
Aiden tak menyangka berbicara dengan Hutama bukan sesuatu yang buruk. Selama ini dirinya memang tidak pernah mengobrol dengan Hutama layaknya seorang anak dan Ayah karena Aiden sadar jika dirinya hanyalah anak pungut, membuat Aiden enggan berbicara apalagi mengetahui jika Hutama yang menabrak Ibu Rena menambahkan rasa benci pada Hutama namun sekarang setelah semuanya jelas tentang apa yang terjadi diantara Ibu Reni dan Hutama, membuat rasa benci yang ada dalam hati Aiden perlahan terkikis.
"Tuan terlihat bahagia?" tanya Raka yang saat ini sedang menemani Aiden duduk diruang kerjanya.
"Ya, aku sedikit tenang sekarang. tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentang Hutama karena dia sudah memiliki pawang sekarang." ungkap Aiden sambil tersenyum.
Raka pun ikut tersenyum, "Saya juga bahagia melihat semuanya damai Tuan."
"Oh iya Raka, kau tidak melupakan jatah bulanan kakek tua dan cucunya kan?" tanya Aiden.
"Tentu saja tidak Tuan, seminggu lagi saya akan kesana untuk mengantar jatah bulanan dan saya juga minta izin untuk keluar hari ini karena saya ingin menjeguk Nila di asrama."
"Oh iya tidak masalah, hari ini aku juga tidak keluar, tidak ada yang ku lakukan jadi pergilah."
"Baik Tuan terima kasih."
Raka segera pergi setelah mendapatkan izin dari Aiden. Hari ini Ia ingin pergi ke asrama dan mengajak Nila pergi ke makam Friska.
Sementara itu, Lara terlihat duduk di taman, melihat Nathan dan Risa merawat tanaman. Tak ingin membuat kesalahpahaman lagi Lara meminta Risa menemani Nathan agar Ia bisa bebas duduk ditaman tanpa takut di curigai Aiden.
Hutama melihat putrinya duduk sendirian pun menjadi kesempatan untuknya mendekati Lara. Ia akhirnya ikut duduk disamping Lara.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Lara dengan nada tidak suka.
"Aku ingin ikut melihat taman, apa tidak boleh?"
Lara menghela nafas panjang, Ia berdiri dan memilih pergi namun Hutama mencekal tangan Lara.
"Duduklah disini bersama Ayah." pinta Hutama penuh harap, berharap Lara bisa menuruti keinginannya.
"Aku tidak mau!"
"Aku tahu kau sangat membenci Ayah, namun semua orang bisa berubah kan Lara? apa kau tidak ingin memberi kesempatan pada pria tua renta ini untuk berubah?"
Lara kembali menghela nafas panjang, disatu sisi Ia merasa benci pada Hutama yang memperlakukan ibunya begitu jahat, juga memisahkan dirinya dan Ibunya namun disisi lain Ia merasa kasihan jika mengabaikan Hutama yang berusaha untuk berubah.
Lara akhirnya kembali duduk membuat Hutama tersenyum lega.
"Wajahmu mirip sekali dengan ibumu, sangat cantik. pantas saja Aiden jatuh cinta padamu." kata Hutama.
"Sebenarnya aku ini mirip siapa? Ibu bilang aku mirip Anda dan sekarang Anda bilang aku mirip ibu!" protes Lara dengan nada kesal.
Hutama tertawa, "Tentu saja kau mirip kami, karena kau putri kami."
__ADS_1
Lara hanya mendengus sebal,
"Tapi hatimu lembut seperti ibumu, aku juga berharap jika kau bisa memaafkan ku seperti Rena yang memaafkanku." kata Hutama penuh harap.
"Bagaimana bisa Anda berharap saya memaafkan Anda setelah apa yang Anda lakukan padaku dan Ibu. Kami berpisah bertahun tahun dan hidup saya tidak baik baik saja selama ini!"
"Ayah Roy tidak menyekolahkan ku, memaksaku bekerja dan meminta uang padaku setiap harinya. apa Anda pikir mudah untuk saya memaafkan Anda?" Lara terlihat kesal dan mengebu.
Hutama yang mendengar pengakuan putrinya sangat terkejut, tidak menyangka jika putrinya mengalami hidup yang begitu mengerikan. Tanpa disadari, Hutama menangis.
"Semua karena Ayah kan, iya Ayah akui semua karena Ayah yang sudah jahat pada kalian. maafkan Ayah." ucap Hutama masih menangis membuat Lara tak tega melihat pria didepannya itu menangis.
"Aku hanya mengeluarkan kenyataan hidup yang ku alami, kenapa pria ini malah menangis? apa kata kataku terlalu kejam?" batin Lara.
Hutama menangis sesenggukan, semakin lama tangisnya semakin kencang, Ia terlihat benar benar menyesali semuanya.
"Su sudah jangan menangis lagi." kata Lara berbata, tangannya terangkat untuk menepuk punggung Hutama.
"Bagaimana aku berhenti menangis jika aku sudah membuat putriku menderita selama ini."
"Aku sudah baik baik saja sekarang, Anda tidak perlu khawatir."
Hutama menghentikan tangisnya sejenak, "Tapi kau membenciku, bahkan kau tidak memanggilku Ayah jadi bagaimana aku bisa berhenti menangis." kata Hutama kembali menangis lagi.
Lara dibuat bingung, Ia tak tega melihat Hutama menangis tapi Ia juga masih belum ingin memanggilnya Ayah.
Hutama menggelengkan kepalanya, "Tidak, sebelum kamu memanggilku Ayah."
Lara menghela nafas panjang, Ia merasa Hutama mengerjainya saat ini namun akhirnya Lara menyerah juga karena ingin Hutama segera berhenti menangis.
"Baiklah Ayah, berhentilah menangis!"
Hutama akhirnya menghentikan tangisnya, "Kau akan memanggilku Ayah setiap saat?"
"Ck, iya!" balas Lara dengan nada kesal namun malah membuat Hutama tersenyum bahagia.
"Putri Ayah, kau memang sangat baik hati." puji Hutama membuat Lara memutar bola matanya malas.
Keduanya diam sejenak, Hutama juga sudah berhenti menangis.
"Ada hal lain yang ingin ayah bicarakan."
"Apa?"
__ADS_1
"Aku ingin menikahi Ibu Rena, apa kau setuju?"
Lara tidak terkejut, Ia sudah mengira jika ini akan terjadi.
"Aku tidak tahu, Anda tanya saja pada Ibu."
"Ayah, Ayah." protes Hutama.
Lara kembali memutar bola matanya malas, "Ayah tanyakan saja pada Ibu, aku tidak ingin ikut campur hubungan kalian."
Hutama tersenyum senang, "Jadi putriku mengizinkan?"
Lara mengangguk, Hutama reflek memeluk Lara karena terlalu senang.
Lara awalnya ingin menolak pelukan Hutama namun akhirnya Ia ikut memeluk juga karena merasa nyaman.
"Ayah akan ke dalam dan memberitahu Ibumu, secepat mungkin Ayah ingin mendaftarkan pernikahan." kata Hutama lalu berlari ke dalam meninggalkan Lara.
Lara hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka jika Hutama akan sesenang ini.
Sementara itu ditempat lain, Raka baru saja sampai di asrama Nila. Ia segera meminta izin pada pengurus untuk membawa Nila keluar jalan jalan.
Seperti biasa, Ia mengajak Nila belanja bulanan kebutuhan Nila lalu keduanya mampir ke kafe untuk makan siang dan mengobrol.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Baik kak, seminggu lagi ada ujian semester."
"Belajarlah lebih giat agar nilaimu bagus."
Nila mengangguk, "Terima kasih Kak atas kebaikan kakak karena sudah merawat Nila." ungkap Nila merasa bersyukur karena pacar kakaknya itu baik padanya.
"Jangan katakan itu, sudah kewajiban ku untuk mengurusmu." kata Raka dan Nila tersenyum.
"Ohh iya, setelah ini kita mampir ke makam Friska ya?"
Nila mengangguk, wajahnya berubah sedih, "Jika saja kak Friska masih ada, mungkin semua tidak akan seperti ini. aku sangat kesepian tidak memiliki siapapun."
"Kamu memiliki aku sebagai pengganti kakakmu, apa yang kau takutkan?"
Nila menatap Raka, "Apa kakak sudah menangkap pembunuh Kak Friska?"
Raka diam, Ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaahh