
Saat ini meja Aiden dan Adira tengah menjadi sorotan karena Adira membuat keributan dengan menampar pelayan restoran yang tak sengaja menumpahkan minuman dan mengenai baju Adira.
Tampak semua orang berbisik bisik sambil menatap Adira sinis, sementara Aiden masih duduk santai, hanya memperhatikan tidak melakukan apapun.
"Panggil bos mu sekarang!" perintah Adira pada salah satu pelayan lain nya.
"Maa maafkan saya Nona, sa saya benar benar tidak sengaja." kata pelayan itu sudah menangis.
"Kau pikir dengan Maaf bisa membuat baju ku kembali kering?" sentak Adira.
"Sudahlah Nona, bukan kah dia hanya pelayan baru. jangan terlalu di hakimi sendiri." kata seorang pelanggan yang berada disamping Adira, merasa kasihan dengan pelayan itu.
"Diam, kau tidak tahu siapa aku?"
"Kami tahu siapa kau, kau adalah putri pak menteri yang baik hati itu kan? kami hanya tidak menyangka pak menteri memiliki putri pemarah sepertimu." celetuk pelanggan lain yang langsung mendapatkan sahutan dari pelanggan lain nya.
Adira mengepalkan tangan nya, tidak ada yang membela nya saat ini bahkan Aiden hanya duduk diam sambil menatap dirinya tanpa ingin bersuara membela dirinya.
Bos si pemilik restoran itu kini sudah berada disana, Ia berjalan mendekati Adira.
"Maaf Nona, ada masalah apa Nona membuat gaduh restoran kami?" tanya pemilik restoran itu terdengar santun.
"Kau lihat, baju ku basah karena pelayan mu ini tidak becus bekerja!" kata Adira sambil menunjuk pelayan baru yang kini masih menangis.
Pemilik restoran menatap salah satu anak buahnya untuk meminta penjelasan, "Dia tak sengaja menumpahkan jus pada baju wanita ini pak." jelas salah satu pelayan pada pemilik restoran.
"Maafkan pelayan kami karena membuat Nona marah hari ini. jika Nona berkenan, kami akan memesankan baju yang sama untuk mengganti baju Nona." kata pemilik restoran.
"Kau pikir semudah itu? tidak aku ingin dia dipecat sekarang juga!" pinta Adira.
"Maaf Nona, kami tidak bisa. kami mentolerir setiap kesalahan kecil seperti ini."
"Kau bilang kesalahan kecil? kau tidak lihat baju ku basah."
Pemilik restoran itu melihat baju yang dikenakan Adira lalu tersenyum setelah melihat baju Adira hanya terkena tetesan saja tidak sampai basah semua.
"Jika Nona berkenan, izinkan saya mengganti baju nona." kata pemilik restoran.
"Tidak, aku bisa membeli baju ku sendiri, aku hanya ingin pelayan bodoh ini dipecat sekarang!"
__ADS_1
"Maaf kami tidak bisa melakukan nya."
"Sudahlah Nona, biarkan dia mengganti pakaian mu dan semua selesai." sahut pelanggan lain yang tampak sudah sangat geram dengan Adira.
"Baiklah, jika kau tidak memecat gadis bodoh ini, aku akan menelepon Ayahku, kau tahu ayah ku seorang menteri, Ayah ku bisa saja menutup restoran mu ini!" ancam Adira mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Silahkan saja Nona." pemilik restoran itu terlihat santai dan tidak takut dengan ancaman Adira.
Semua pelanggan yang ada di meja lain kembali berbisik bisik membicarakan kesombongan Adira apalagi saat Ayah Adira datang, semua orang malah semakin mendekat untuk menyaksikan drama live.
"Aku berani taruhah, ayahnya tidak akan membela putrinya." bisik seorang pelanggan kepada teman disebelahnya.
"Jadi apa masalahnya?" tanya Hendra Ayah Adira yang baru saja datang melihat putri semata wayangnya di kerumuni banyak orang.
"Ayah kau tahu, baju mahal ku ini terkena siraman jus, aku mengadu pada pemilik restoran tapi dia tidak menuruti semua ucapan ku." adu Adira pada Hendra.
"Maafkan saya Tuan, saya berniat mengganti baju Nona dengan yang baru namun Nona malah marah." kata pemilik restoran terdengar sopan.
"Aku tidak mau baju ku di ganti, aku hanya ingin pelayan bodoh ini dipecat!" pinta Adira didepan Ayahnya.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa sembarang memecat seseorang apalagi hanya karena kesalahan kecil ini. lagi pula baju Nona masih baik baik saja, tidak robek hanya terkena cipratan sedikit." kata Pemilik restoran itu membuat Hendra mengangguk paham.
"Kau benar aku setuju padamu!" kata Hendra membuat Adira melotot tak percaya.
"Adira sayang, ini hanya kesalahan kecil jangan biarkan amarahmu menguasai mu. biarkan saja pemilik restoran mengganti baju mu dan semua selesai."
"Tidak, aku ingin pelayan bodoh ini dipecat!" teriak Adira masih tak terima.
"Lihat lah, ayah yang baik dan gadis sombong."
"Benar gadis itu sangat sombong tidak seperti ayahnya yang baik hati."
"Pak menteri terlalu memanjakan putrinya."
Bisikan bisikan dari pelanggan lain nya yang didengar oleh hendra, Adira dan Aiden.
"Sayang, jangan seperti ini. sebaiknya kita pulang saja." ajak Hendra.
"Aku tidak mau, aku ingin pelayan bodoh ini dipecat." teriak Adira sekali lagi.
__ADS_1
"Maafkan atas sikap putri saya, setelah kehilangan ibunya, putri saya sangat kesepian dan menjadi seperti ini, maafkan atas sikap putri saya yang kurang baik." kata Hendra pada semua orang.
Hendra menarik tangan Adira lalu membawanya keluar,
"Lihatlah, pak menteri sangat malu dengan apa yang di lakukan putrinya." kata salah seorang pelanggan saat Hendra mengajak Adira keluar.
Aiden tersenyum melihat kejadian ini, Ia berjalan mendekati pemilik restoran, "Apa kau tahu siapa pria yang baru saja kesini?"
"Tentu saja saya tahu, bukankah dia pak menteri?"
Aiden mengangguk, "Kau tidak takut restoran mu di tutup karena berani melawan putri menteri itu?"
"Saya tidak takut Tuan, restoran saya memiliki cita rasa yang khas, jika sampai restoran saya ditutup hanya karena masalah ini, semua pelanggan saya yang ada di sini tentu tidak akan diam saja."
Aiden kembali dibuat tersenyum oleh jawaban Pemilik restoran itu, "Kau sangat menganggumkan, jika terjadi sesuatu dengan restoran mu, aku akan membantu mu."
"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak."
Aiden segera keluar dari restoran karena Ia yakin Hendra dan Adira pasti menunggunya.
"Apa yang Ayah lakukan?" Adira melepaskan paksa genggaman tangan Hendra yang mencengkeram.
"Untuk pertama kalinya Ayah sangat kecewa padamu." ungkap Hendra membuat Adira mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Pelayan bodoh itu yang salah, kenapa Ayah malah menyalahkan ku?" protes Adira tak terima.
"Ayah harus menjaga reputasi Ayah sebagai menteri, jika kau kesal seharusnya kau bisa menahan dirimu agar tidak terjadi hal yang memalukan seperti ini."
Adira tampak diam, menyadari apa yang Hendra katakan.
"Jika kau masih ingin Ayahmu menjadi menteri, cobalah untuk bersikap baik didepan publik." kata Hendra.
"Baiklah baiklah, aku akan sedikit menahan nya lain kali." kata Adira yang membuat Hendra tersenyum dan mengelus rambut Adira.
Aiden berjalan mendekati Ayah dan anak yang terlihat sudah akur itu,
"Kau berada disana kenapa tidak membela Adira?" tanya Hendra pada Aiden.
"Bukan kah saya juga harus menjaga reputasi saya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komenn