SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
23


__ADS_3

Adira memasuki mobilnya, berkali kali Ia memukuli setir mobilnya karena sangat marah pada Aiden.


"Seharusnya pria itu tunduk padaku dan menuruti semua keinginanku!"


Adira kembali memukul setir mobilnya, Kini Ia tahu kemana harus pergi mengadukan kekesalan nya malam ini.


Adira melajukan mobilnya menuju sebuah rumah mewah milik Hendra Papa Adira. Ia memasuki rumah itu dan menuju ke belakang dimana sang Papa sedang berpesta di sana bersama rekan rekan nya.


"Kenapa putri Papa terlihat cemberut?" tanya Hendra pada putrinya yang baru saja datang dengan wajah masam.


"Aku tidak menyukai bertunangan dengan Aiden!"


"Kenapa? bukankah kau sangat menyukai pria itu?" tanya Hendra tampak terkejut.


"Dia bukan pria penurut, tidak bisa menuruti apapun yang ku inginkan."


Hendra tersenyum, Ia meminta wanita yang ada disampingnya untuk pergi lalu menepuk tempat kosong yang ada disampingnya, "Duduklah dulu."


Adira menurut, duduk disamping Hendra,


"Aiden itu berbeda dari pria mu sebelumnya, yang hanya menunduk dan menurut apapun yang kau inginkan. Aiden memiliki harga diri yang tinggi karena dia seorang mafia."


"Lalu apa yang harus ku lakukan Pa?"


Hendra tersenyum,"Bersabarlah sedikit sayang, kau harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati pria seperti Aiden. ambil dulu hatinya dan kau akan mendapatkan segalanya dari Aiden." jelas Hendra pada putrinya.


"Jadi aku harus merayunya?"


Hendra mengangguk, "Rayu dia, dapatkan hatinya, jangan datang untuk marah marah karena pria seperti Aiden tidak akan menyukai itu."


Adira akhirnya tersenyum, "Baiklah Ayah, aku akan mencoba melakukan nya."


"Kau harus berhasil mendapatkan hati Aiden," pinta Hendra.


"Tentu saja Pa, tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku." kata Adira penuh percaya diri.


Hendra tertawa, "Ini baru putri Papa. sudah sekarang sebaiknya kau masuk ke kamarmu."


Adira menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menginap, aku akan pulang ke apartemen."


"Kau tidak ingin menginap dirumah Papa?" tanya Hendra tampak kecewa.


"Aku hanya tidak ingin menganggu kesenangan Papa." balas Adira segera berdiri dan keluar dari rumah Hendra.

__ADS_1


Kini Adira sudah berada di apartemen nya, Ia sedang menatap tubuhnya yang tidak mengenakan apapun didepan cermin. "Dengan tubuh ini, aku yakin Aiden tidak akan menolakku."


"Pria seperti Aiden pasti menyukai tubuh indah seperti ini, aku akan membuatnya jatuh cinta dan bertekuk lutut padaku." kata Adira lagi penuh percaya diri, tersenyum didepan cermin.


Sementara di villa, Lara tampak menunggu kepulangan Aiden. Ia bahkan berkali kali ke depan dan melihat keluar apakah Aiden sudah pulang namun hingga pukul sepuluh malam, tidak ada tanda tanda Aiden pulang.


"Mungkin Tuan pulang larut malam atau mungkin malah tidak pulang Nona." kata Mbok Nah memberikan segelas susu pada Lara.


"Kemana dia pergi Mbok?" Lara meneguk susu buatan Mbok Nah. Hari ini Ia tidak nafsu makan hanya minum susu dan makan sedikit buah apel potong.


"Tuan memiliki club malam, tentu saja sekarang sedang berada disana."


"Tapi biasanya Ia akan pulang kesini saat malam hari."


Mbok Nah tersenyum, "Pasti ada sesuatu yang mendesak dan membuat Tuan tidak pulang."


"Sesuatu mendesak seperti apa Mbok?"


Mbok Nah kembali tersenyum, "Entahlah Nona, hanya Tuan sendiri yang tahu apa yang di lakukan karena Tuan sedikit tertutup."


Lara menghela nafas panjang,


"Apa Nona sudah mengkhawatirkan Tuan?" tanya Mbok Nah sambil tersenyum mengoda.


Lara memberikan gelas susu yang sudah habis pada Mbok Nah dan Ia segera pergi meninggalkan Mbok Nah memasuki kamarnya.


Mbok Nah tersenyum melihat tingkah lucu Lara. Sebelumnya Mbok Nah memang tidak terlalu menyukai Lara karena insiden Nathan tertembak beberapa hari yang lalu.


Namun melihat Tuan yang selalu bahagia saat bersama Lara juga Lara yang sangat perhatian dengan Aiden membuat Mbok Nah luluh dan menyukai Lara.


"Jika Nyonya masih ada, dia pasti sangat senang melihat putra kesayangan nya bahagia." gumam Mbok Nah.


Sementara di kamar, Lara tampak berusaha untuk memejamkan matanya. namun sayangnya matanya enggan terpejam membuat Lara sedikit frustasi.


"Pria menyebalkan, seharusnya dia membelikan ku ponsel dan selalu memberi kabar padaku. dasar pria menyebalkan tidak memiliki perasaan!" gerutu Lara kembali bangun dan memilih keluar dari kamarnya.


Lara menuangkan air pada gelas lalu meneguknya, Ia melihat pintu belakang masih terbuka membuatnya keluar untuk melihat siapa yang ada disana.


"Nathan..."


Lara melihat Nathan sedang duduk sambil merokok di taman belakang.


"Nona belum tidur?" tanya Nathan segera mengerus rokoknya lalu mengambilkan kursi untuk Lara.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur." Lara duduk disamping Nathan.


"Apa karena memikirkan Tuan membuat Nona tidak bisa tidur?" goda Nathan membuat pipi Lara memerah malu.


"Tentu saja Tidak!"


Nathan tertawa, "Tidak perlu menyembunyikan nya Nona, saya sudah tahu."


"Apa terlihat?"


Nathan mengangguk membuat Lara menepuk jidatnya.


"Apa sekarang Nona sudah mulai menyukai Tuan?"


"Tidak, tentu saja aku tidak menyukai pria menyebalkan itu."


Nathan tertawa, "Nona hanya masih gengsi untuk mengakuinya. lagipula tidak ada wanita yang akan menolak pesona Tuan Aiden."


Lara terkejut, "Apa banyak wanita yang menyukai dia?"


"Kenapa Nona ingin tahu? bukankah Nona tidak menyukai Tuan Aiden?"


"Ck, ternyata kau tidak kalah menyebalkan dari Aiden." gerutu Lara membuat Nathan kembali tertawa.


"Villa ini adalah tempat spesial untuk Tuan karena ini adalah Villa pemberian dari Ibu Tuan Aiden dan setelah Ibu meninggal, Tuan tinggal disini. selama tinggal disini, saya belum pernah melihat Tuan membawa pulang wanita dan Nona wanita pertama yang di ajak tinggal disini." jelas Nathan yang entah mengapa membuat wajah Lara memanas.


"Nona wanita spesial Tuan karena di ajak tinggal disini." tambah Nathan.


"Jika begitu kenapa kemarin kamu mengatakan jika Tuan memiliki banyak wanita?" tanya Lara mengingat beberapa hari sebelum kabur, Nathan memang mengatakan hal itu saat Aiden tidak pulang.


Nathan tersenyum, "Itu karena saya menyukai Nona dan saya ingin memiliki nona tapi sepertinya saya salah karena telah menyukai wanita milik Tuan nya yang sangat baik hati dengan saya, membuat saya sadar dan tidak berani menginginkan Nona lagi." batin Nathan di dalam hatinya.


"Karena saya ingin membuat Nona cemburu." celetuk Nathan membuat mata Lara melotot, menatap kesal Nathan.


"Kau mengerjaiku waktu itu? ternyata kau tidak kalah menyebalkan dari Aiden."


Nathan tertawa melihat Lara begitu kesal padanya.


Tanpa disadari dibelakang mereka ada Risa yang berdiri melihat keduanya. Risa mengenakan baju tidur seksi, tadinya Ia keluar ingin mengoda Nathan namun melihat Nathan begitu asyik bercanda dengan Lara membuat Risa sangat marah dan mengepalkan tangan nya.


"Wanita itu benar benar!"


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2