
Aiden menatap wajah Lara yang kini sudah terlelap. setelah membuat Lara terkejut dengan fakta jika Roy bukan Ayah kandung Lara, Aiden juga mendapatkan kesempatan untuk menikmati malam pertama mereka meski tidak bisa di bilang malam pertama lagi karena Aiden sudah melakukan sebelumnya.
Aiden menghela nafas panjang, mengingat Ia kini memiliki misi baru, mencari sosok Ayah kandung Lara yang sebenarnya.
Awalnya dulu Aiden tidak percaya jika Roy bukan Ayah kandung Lara dan semua terbukti saat diam diam Aiden mengambil beberapa helai rambut Roy juga Lara untuk tes dna dan semua terbukti karena memang Roy bukan Ayah kandung Lara.
"Aku akan mendapatkan nya untuk mu." gumam Aiden sambil mengelus pipi lembut Lara.
Ponsel Aiden berdering membuat Aiden segera mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Terlihat Adira yang menghubungi dirinya.
Aiden menolak panggilan itu namun Adira tak menyerah dan terus menghubungi Aiden berulang ulang hingga akhirnya Aiden menerima panggilan Adira.
"Dimana kamu? besok adalah hari pertunangan kita dan kamu tidak ada di mana pun!"
"Aku tidak bisa datang sekarang tapi besok aku datang."
"KAU GILA! HARI INI KITA HARUS MELAKUKAN GLADI RESIK-"
Klik, Aiden mengakhiri panggilan dan mematikan ponselnya.
"Penganggu!"
Sementara Adira membanting ponselnya emosi. saat ini Ia sedang berada di hotel tempat melakukan gladi resik namun Aiden malah tidak datang dan mematikan panggilan sepihak begitu saja.
"Pria sialan, bisa bisanya Ia tidak datang di hari penting seperti ini. aku akan membuatmu menyesal sudah melakukan ini padaku!" kecam Adira, memasukan ponselnya ke dalam tas lalu Ia pergi dari hotel.
Kini Adira sudah sampai di tempat tujuan nya, bersama anak buahnya yang akan membantunya.
"Jadi Nona yakin akan mendaftarkan nya sekarang?" tanya anak buah Adira saat keduanya sampai di tempat tujuan.
"Ya, aku ingin pernikahan ku setelah seminggu tunangan." kata Adira yang diangguki oleh anak buahnya.
Segera anak buah Adira memasuki gedung yang tak lain adalah Kua, tempat Adira akan menikah nantinya.
"Dengan ini kita akan segera menikah dan kau tidak bisa menghindariku lagi." gumam Adira tersenyum puas.
Adira menunggu didalam mobil, Ia tak sengaja melihat mobil sedan mewah yang biasa di pakai Aiden terparkir didepan nya.
"Apa dia ada disini?"
Karena penasaran, Adira akhirnya keluar untuk meyakinkan jika benar itu mobil Aiden, dan memang benar itu mobil yang biasa dipakai Aiden.
Adira berdiri disamping mobil, Ia menunggu sang pemilik mobil datang dan ingin menanyakan kenapa berada disini.
__ADS_1
"Apa dia memberi ku surprise dan mendaftarkan pernikahan kami diam diam?" batin Adira penuh percaya diri lalu tersenyum senang.
"Wah dia benar benar sangat romantis." batin Adira lagi.
"Nona..." Suara seseorang yang terkejut yang sangat di kenali Adira.
"Raka, mana tuan mu? apa dia masih ada di dalam?" tanya Adira tersenyum senang menatap Raka.
Raka mengerutkan keningnya heran, "Saya tidak bersama Tuan, saya datang kesini sendiri." balas Raka.
"Ck, jangan bohong, dia pasti masih didalam sedang mendaftarkan pernikahan kami kan?" tanya Adira penuh percaya diri.
Raka di buat melongo dengan apa yang Adira ucapkan dan setelah sadar Raka menahan gelak tawanya,
"Kenapa kau malah tertawa? benar kan Aiden sedang mendaftarkan pernikahan kami didalam?" tanya Adira sekali lagi.
"Maaf nona, saya kemari sendirian tidak bersama Tuan."
Adira terlihat kecewa, "Jadi dia menyuruhmu mendaftarkan pernikahan kami secara diam diam?"
"Saya permisi dulu nona." pamit Raka tak ingin salah ucap yang akhirnya membuat dirinya mendapatkan amarah dari Aiden.
"Tunggu!"
Adira berlari mengambil sesuatu di mobilnya lalu menyerahkan pada Raka.
"Undangan untuk mu, jangan sampai hilang karena kau harus masuk hotel menggunakan undangan ini." kata Adira memberikan undangan pertunangan Adira dan Aiden.
"Baiklah Nona terima kasih."
"Juga katakan pada Tuan mu, mau seromantis apapun dia memberikan ku surprise, aku masih tetap marah karena tidak datang ke acara gladi resik hari ini." kata Adira sambil memanyunkan bibirnya.
Raka menahan diri untuk tidak tertawa, "Baiklah Nona."
Adira segera kembali ke mobilnya dan Raka memasuki mobil lalu tertawa terbahak di dalam mobil.
"Wanita itu memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi." gumam Raka kembali tertawa.
Raka menatap undangan pertunangan yang kini sudah berada di tangan nya itu.
Seketika Ia menghela nafas panjang karena mengingat sesuatu,
"Jika kau masih hidup mungkin aku akan membuat mu merasakan membuat undangan seperti ini lalu kita menyebarkan nya bersama."
__ADS_1
Raka tersenyum kecut, "Tuhan marah karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik maka kamu diambil lebih cepat. Maafkan aku Friska, aku belum sempat membuatmu bahagia."
Tanpa di sadari air mata Raka menetes mengingat tentang Friska, satu satunya wanita yang Ia cintai.
Raka melajukan mobilnya, meninggalkan kua dan kembali ke Villa.
Ditengah perjalanan, Raka melihat ada sebuah motor yang mengikutinya, jika biasanya Ia di ikuti sebuah mobil kini Ia di ikuti motor dan dua orang pria berbadan kekar.
Dengan lihai, Raka berbelok lawan arah agar pengendara itu mengikuti jalan sesatnya. Dan saat sampai di tengah hutan, Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati jalan pintas yang hanya dirinya saja yang tahu.
"Sial, kemana mobil itu." umpat salah satu pengendara motor yang kehilangan jejak mobil Raka.
"Kita gagal lagi, sudah tidak ada jalan lain disini. " kata pria lain nya.
"Sudah sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebentar lagi hari gelap dan aku tidak akan bertemu siapapun di tempat seperti ini." kata Pria pembonceng yang langsung di angguki pria depannya.
Namun baru saja berbelok, motor pria itu menabrak batu yang cukup besar membuat keduanya jatuh dari motor.
"Gunakan matamu!" kesal pria yang ada di belakang.
"Sialan, aku juga tidak tahu ada batu disekitar sini!"
Keduanya mengangkat motornya, merasa ada yang mendekati mereka lalu mereka melihat ke belakang dan terkejut bersamaan saat melihat kakek tua membawa tongkat untuk berjalan mendekati keduanya.
"Apa yang kalian lakukan di sini nak? sebentar lagi gelap." tanya si kakek itu.
Bukan nya menjawab, kedua orang itu malah saling berbisik, "Dia manusia apa bukan?"
"Mana ku tahu, sebaiknya kita cepat pergi!" ajak pria satunya.
Kakek itu tertawa, "Jangan takut, kakek ini manusia tapi jika ada orang lain yang kalian lihat lagi disini berarti bukan manusia karena hanya kakek yang tinggal di tengah hutan ini sendirian." kata Kakek itu membuat bulu kuduk kedua orang itu tiba tiba merinding.
"Kami juga akan pergi sekarang kek." kata pria itu menaiki motornya namun kembali lagi turun melihat ban mereka bocor.
"Sial, hari ini kita benar benar sial!" umpat kedua pria itu.
Tanpa mengatakan apapun, keduanya segera mendorong motor itu pergi dari sana.
"Aku tidak akan menerima pekerjaan seperti ini lagi, lebih baik aku membunuh orang dari pada harus tersesat di hutan angker seperti ini!" kata salah satu pria yang langsung di angguki pria satunya.
Keduanya baru sampai setengah jalan, melihat ada wanita cantik yang lewat berlawanan arah. wanita itu tersenyum mengoda namun tidak membuat kedua pria itu tergoda malah mendorong motornya lebih kencang agar segera keluar dari sana.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jgn lupa like vote dan komenn