
Setelah beberapa hari menjalani perawatan dirumah sakit akhirnya Aiden diperbolehkan pulang karena keadaanya sudah membaik.
"Haruskah membicarakan sekarang? kau baru saja pulang dari rumah sakit." kata Lara saat Aiden langsung ingin ke ruangannya berbicara bersama Raka.
"Ya, aku ingin segera menyelesaikan sekarang. lagipula aku sudah baik baik saja."
Lara masih saja cemas dan tidak mempercayai Raka karena secara tidak langsung Raka sudah membantu mencelakai Aiden.
"Jangan khawatir, dia sudah tidak sejahat itu." kata Aiden sambil mengelus puncak kepala Lara.
Lara akhirnya membiarkan Aiden masuk ke ruangan bersama Raka.
"Saya ingin minta-"
"Sebelumnya terimakasih karena kau sudah membantuku untuk menebak Hendra, aku tidak menyangka kau akan nekat naik ke pohon besar itu hanya karena ingin menyelamatkanku." potong Aiden saat Raka belum menyelesaikan ucapannya.
"Sudah kewaji-"
"Dan aku minta maaf karena tidak lagi mengusut kasus kematian Friska, jika kau mau aku akan membantu mencari pengacara agar kasus ini ditangani pihak berwajib dan terungkap siapa pelakunya." Potong Aiden lagi sebelum Raka sempat menyelesaikan ucapannya.
"Dan aku sudah menyiapkan ini untukmu." kata Aiden memberikan sebuah berkas berisi profil sebuah perusahaan.
"Ini... ini..." tangan Raka gemetar saat mengetahui nama pemilik perusahaan yang tertulis di berkas itu.
"Ya, aku sudah menyiapkan itu untukmu sejak lama. Setelah aku menikah dengan Lara, aku berniat pensiun dan aku ingin kau mendapatkan pekerjaan yang layak untukmu jadi aku membuatkan ini untukmu."
Raka terdiam, termenung dan masih tidak mempercayai apa yang Aiden lakukan untuknya.
"Tadinya aku ingin mengawalmu lebih dulu dalam menjalankan perusahaan itu namun karena kejadian ini, aku pikir kau akan baik baik saja tanpa harus ku dampingi." kata Aiden.
Raka mendekat ke arah Aiden, Ia lalu berlutut didepan kaki Aiden.
"Tuan, ku mohon ampuni saya." ucap Raka tak tahan akhirnya menangis.
"Selama ini aku tidak pernah menganggapmu asisten ku, aku selalu menganggapmu adik ku sendiri dan setelah mengetahui pengkhianatan ini rasanya menyakitkan sekali jadi aku memutuskan untuk segera menghentikanmu dan bekerjalah sendiri mengurus perusahan itu."
"Saya tidak pantas Tuan, saya sudah tidak pantas menerima kebaikan dari Tuan." kata Raka masih menangis.
__ADS_1
"Tentu saja kau pantas mendapatnya, selama ini hanya kau yang aku miliki dan menemani ku hingga seperti ini jadi terimalah, jadilah bos yang baik hati dan sukseskanlah perusahaan itu."
Raka mengangguk, Ia masih sesenggukan menangis, "Terima kasih Tuan, terima kasih atas kebaikan Tuan."
Selesai berbicara, Raka segera keluar dari ruangan Aiden karena Ia harus segera berkemas untuk pergi dari Villa hari ini juga.
Baru membuka pintu, Raka terkejut karena ada Lara didepan puntu, entah sedang menguping atau baru saja datang namun Raka bisa melihat raut Lara tampak khawatir.
"Tuan baik baik saja Nona, saya sudah tidak melakukan apapun lagi, maafkan saya Nona."
Lara mengangguk, Ia segera menyerobot memasuki ruang kerja Aiden dan Lara melihat suminya dalam keadaan yang baik.
"Apa kau sangat mengkhawatirkan ku sayang?" tanya Aiden pada Lara yang baru saja masuk.
"Tentu saja. mulai sekarang jangan mempercayai siapapun lagi!"
Aiden tertawa, "Tapi aku mempercayai mu."
Lara tersenyum, "Aku pengecualian."
Lara dibawa ke pangkuan Aiden, "Lihat lah gadis kecil ini mulai nakal sekarang." Aiden mencubit pipi Lara membuat Lara tersenyum.
"Aku ingin pensiun, menikmati hari bersama mu dan anak anak kita."
"Kau tidak bekerja lagi? lalu bagaimana kita mendapatkan uang?" tanya Lara tampak terkejut.
Aiden terkekeh, "Bahkan uangku sangat cukup untuk hidup sampai tujuh turunan."
"Kau sangat kaya raya?" Lara masih tidak menyangka, Aiden hanya tersenyum melihat keterkejutan Lara.
Beberapa hari berlalu, Hari ini Aiden berniat mengunjungi Hendra yang sudah ditahan di kantor polisi.
Awalnya Hendra tidak mau menemui Aiden namun karena polisi yang berjaga memaksa akhirnya Hendra mau menemui Aiden.
"Apa kau kesini untuk menertawakan aku huh?" tanya Hendra dengan tatapan tak suka.
"Tidak, aku hanya ingin melihat keadaan mu."
__ADS_1
"Dan kau senang aku belum mati?" sinis Hendra.
Aiden mengangguk, "Aku senang kau baik baik saja."
"Kau benar benar mengejek ku, anak sialan!"
"Kenapa kau tidak menginginkan anak dari Miranti?" tanya Aiden yang membuat suasana menjadi tegang.
"Karena Miranti tidak memberikan keuntungan untuk ku!"
"Kau yakin karena masalah itu? bukankah kau sangat menginginkan anak laki laki?"
Hendra tampak terkejut mendengar ucapan Aiden.
"Adira bukan putrimu, aku anak kandungmu, kau menjodohkan kami karena kau tahu aku putramu tapi selama ini kau pura pura tidak tahu, apa aku salah?"
Lagi lagi Hendra terkejut, bagaimana bisa Aiden tahu jika Adira bukan putri kandungnya mengingat waktu tugas di luar kota, ibu Adira berselingkuh hingga hamil namun Hendra tetap menerima karena Hendra mengincar harta Ibu Adira yang kini sudah jadi miliknya.
Hendra menunduk, tak lagi menjawab karena apa yang ditanyakan Aiden benar semua.
"Miranti ibuku sangat mencintaimu, bahkan Ia rela dikucilkan oleh keluarganya hanya karena ingin memberikan putra untukmu!"
Ucapan Aiden seketika membuat Hendra menangis.
"Aku tahu, aku pun sangat mencintainya bahkan sampai sekarang!"
Giliran Aiden yang terkejut,
"Selama ini aku hanya mengincar harta Ibu Adira, setelah aku mendapatkannya aku ingin kembali pada Miranti namun sayang saat aku kembali Miranti sudah tewas, bukan aku yang membunuhnya, bukan aku!"
"Kau pengecut, kau sangat pengecut!" Aiden tampak emosi dan hendak pergi dari sana.
"Terima kasih sudah menjenguk ku kesini, putraku!" kata Hendra lalu Aiden pergi.
Aiden sudah berada diluar, Ia menendang nendang ban mobilnya, "Sial, pria itu sangat menyebalkan!" ucap Aiden merasa kesal dengan semua ucapan Hendra.
"Kenapa aku harus memiliki Ayah seperti itu, huh aku sangat kesal padanya! seharusnya dia datang tepat waktu saat itu, sebelum Ibu dibunuh pasti aku tidak akan menderita, dasar pria menyebalkan!"
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen yahh