
Baru sampai di devil club, Aiden sudah disambut oleh Adira yang ternyata sudah menunggu nya sejak tadi.
"Kita akan fitting baju untuk pertunangan kita, aku harap kamu tidak menolak lagi." kata Adira mendekat ke arah Aiden.
"Tentu, kita berangkat sekarang." ajak Aiden yang langsung membuat Adira tersenyum senang.
"Kau tidak menolak lagi?" Adira masih terkejut, Ia tak menyangka Aiden tidak menolak ajakan nya.
"Apa kau ingin aku menolak lagi?"
Adira menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, ayo kita berangkat sekarang."
Adira nenarik tangan Aiden mengajaknya ke mobil milik Adira.
"Sebenarnya apa yang Tuan rencanakan?" gumam Raka menatapi punggung Aiden dan Adira yang baru saja memasuki mobil.
Di dalam mobil, Adira tak henti hentinya mengulas senyum karena merasa berhasil menaklukan Aiden.
"Sebenarnya dimana kau tinggal? aku mencari mu ke apartemen tapi disana kosong." Tanya Adira.
Aiden tersenyum, yang Adira tahu Aiden hanya memiliki apartemen dan tinggal disana, Adira tak tahu jika Aiden memiliki Villa.
"Aku tinggal dimana tidak bisa dijangkau oleh semua orang."
"Kenapa harus seperti itu? bukankah aku ini calon istrimu, aku harus tahu dimana kamu tinggal!" Adira mulai kesal.
"Ada banyak pekerjaan yang harus selesaikan dirumah dan aku tidak bisa di ganggu siapapun." balas Aiden masih santai.
"Jadi kau sebut aku penganggu?" Adira benar benar sudah kesal.
"Aku tidak mengatakan itu, kau sendiri yang mengatakan nya."
"Terserah! aku akan mencari tahu dimana kamu tinggal!"
Aiden tersenyum, "Satu yang harus kau tahu Adira, aku tidak menyukai gadis pembangkang." kata Aiden yang seketika membuat Adira terdiam.
"Tahan dirimu Adira, bukankah kau ingin membuatnya jatuh cinta, ayolah jangan seperti ini!" batin Adira mengumpati dirinya sendiri.
"Kita sampai." kata Aiden lalu keluar dari mobil dan membuka kan pintu untuk Adira.
"Silahkan Tuan putri," celetuk Aiden membuat Adira tersenyum.
Keduanya memasuki butik dimana sudah di tunggu oleh pemilik butik.
"Aku pikir kau tidak jadi kesini lagi." kata Emily pemilik butik.
"Apa pesanan ku sudah jadi? aku tidak sabar ingin mencobanya."
"Tentu saja sudah, gaun cantik untuk wanita tercantik."
Emily mengajak keduanya memasuki sebuah ruangan dimana disana sudah ada satu gaun yang sangat indah bersama pasangannya, jas dengan warna senada.
"Bukankah ini bagus sayang?" tanya Adira pada Aiden.
__ADS_1
Aiden memandangi gaun yang sangat indah itu, Ia malah membayangkan jika saja yang memakai gaun itu adalah Lara, mungkin dia akan terlihat sangat cantik. tanpa disadari Aiden tersenyum memikirkan itu.
"Sayang, apa yang kau pikirkan?" tanya Adira mengejutkan Aiden.
"Tidak, tidak ada."
"Kau terpesona dengan gaun indahku Tuan?" tanya Emily membuat Aiden tersenyum.
"Ya, aku akan memesan disini suatu hari nanti." celetuk Aiden.
"Memesan untuk siapa?" tanya Adira curiga membuat Aiden sadar jika Ia sudah salah bicara.
"Tentu saja untuk mu, bukankah kita masih membutuhkan gaun lagi untuk pesta pernikahan kita?"
Adira langsung tersenyum, "Kau membuatku berpikiran buruk."
Aiden ikut tersenyum, dalam hatinya Ia merasa lega karena bisa membuat alasan yang tepat.
Emily membantu Adira mengenakan gaun pengantin nya sementara Aiden menunggu diluar.
Saat sudah selesai, Emily membuka gorden penutup agar Aiden bisa melihat Adira.
Aiden menatap sebentar lalu kembali fokus dengan ponselnya.
"Apa aku tidak cantik?" protes Adira berjalan mendekat dan merebut ponsel Aiden.
Aiden menghela nafas panjang, "Cantik, kau sangat cantik. aku takut tidak bisa menahan diri jadi aku memilih menunduk." balas Aiden membuat Adira tersenyum lalu mengembalikan ponselnya.
Selesai fitting baju pengantin, Adira mengajak Aiden makan siang di resort yang tidak jauh dari devil club.
"Setelah ini aku harus kembali ke club." kata Aiden tak ingin lagi menuruti kemanjaan Adira.
"Kau yakin akan kembali sekarang sayang?"
"Tentu saja, aku sangat sibuk."
"Apa kau tidak ingin istirahat di resort ini lebih dulu? ada banyak kamar kosong yang sangat nyaman untuk tidur siang." goda Adira sambil mengedipkan matanya.
"Jika kamu Lara, aku pasti akan melakukan nya, sayangnya kamu bukan wanita yang ku inginkan." batin Aiden tersenyum kecut.
"Aku tidak bisa, aku harus kembali bekerja."
Adira cemberut, "Ku pikir kau tergoda dengan ku karena aku mencoba gaun seksi tadi,"
"Aku tergoda, tapi ini jam kerja, aku harus kembali kesana. mengertilah." pinta Aiden.
"Mengertilah Adira, mengertilah." batin Adira menghela nafas panjang.
"Baiklah, kembali lah bekerja. nanti malam aku akan menemui mu lagi." kata Adira yang langsung di angguki Aiden.
Aiden kembali ke club dimana sudah ada Raka di ruangan nya,
"Kau menemukan sesuatu lagi?"
__ADS_1
Raka menggeleng pelan, "Tidak Tuan, semua cctv mati dan kita tidak mendapatkan bukti apapun lagi."
Aiden menepuk bahu Raka, "Masih harus tetap berusaha." kata Aiden yang langsung di angguki Raka.
"Dua hari lagi pertunangan Tuan dengan Adira, apa Tuan yakin?" tanya Raka lagi, Raka masih tidak menyangka dengan apa yang di lakukan Tuan nya itu.
"Tentu saja aku sangat yakin."
"Bagaimana jika Nona Lara tahu?"
"Dia tidak akan tahu jika tidak kau beri tahu."
Raka tersenyum, "Saya akan menyimpan rahasia ini dengan baik Tuan."
"Aku ingin pulang lebih awal hari ini."
"Saya akan mengantar Tuan lebih dulu dan kembali lagi kesini karena sudah beberapa hari setelah Friska meninggal tidak ada yang berjaga di sini." kata Raka yang di angguki setuju oleh Aiden.
Tepat pukul enam, Aiden memutuskan untuk pulang dan di antar oleh Raka.
Ditengah perjalanan, Raka memperlambat laju mobilnya membuat Aiden heran.
"Apa ada sesuatu?"
"Sepertinya mobil di belakang mengikuti kita Tuan,"
Aiden melihat ke belakang, memang benar ada mobil dan jaraknya tidak terlalu dekat.
"Itu mobil Adira, wanita itu benar benar!" Aiden tampak kesal, Ia sangat mengenal mobil itu.
"Jadi bagaimana Tuan?"
"Lakukan seperti biasa yang kita lakukan." kata Aiden yang langsung diangguki Raka.
Raka memilih berbelok ke arah kiri padahal jalan menuju Villa ke arah kanan. Di jalur kiri jalanan tampak sepi dan banyak pohon rimbun di pinggir jalan itu tampak seram.
"Kenapa mobilnya belok kesini? apa benar ini jalan kerumahnya? kenapa menyeramkan sekali?" gumam Adira didalam mobil saat mengikuti mobil Aiden.
Adira memang sengaja mengikuti mobil Aiden karena Ia ingin tahu dimana sebenarnya rumah Aiden itu.
Adira sibuk menatap jalanan di pinggir yang sepi dan gelap tanpa disadari Ia sudah tertinggal jauh dan mobil Aiden sudah tidak terlihat lagi.
"Apa apaan ini! dimana mobil Aiden."
Adira celinggukan, Ia benar benar takut saat ini. Adira merasa berada di jalanan ini sendirian.
Karena takut, Adira akhirnya memutuskan berbalik.
Sementara Raka dan Aiden tertawa puas melihat Adira tidak lagi mengikutinya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1