
Aiden berjalan memasuki club, wajahnya menampakan senyum pertanda jika Ia sedang senang saat ini. Ya Ia sangat senang melihat Hendra dan Adira di permalukan didepan umum karena kesombongan Adira sendiri.
Namun seketika senyum Aiden memudar saat melihat seseorang yang tidak ingin Ia lihat berada di ruangan nya.
"Putraku sudah kembali." ucap Pria itu yang tak lain adalah Hutama.
"Apa yang Ayah lakukan disini?" tanya Aiden menatap Hutama yang saat ini duduk di kursi miliknya.
"Tentu saja untuk menemui putraku, karena jika aku tidak kesini aku tidak bisa bertemu dengan putraku." kata Hutama berdiri lalu mendekati Aiden.
Hutama menepuk nepuk bahu Aiden, "Kau sudah besar sekarang Nak, sudah pintar pula dari Ayahmu yang sudah renta ini." kata Hutama membuat Aiden tersenyum sinis.
"Apa yang Ayah inginkan sampai datang kesini menemui ku?"
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu makan siang, namun sayang aku terlambat, kau bahkan sudah makan siang."
"Tidak perlu berbasa basi, cukup katakan saja apa yang Ayah inginkan!" tegas Aiden membuat Hutama tertawa.
"Semakin hari kau semakin berbeda nak, dari yang dulu hanya bocah lemah ingusan kini sudah menjadi pria gagah dan berani."
Aiden tersenyum, "Bukankah ini yang Ayah inginkan dariku? gagah dan berani agar bisa melidungi segala kejahatan yang Ayah lakukan?"
Hutama kembali tertawa, "Tentu saja kau harus melakukan itu, bukankah memang sudah kewajiban mu untuk balas budi atas segala kebaikan ku padamu nak?" kata Hutama, Aiden mengepalkan tangan nya, sungguh Ia sangat benci dengan wajah pria yang ada didepan nya itu.
"Jadi apa yang Ayah inginkan?" tanya Aiden ingin terlihat tenang.
"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin memujimu, jika kau sangat cerdik menyembunyikan gadismu itu, aku hanya takut keberadaan nya membuatmu berpaling pada Adira." kata Hutama yang langsung membuat Aiden tertawa.
"Jadi itu yang Ayah takutkan?"
Hutama tersenyum, "Jangan macam macam Aiden, mungkin aku bisa saja membunuh gadismu itu jika kau berani melakukan sesuatu." ancam Hutama.
"Memang itu yang selalu Ayah katakan, tapi Ayah tenang saja mungkin aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan Ayah."
Hutama kembali tersenyum, "Kau memang putra yang patut untuk di banggakan." kata Hutama lalu menepuk nepuk pipi Aiden dan segera keluar dari ruangan Aiden.
Aiden kembali mengepalkan tangan nya lalu tersenyum setelahnya, "Anak ingusan ini yang akan membuatmu menangis menyesal sudah membunuh banyak orang!"
Tak berapa lama Raka memasuki ruangan Aiden, "Saya melihat Hutama datang dan memilih tidak mendekat karena saya takut tidak bisa mengontrol diri." kata Raka.
"Tidak masalah, memang sebaiknya jangan mendekat."
"Apa terjadi sesuatu Tuan?"
"Hanya sedikit ancaman yang sudah biasa kita dengar."
__ADS_1
Raka mengangguk paham, "Tuan ingin pulang?"
Aiden menggeleng, "Untuk sementara kita harus jarang pulang karena Hutama sedang gencar mencari tahu keberadaan Villa, aku takut kita lengah dan membuat Hutama mengetahui persembunyian kita."
"Baiklah Tuan,"
Sementara di Villa, Lara tampak sibuk membantu Mbok Nah menyiapkan makan malam.
"Nona sedang hamil muda, sebaiknya Nona istirahat saja, saya takut terjadi sesuatu dengan Nona." kata Mbok Nah tampak khawatir, tanpa disadari ucapan Mbok Nah didengar beberapa maid yang juga berada disana salah satunya adalah Risa yang langsung terkejut mendengar berita kehamilan Lara.
"Tidak apa apa Mbok, aku hanya ingin membantu memasak untuk Aiden." kata Lara memaksa yang akhirnya Mbok Nah pasrah tidak bisa berbuat apapun.
Selesai memasak, Lara mandi dan menunggu Aiden pulang namun sampai pukul delapan malam Aiden tak kunjung pulang.
"Mungkin Tuan tidak pulang Nona, sebaiknya Nona makan malam lebih dulu saja." kata Mbok Nah merasa kasihan dengan Lara yang masih menunggu.
"Satu jam lagi Mbok, jika masih belum pulang aku akan tidur saja."
"Makan dulu Nona, Nona harus makan dan minum vitamin."
Lara menghela nafas panjang, Ia mengelus perutnya dan sadar jika sekarang sudah ada baby diperutnya dan Lara tidak boleh egois.
"Baiklah, aku makan sekarang." kata Lara membuat Mbok Nah tersenyum senang.
Risa tampak tersenyum puas melihat Lara yang tengah sedih, Ia pergi ke taman belakang dan menemukan kekasihnya yang sedang duduk sambil menghisap rokoknya.
"Kau tidak senang melihat ku bahagia?"
"Ck, tentu saja aku senang, aku hanya penasaran apa yang membuat Kekasihku ini senang." kata Nathan sambil mengelus kepala Risa.
"Aku dapat berita yang pasti akan membuatmu terkejut."
"Berita apa?"
"Lara hamil."
Nathan benar benar di buat terkejut dengan ucapan Risa.
"Kau pasti terkejut karena patah hati." tuduh Risa.
"Ck, selalu berakhir seperti ini!" balas Nathan malas.
"Dan kau tahu apa yang lebih mengejutkan dari ini?"
Meski di buat kesal, Nathan masih penasaran dengan kelanjutan cerita Risa.
__ADS_1
"Lara di campakan oleh Tuan." kata Risa tersenyum puas.
"Aku tidak yakin dengan ucapan mu yang terakhir." kata Nathan.
"Kau tidak percaya padaku?" Risa terlihat kesal.
Nathan mengangguk, "Setahu ku, Tuan sangat mencintai Nona jadi tidak mungkin Tuan akan mencampakan nya."
"Kau membela gadis itu?"
"Aku tidak membela, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." balas Nathan kembali malas.
"Apa kau masih menyukai gadis itu hah!"
Nathan membuang rokoknya, "Terserah apapun yang ingin kau katakan, aku malas berdebat dengan mu!"
Nathan berdiri dan segera pergi meninggalkan Risa,
"Dia sudah berubah, Nathan sudah berubah hanya karena gadis sialan itu!" umpat Risa tampak emosi.
Setelah menghabiskan makan malam nya, Lara meminum vitamin dan segera istirahat tidur. rasanya seperti baru beberapa menit Ia memejamkan mata, Lara mencium bau harum yang sangat khas berjalan mendekatnya. Setelah itu Ia kembali merasakan sebuah tangan mengeser tubuhnya membawa Lara ke dalam pelukan seseorang.
Dada bidang yang kekar, serta bau harum yang khas yang sangat Lara kenali juga tangan dingin yang menyentuh kulit Lara membuat Lara akhirnya terbangun.
"Apa aku menganggu tidur mu?" suara Aiden sangat jelas di dengar oleh Lara.
"Hmm, kau pulang?" Tanya Lara dengan mata tertutup yang membuat Aiden tersenyum geli.
"Apa kau tidak suka jika aku pulang?"
Lara memukul dada bidang milik Aiden, "Tidak, kau harus pulang setiap hari."
Aiden kembali tersenyum, "Lalu bagaimana jika aku tidak pulang?"
"Mungkin aku akan mendiamkan mu, aku tidak akan bicara lagi dengan mu." kata Lara masih memejamkan matanya.
"Oh tidak, aku sangat takut." jawab Aiden membuat Lara tersenyum geli dan akhirnya membuka matanya.
"Kamu sangat menyebalkan." kata Lara sambil tertawa.
"Apa kamu kesal karena terlalu merindukan aku?"
Lara terdiam, Ia ingin sekali mengatakan "Ya aku sangat merindukan mu."
Bersambung....
__ADS_1
komen yukk komeennn..... hehe