SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
45


__ADS_3

Hutama terkejut saat melihat berita di televisi jika Devil Club terbakar. meskipun begitu Hutama tahu siapa dalang di balik kebakaran tempat usaha milik putra angkatnya itu.


Hutama mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kau yang melakukan nya kan?" tanya Hutama pada Hendra.


Didalam telepon Hendra tertawa, "Kau sudah tahu kenapa harus bertanya." balas Hendra terdengar santai.


"Bukankah ini sedikit keterlaluan?" tanya Hutama.


"Reputasi ku hancur karena pria itu jadi aku akan menghancurkan nya juga!"


"Meskipun dia putramu?"


"Aku tidak peduli jika dia putraku, dia sudah membuat karir ku hancur. karir yang sudah ku rintis selama ini dan jika perlu aku juga akan membunuhnya."


Hutama diam, tak lagi menjawab ucapan Hendra hingga akhirnya Hendra mengakhiri panggilan nya.


"jika saja kau putraku mungkin aku akan melindungimu, sayangnya kau bukan putraku." Hutama tersenyum sinis dan kembali meletakan ponselnya.


Sementara pagi ini, Lara diperbolehkan pulang ke Villa dan harus bedrest, istirahat total tidak melakukan pekerjaan apapun.


Aiden pun begitu telaten merawat Lara seperti saat ini yang membawakan bubur untuk Lara sarapan dan menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri." protes Lara merasa sungkan.


"Untuk saat ini aku tidak akan membiarkan mu melakukan sesuatu sendiri jadi menurutlah jangan merengek!"


Lara akhirnya pasrah, diam dan menurut saat Aiden menyuapinya bubur.


"Dokter Clara sangat baik dan cantik." ucap Lara tiba tiba.


"Ya, dia memang harus begitu karena dia seorang dokter."


"Kenapa kau tidak menikah dengan nya saja?" tanya Lara yang membuat Aiden menghentikan gerakan tangan nya.


"Jadi sekarag kau meminta ku menikah dengan nya?" tanya Aiden tampak kesal.


"Bu bukan ,kenapa kau harus marah. aku kan hanya bertanya."


"Pertanyaan mu menyebalkan!"


"Kau ini sangat pemarah." ejek Lara membuat Aiden menghela nafas panjang.


Pintu diketuk dari luar dan Aiden mempersilahkan masuk,

__ADS_1


"Maaf Tuan tapi saya harus mengatakan ini karena ini sangat penting." kata Raka yang baru saja memasuki kamar Lara.


"Ya katakan saja"


"Tuan yakin saya harus mengatakan disini?" Raka terlihat ragu karena ada Lara disana.


"Tidak apa, katakan saja!"


"Banyak korban yang luka karena kebakaran semalam Tuan dan beberapa ada yang meninggal, semua awak media mencari Tuan bahkan ada yang mengira Tuan ikut terbakar dan meninggal." jelas Raka.


"Untuk saat ini kita jangan keluar, kau suruh orang untuk membereskan masalah ini dan jangan lupa berikan santunan uang pada keluarganya yang meninggal."


"Sangat bagus jika mereka menganggap aku meninggal, jadi mereka tidak akan mencari tempat ini." kata Aiden yang diangguki Raka.


"Baiklah Tuan, saya permisi."


Raka keluar dari ruangan Aiden, Lara tampak melongo tak percaya dengan apa yang Raka ucapkan.


"Kenapa?" tanya Aiden.


"Dunia mu begitu kejam." kata Lara membuat Aiden tersenyum.


"Bukan kah dunia kita sama? sama sama kejam." kata Aiden membuat Lara terdiam.


"Aku tidak terlalu ingat dengan kehidupan di masa lalu." balas Lara yang memang tidak mengingat apapun tentang masa kecilnya.


"Tapi jika melihat musuhmu yang sangat banyak saat ini apa kau yakin akan baik baik saja?" tanya Lara tampak khawatir.


"Tentu saja, ku bilang jangan cemaskan aku. pikirkan dirimu sendiri agar segera sehat dan kita bisa membuat anak lagi."


Plak, Lara memukul lengan Aiden dan menatapnya sebal, "Dasar mesum!"


Aiden tertawa, "Kau akan menyukai kemesuman ku nanti."


"Tidak akan!"


Siang hari, saat Aiden sedang berada di ruang kerjanya, Lara tampak sendirian diranjang sambil menonton televisi. Pintu kamar terbuka, Tadinya Lara pikir Aiden namun ternyata seseorang yang malas Ia lihat, Risa.


Risa tampak meletakan segelas jus di meja Lara,


"Dasar wanita lemah, hanya seperti ini saja bisa keguguran." ucap Risa yang membuat hati Lara sakit.


"Sebaiknya kau diam dan segera keluar!" pinta Lara tak ingin kembali sakit hati dengan ucapan Risa.


"Kenapa? kau takut padaku?" Risa tersenyum sinis.

__ADS_1


"Aku tidak takut, aku hanya malas melihat wajah mu." balas Lara tak kalah sengit.


"Wanita pengoda seperti mu memang pantas mendapatkan ini, lihatlah bahkan anak yang ada di rahim mu saja pergi meninggalkan mu karena tidak ingin mempunyai ibu seperti mu."


"DIAMMM.... PERGI KAU PERGI!" jerit Lara membuat Risa terkejut dan akhirnya keluar dari kamar Lara.


Didepan pintu Risa terkejut karena berpapasan dengan Aiden yang terlihat panik seperti mendengar suara Lara.


"Ada apa?" tanya Aiden pada Risa yang langsung ketakutan.


"Sa saya tidak tahu Tuan, saya hanya mengantar jus dan tiba tiba Nona berteriak." kata Risa.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Aiden memasuki kamar dan melihat Lara sudah berbaring diranjang.


"Ada apa sayang?" Aiden mendekat untuk memastikan keadaan Lara baik baik saja.


"Aku tidak apa apa." Lara memaksakan senyum padahal Aiden tahu raut wajah Lara seperti ingin menangis.


"Apa ada yang menyakitimu?" tanya Aiden mengingat orang yang terakhir masuk ke kamar hanya Risa namun Aiden ragu jika Risa yang melakukan nya karena selama bekerja di sini Risa terlihat kalem.


"Tidak ada, aku tadi berteriak karena Risa mengoda ku, aku hanya bercanda dengan nya." balas Lara mencoba meyakinkah Aiden padahal Ia menahan diri agar tidak mengatakan yang sebenarnya yang membuat Risa akan dipecat nantinya.


Aiden melihat tatapan mata Lara, merasa sepertinya Lara berbohong padanya apalagi saat melihat Risa keluar terlihat ketakutan dan panik, Aiden yakin ada yang disembunyikan Lara.


"Lain kali jika hanya bercanda jangan berteriak terlalu keras karena bisa membuat semua orang khawatir." kata Aiden yang langsung di angguki Lara.


"Sekarang istirahatlah, aku akan kembali keluar." kata Aiden menarik selimut Lara agar menutupi tubuh Lara.


Aiden mengecup kening Lara lalu keluar dari kamar, membiarkan Lara menangis karena Aiden tahu Lara sedang menahan diri untuk menangis. Dan benar saja, pintu baru saja tertutup dan Lara sudah sesenggukan menangis.


"Dasar, bisa bisanya dia berteriak seperti preman!" omel Risa yang kini berada di belakang rumah.


"Kau pasti menganggu nona lagi." suara Nathan terdengar membuat Risa menatap kesal ke arahnya.


"Untuk apa kau peduli, bukankah kita sudah putus?"


"Aku hanya mengingatkan, jika Tuan tahu mungkin kau akan segera di pecat dari sini!"


"Aku tidak peduli, karena dia yang membuat hubungan kita putus, aku tidak akan berhenti menganggu nya dan aku akan membuat hidupnya hancur seperti hidupku!"


"Hidup siapa yang akan kau buat hancur?" tanya seseorang dari belakang yang tiba tiba membuat tangan Risa bergetar karena Risa tahu suara siapa itu.


"Tu tuan..."


"Katakan padaku hidup siapa yang akan kau buat hancur?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komenn yaaa


__ADS_2