SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
69


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Hutama dan Rena sampai di tempat tujuan. memasuki hutan dan kini mereka berada ditengah hutan.


"Perketat penjagaan!" perintah Hutama pada para anak buahnya.


"Baik Tuan."


Hutama mendekati istrinya yang sudah menunggu, "Kau selalu membawaku ke tempat seram seperti ini." cibir Rena terlihat tidak suka.


"Aku ingin mendapatkan ketenangan bersamamu, sekarang sebaiknya tutup matamu," pinta Hutama menutup mata Rena menggunakan selembar kain.


Rena mengenggam tangan Hutama dan mengikuti langkah Hutama. mengingatkan beberapa tahun yang lalu saat masih muda Hutama pernah melakukan ini padanya, mengajaknya ke hutan dan rumah pohon dan sekarang Hutama melakukan hal yang sama.


Saat membuka kain penutup mata, Rena cukup terkejut dengan keindahan tempat yang berbeda dengan tempat yang pernah Hutama buatkan untuknya.


Mereka berada di pinggir danau, terdapat rumah pohon juga meja dan kursi yang sudah lengkap dengan menu makan malam juga ditambah lilin yang ada dimeja menambahkan kesan romantis pada tempat itu.


"Kau menyukainya?" tanya Hutama mengingat saat remaja, Rena sangat menyukai danau maka dari itu Hutama selalu membuatkan tempat romantis yang dekat dengan danau.


"Sangat, aku sangat menyukainya."


Hutama tersenyum, Ia menarik kursi mempersilahkan Rena duduk disana karena mereka akan makan bersama sebelum naik ke atas rumah pohon.


"Tempat ini mengingatkan ku pada tempat masa lalu kita." ucap Rena saat keduanya memulai makan malam.


"Tempat ini berbeda namun aku membuatnya agar terlihat sama."


Rena tersenyum, "Aku lebih menyukai tempat yang sekarang."


"Apa tempat yang dulu tidak bagus?"


"Bukan karena itu, ditempat dulu hubungan kita hanyalah sepasang anak muda yang menjadi kekasih namun ditempat ini status kita berbeda, sudah menjadi suami istri yang sah."


Hutama tersenyum, Ia meletakan sendoknya lalu mengenggam tangan Rena, "Apa kau bahagia?"


Rena mengangguk, "Sangat bahagia, terima kasih telah membuatku sebahagia ini."


Tanpa disadari air mata Hutama menetes, "Maaf sudah membuatmu menderita selama bertahun tahun."


Rena memberanikan diri menyeka air mata Hutama, "Bukan aku saja yang menderita, kamu juga menderita selama ini."

__ADS_1


Hutama masih menangis sesenggukan, Ia membawa Rena ke pangkuannya dan memeluk erat wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Aku akan membuatmu bahagia, juga Lara, aku akan membayar penderitaan kalian selama ini."


Rena tersenyum, Ia menepuk nepuk bahu Hutama, "Sudah sudah, biarkan semua berlalu. sekarang kita sudah bersama jangan merasa bersalah lagi."


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi."


Rena mengangguk, "Aku berjanji akan selalu disampingmu."


Hutama tersenyum bahagia. Hari ini Ia merasa bahagianya berlipat lipat.


Selesai makan malam, Hutama mengajak Rena menaiki rumah pohon.


"Dulu aku tidak takut saat menaiki tangga rumah pohon, kenapa sekarang terasa menakutkan." gumam Rena.


"Karena umur kita bertambah tua, kau pasti takut kita akan jatuh dari sini."


Rena tersenyum karena tebakan Hutama benar, saat ini Ia memang takut bertemu banyak orang, berada diketinggian setelah bertahun tahun Ia hanya hidup didalam kamar, berada diluar masih belum terbiasa untuknya.


"Wah hebat, bahkan disini ada kamar mandinya." kagum Rena pada rumah pohon baru mereka.


"Pasti menghabiskan banyak uang untuk membuat semua ini." kata Rena lagi.


"Aku mungkin ingin mandi dulu." kata Rena memalingkan wajahnya.


"Bagaimana jika mandi bersama?"


"Ti tidak, biarkan aku mandi sendiri."


Hutama tersenyum, "Baiklah aku akan menunggu diluar, baju gantimu sudah ada dikamar mandi, kau tinggal pilih salah satu."


Rena mengangguk paham dan langsung memasuki kamar mandi. Selesai mandi, Rena membuka sebuah kotak berisi baju namun Rena terkejut melihat isi kotak itu. Tidak ada piyama ataupun dress rumahan yang biasa Ia pakai melainkan hanya pakaian yang tak layak untuk dipakai.


Rena mengambil salah satu baju dan melihatnya. baju ini benar benar tak pantas untuknya, Lingerie yang tidak bisa menutup seluruh tubuhnya.


"Bagaimana ini, apa yang harus ku pakai." gumam Rena bingung.


Rena menatap baju yang Ia pakai tadi namun sudah terlanjur jatuh dan basah, dan akhirnya terpaksa Rena mengenakan salah satu lingerie yang ada dikotak.

__ADS_1


Rena keluar dan menutupi tubuhnya menggunakan handuk karena tidak ada kain lain yang bisa Ia pakai untuk menutupi tubuhnya. saat membuka pintu Ia terkejut melihat Hutama menunggunya didepan pintu.


"Tidak ada baju yang layak ku pakai."


Hutama tersenyum, Ia menarik handuk Rena hingga membuat tubuh Rena yang hanya terbalut lingerie warna hitam terlihat sangat jelas.


Dan benar, hanya Rena yang mampu membuat gairah Hutama kembali muncul. Gairah yang selama ini bersembunyi hingga membuatnya tidak menginginkan wanita manapun.


Tak menunggu waktu lama, Hutama membawa Rena ke ranjang. menikmati setiap inci tubuh Rena yang sudah lama Ia rindukan itu.


"Aku tidak akan membiarkan ada pria lain yang menyentuhku, hanya milikku, sampai kapanpun hanya milikku."


Dan rumah pohon itu menjadi saksi bisu penumpahan cinta antara Hutama dan Rena yang sudah bertahun tahun terpendam.


Sementara itu ditempat lain, Raka menghabiskan malam ini dengan meneguk bir disebuah club malam.


Ia benar benar sangat marah melihat Hutama begitu bahagia dengan menikahi gadis pujaannya sementara dirinya masih merasakan duka karena ditinggal Friska untuk selama lamanya.


"Pria tua itu benar benar tak pantas untuk bahagia, dia seharusnya juga mati seperti Friska." oceh Raka lalu meneguk gelasnya yang kembali dipenuhi Bir.


"Tuan kau sudah sangat mabuk, sebaiknya kita segera menyewa kamar dan aku akan menemanimu malam ini." bisik seorang wanita cantik yang sedari tadi menemani Raka minum.


Dengan kepala pusing, Ia menatap gadis cantik yang ada disampingnya itu, "Friska, kau masih hidup?"


Gadis itu tersenyum, "Tentu saja aku masih hidup karena aku ingin selalu bersamamu."


Raka tersenyum, "Aku juga ingin selalu bersamamu, jangan tinggalkan aku lagi."


Wanita itu mengangguk dan tersenyum, Ia menuntun Raka membawanya keluar dari club bukan untuk pergi ke hotel melainkan memasukan Raka ke dalam mobil dimana sudah ada lima pria kekar didalam mobil itu.


"Mana bayaranku!" pinta wanita itu pada kelima pria.


"Dasar wanita, selalu saja ingat jika masalah uang." omel salah satu pria memberikan amplop coklat berisi uang pada wanita itu.


Wanita itu membuka amplopnya dan tersenyum saat melihat isi uangnya, Ia lalu pergi kembali memasuki club.


Ponsel Raka berdering membuat salah satu pri mengambil ponsel Raka, "Tuan Aiden."ucap Pria itu sambil tersenyum saat melihat nama yang menelepon Raka.


"Jangan dijawab, biarkan saja. kita tidak mendapatkan Tuan nya tapi orang ini bisa membuat kita segera mendapatkan Tuannya." kata salah satu pria sambil tersenyum licik.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2