SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
37


__ADS_3

Aiden tersenyum memandangi Lara yang kini kembali terlelap. setelah tidak mengatakan apa apa lagi, Aiden melihat Lara sudah terlelap.


Aiden tidak menyangka, untuk pertama kalinya Ia plin plan dengan ucapan nya sendiri. Jika di ingat sore tadi Ia mengatakan pada Raka tidak akan pulang ke Villa dan memilih pulang ke apartemen nya namun karena tidak bisa tidur dan terus mengingat Lara akhirnya Aiden minta Raka mengantarnya pulang.


Selama perjalanan Raka juga tak henti hentinya tersenyum mengejek padanya membuat Aiden tersenyum geli jika mengingat itu.


"Kau benar benar membuat ku gila!" gumam Aiden lalu mencium kening Lara dan ikut tidur bersama nya.


Subuh, Lara terbangun dan merasakan tubuhnya sangat berat. saat membuka matanya, Ia melihat Aiden terlelap disampingnya.


"Kapan dia pulang?" batin Lara.


Semalam Lara bermimpi jika Aiden berbaring disampingnya dan akhirnya kini Ia paham jika semalam bukan mimpi, Aiden benar benar pulang.


Lara memandangi wajah tampan milik Aiden, sesekali Ia mengulas senyum, "Sebenarnya dia itu manusia apa bukan, kenapa tampan sekali." batin Lara kembali tersenyum.


"Apa yang membuat istri ku tersenyum sangat manis sepagi ini?" suara Aiden mengejutkan Lara, seketika Lara berbalik memunggungi Aiden, menyembunyikan wajah malunya.


"Kapan dia bangun? kenapa bisa melihat ku tersenyum padahal masih memejamkan mata." batin Lara merasa heran.


Aiden menarik tubuh Lara, membawa kembali ke pelukan nya, "Kau belum menjawab ku hmm?"


"Ak aku tidak tersenyum."


"Kau tersenyum bahkan jantungmu berdegup sangat kencang."


"Ku bilang aku tidak tersenyum!" balas Lara melepaskan diri dari Aiden.


"Dan kenapa kau menyebut aku ini istrimu? memang kapan kau menikahi ku?" protes Lara.


Aiden tersenyum, kembali mendekatkan tubuh Lara dan memeluknya, "Kau ingin menikah dengan ku kapan?" tanya Aiden yang tentu saja membuat Lara terkejut dengan penawaran Aiden.


"Hari ini, besok atau lusa? aku siap menikahimu."


"Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda."


"Aku ingin hari ini!" kata Lara asal.


"Baiklah Nona, sekarang aku akan menikahimu."


Tadinya Lara pikir Aiden hanya bercanda dengan ucapan pernikahannya, namun ternyata Lara salah karena tepat pukul tujuh pagi seorang penghulu datang ke villa bersama Raka untuk membantu Aiden mengucap ijab dan kabul.


"Nona sangat cantik dengan gaun ini." puji Mbok Nah yang membantu Lara mengunakan gaun yang dibawa Raka dan harus dipakai Lara.


"Aku pikir dia hanya bercanda." gumam Lara.


Mbok Nah tertawa, "Nona sudah di prank oleh Tuan."

__ADS_1


Lara mengangguk setuju, "Aku tidak menyangka, aku hanya membalas candaan nya tapi ternyata dia benar benar menikahi ku." kata Lara.


"Karena Tuan sangat mencintai Nona, tentu saja Tuan akan menikahi Nona." ucap Mbok Nah membuat pipi Lara memerah malu.


Lara keluar mengenakan gaun muslim yang dibelikan oleh Raka dan segera duduk disamping Aiden dimana sudah ada penghulu didepan mereka.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Penghulu pada Aiden.


Aiden menatap wajah Lara yang tak berani menatapnya setelah itu Ia akhirnya mengucapkan ijab dan kabul.


Sah...


Sah...


Sah...


Suara para saksi menandakan jika pernikahan mereka sudah sah di agama.


"Segera urus surat resminya agar sah di mata agama juga negara." kata penghulu yang langsung di angguki Aiden.


Seperti proses ijab dan kabul pada umumnya, Lara mencium tangan Aiden setelah dan dibalas ciuman kening oleh Aiden.


Semua orang yang ada disana tampak mengucap syukur dan bahagia kecuali satu orang, Risa yang sedari tadi menatap Lara penuh kebencian.


"Sudah ku bilang Tuan sangat mencintai Nona begitu juga dengan Nona jadi berhenti mencurigai ku!" bisik Nathan di telinga Risa, namun Risa tak mengubris ucapan Nathan, Ia malah menatap Nathan sinis.


Lara duduk di ranjang sementara Aiden berlutut didepan Lara.


"Sekarang aku sudah menikahi ibumu bayi, jadi jangan lagi membuat ibumu mual jika aku mencium nya." kata Aiden membuat Lara tersenyum.


"Aku pikir tadi pagi hanya candaan." kata Lara.


Aiden tersenyum, "Aku tidak pernah bercanda dengan mu masalah hati." balas Aiden membuat Lara tersipu malu.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan hmm," kata Aiden menatap Lara dengan tatapan nakal. Aiden membawa Lara berbaring di ranjang.


"Ini masih siang, apa kau akan melakukan nya?" tanya Lara tampak malu malu.


"Ck, apa kita harus menunggu malam untuk melakukan nya?" protes Aiden.


Lara mengangguk membuat Aiden mendegus sebal,


"Ada yang ingin ku tanyakan," kata Lara terlihat ragu.


"Apa sayang, tanya apapun padaku." ucapan Aiden kembali membuat wajah Lara memerah malu, Lara masih belum terbiasa dengan ucapan romantis Aiden.


"Sewaktu ijab dan kabul kenapa kamu tidak menyebut nama ayah ku?" tanya Lara yang sangat penasaran pasalnya saat ijab kabul, Aiden tidak menyebut nama sang Ayah.


Aiden terlihat diam,

__ADS_1


"Apa ada yang tidak ku ketahui?" tanya Lara lagi.


"Aku akan menceritakan padamu tapi berjanjilah agar kau tetap baik baik saja setelah mendengar semuanya."


Lara mengangguk,


"Apa yang tidak ku ketahui."


"Sebenarnya dia bukan Ayah kandung mu."


Deg....


Jantung Lara serasa berhenti berdegup saat mendengar ucapan Aiden.


"Aku mengambil beberapa helai rambut mu untuk tes dna dan hasilnya negatif, dia bukan ayah kandungmu."


Lara hanya diam membuat Aiden khawatir,


"Kau mengatakan jika akan baik baik saja." kata Aiden yang akhirnya membuat Lara tersenyum.


"Aku baik baik saja. lagi pula aku sudah menduga itu sejak lama."


Aiden mengerutkan keningnya, tidak paham dengan ucapan Lara,


"Ayah ku sangat kejam padaku setelah ibu tiada dan aku merasa dia bukan ayahku. nyatanya benar, dia bukan ayah ku." kata Lara tersenyum kecut.


Aiden memeluk Lara, "Kau sudah memiliki aku sekarang jadi jangan pikirkan apapun lagi." kata Aiden.


"Lalu apa kau tahu siapa ayah ku sekarang?"


Aiden diam, Ia tak mampu menjawab pertanyaan Lara.


Sementara itu, seorang pria tampak memasuki ruangan Hutama dimana sudah ada Hutama yang menunggu di ruangan itu.


"Sepertinya Tuan Aiden menikah hari ini karena saya melihat Raka membawa seorang penghulu." jelas Pria itu yang tak lain adalah anak buah Hutama.


Hutama mengepalkan tangan nya, "Lalu apa kau berhasil mengikutinya sampai Villa?"


"Maafkan saya Tuan, saya-"


"Cukup, aku sudah tahu jawaban mu, sebaiknya sekarang kau keluar!" perintah Hutama tampak muak dengan jawaban semua anak buahnya yang tidak bisa menemukan keberadaan Aiden.


"Apa aku harus mencarinya sendiri agar bisa menemukan tempat mu bersembunyi?" gumam Hutama sambil menatap foto Aiden.


Pranggg... Hutama memecahkan satu vas mahal yang ada di ruangan.


"Bodoh, dasar bodoh!" umpat Hutama membuat semua anak buah yang ada di ruangan itu tampak ketakutan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2