sepertinya kau harus kecewa hari ini."


"Apa maksudmu?"


Dokter Clara terdiam membuat Aiden menggelengkan kepalanya tidak percaya,


"Tidak mungkin!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2