
Hendra membanting barang barang yang ada diruang kerjanya hingga berjatuhan dan pecah. meski tangan nya terluka karena luka tembak Ia tidak peduli, Ia sangat marah saat ini.
"Bodoh, kalian semua bodoh!" umpat Hendra pada anak buahnya yang menunduk takut.
"Bisa bisanya kalian biarkan orang luar menyelusup dan menembak ku!" umpat Hendra lagi.
"Maaf bos, maafkan kami karena baju yang di pakai sangat mirip dengan kami." ucap salah seorang anak buah Hendra membela diri.
"Lagipula banyak orang baru di antara kami Bos yang membuat kami belum mengenal satu sama lain." ucap anak buah lainnya.
Hendra mengepalkan tangan nya, "Sial, siapa yang sudah berani mempermainkan ku!"
"Dia salah satu anak buah Hutama bos yang selalu mengikuti kemanapun Hutama pergi." kata salah satu orang yang ada disana yang membuat Hendra terkejut.
"Dia anak buah Hutama?"
"Benar bos, saya sering meihatnya selalu mendampingi Tuan Hutama."
Brakk,
Hendra memukul mejanya sangat keras, "Apa yang sebenarnya dia lakukan, bisa bisanya dia mengkhianatiku!"
"Kita ke tempat Hutama sekarang, aku ingin mencari perhitungan dengan nya!" ajak Hendra membawa serta beberapa anak buahnya.
Namun Hendra harus dibuat kecewa karena saat sampai di istana Hutama, tidak ada orang yang Ia cari.
"Sudah hampir dua minggu Tuan pergi dan belum kembali." kata anak buah Hutama yang berjaga.
"Apa kau tahu kemana dia pergi?"
"Tidak Tuan, saat pergi Tuan Hutama tidak membawa banyak orang."
Hendra kembali mengepalkan tangannya, "Sial, kemana pria itu pergi."
Hendra mengambil ponselnya, "Cari keberadaan Hutama dan Aiden, segera laporkan padaku jika sudah menemukannya!" perintah Hendra pada anak buahnya.
Hendra kembali memasuki mobil dan segera pulang kerumah. Sampai dirumah salah satu maidnya berlari ke arahnya.
"Tuan, Nona mengamuk lagi!"
Hendra segera ke atas, ke kamar putrinya dan saat Ia membuka pintu melihat kamar putrinya sangat berantakan. Wajah putrinya pun juga berantakan seperti tak terurus.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA PUTRIKU SELAMA AKU PERGI!" bentak Hendra pada semua maidnya yang berkumpul dikamar Adira.
"Maafkan kami Tuan, Nona selalu mengamuk saat kami ingin melayaninya." kata salah satu maid memberanikan diri.
__ADS_1
"Aku menikah, aku akan menikah sebentar lagi hahaha." celoteh Adira sambil memainkan rambutnya membuat Hendra sangat terkejut.
"Pria ku sangat tampan, dia tampan sekali dan akan menjadi suamiku." celoteh Adira lagi.
"Tuan sepertinya kita harus memeriksa keadaan Nona." kata salah satu maid.
"DIAM! KAU PIKIR PUTRIKU GILA?"
Maid itu langsung menunduk ketakutan dengan bentakan Hendra.
"Urus dia, jika dia menolak paksa. aku tidak ingin melihat keadaannya seperti ini!" perintah Hendra lalu pergi meninggalkan kamar Adira.
Brakk
Hendra menutup pintu kamarnya kasar, "Putriku tidak gila, tidak Adira tidak gila!"
"Aiden sialan, pria itu sudah membuat keluargaku hancur, aku pasti akan membalasnya!" kata Hendra sambil mengepalkan tangannya.
Sementara itu ditempat lain, Wanita paruh baya yang biasa dipanggil Mak Siti terlihat melepaskan ikatan wanita yang kini sudah bangun. satu persatu ikatan dilepaskan bahkan pasung yang mengikat kakinya pun kini sudah terlepas.
"Kenapa dilepas mak? aku sedang tidak ingin ke kamar mandi." kata wanita itu dengan suara lembut. wajahnya yang pucat tidak memudarkan kecantikan alami wanita itu.
"Kita akan mandi nyonya." ucap Mak Siti tersenyum menatap wanita itu.
"Tidak apa apa Nyonya, kita mandi lagi dan memakai baju yang bagus hari ini." kata Mak Siti lagi.
"Baju yang ku pakai selalu bagus setiap harinya."
Mak Siti menahan tangisnya, meski Ia ingin menangis saat ini juga mendengar ucapan sederhana wanita yang ada didepannya itu.
"Setiap hari Nyonya hanya memakai piyama namun Nyonya selalu mengataka bajunya bagus." batin Mak Siti.
Tak protes lagi, Wanita itu mengikuti Mak Siti memasuki kamar mandi. Selama ini memang Mak Siti yang selalu memandikan dan melayani semua kebutuhan wanita itu.
"Sabun nya harum sekali, Apa ini sabun baru?"
Mak Siti tidak menjawab, hanya mengangguk saja.
"Kenapa wajah Mak Siti terlihat sedih? apa aku membuat kesalahan?" tanya Wanita yang sedari tadi melihat raut wajah Mak Siti yang berbeda dari biasanya.
"Tidak Nyonya, tidak." Kata Mak Siti sambil menggelengkan kepalanya.
"Justru saya sedang bahagia saat ini." tambah Mak Siti lagi.
"Apa yang membuat Mak Siti bahagia? aku ingin tahu."
__ADS_1
Mak Siti tersenyum, "Nanti Nyonya akan tahu jawabannya."
Wanita itu diam, seperti memikirkan sesuatu. Selesai mandi, Mak Siti membantu wanita itu berjalan keluar kamar mandi. Karena setiap hari di ikat dan dipasung membuat tangan dan kaki wanita itu tidak berfungsi dengan normal.
"Kenapa aku harus memakai baju seperti ini?" tanya wanita itu saat Mak Siti memakaikan dress selutut yang sangat cantik untuknya.
"Karena saya ingin membawa Nyonya jalan jalan keluar."
"Tidak, aku tidak mau. aku baik baik saja didalam kamar. jangan keluar, aku tidak ingin Mak Siti mendapatkan masalah karena ini." tolak wanita itu, wajahnya berubah ketakutan.
Mak Siti tersenyum, "Semua akan baik baik Nyonya, jangan khawatirkan apapun."
Mak Siti menyisirkan rambut wanita itu lalu memberikan make up tipis agar terlihat lebih cantik meski tanpa make up pun sudah cantik.
"Mari Nona, kita keluar." ajak Mak Siti mengulurkan tangannya.
Wanita itu terlihat ragu, Ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau keluar, aku disini saja."
"Nyonya, tidak apa apa. semua akan baik baik saja." kata Mak Siti mengambil tangan Wanita itu lalu mengenggamnya, memberikan keyakinan pada wanita itu.
"Aku takut Mak Siti akan mendapatkan masalah." kata Wanita itu dengan bibir bergetar.
"Tidak akan Nyonya, semua akan baik baik saja. Ayo keluar, sudah waktunya Nyonya melihat dunia luar." Kata Mak Siti dengan mata berkaca kaca.
Wanita itu akhirnya mengangguk, tangannya gemetar dan terasa dingin terlihat jika dia sangat ketakutan namun tetap mengikuti langkah Mak Siti berjalan keluar dari kamar yang selama ini Ia huni setiap harinya.
"Udaranya segar, sangat segar." ucap wanita itu menghirup udara luar untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak merasakan udara luar ruangan.
"Taman ini sangat indah, aku tidak tahu ada taman yang indah ditengah hutan seperti ini." ucap Wanita itu begitu kagum dengan taman buatan yang ada di belakang rumahnya.
"Nona duduklah disini, saya harus masuk sekarang."
Wanita itu menahan tangan Mak Siti, "Jangan pergi mak, aku takut disini sendirian."
Mak Siti tersenyum dan melepaskan genggaman tangan wanita itu, "Tidak apa apa Nyonya, Mak harus masuk sekarang karena sudah ada yang menunggu Nyonya."
"Siapa?"
Mak Siti tidak menjawab, langsung pergi begitu saja. Wanita itu berbalik dan terkejut setengah mati melihat seorang pria yang kini menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Pria yang tak lain adalah Hutama itu berlutut dan memeluk kaki wanita itu, "Maafkan aku, maafkan aku sudah bersalah selama ini, maafkan aku Rena."
Bersambung...
nah kan... nah kan... Rena belum dibunuh hehe
__ADS_1