
Sepanjang perjalanan Raka tersenyum puas karena lagi lagi Ia bisa mengelabui orang yang mengikutinya.
Jika saja dulu Ia tidak bertemu dengan kakek tua itu mungkin Ia tidak bisa mengetahui jika ada jalan pintas disekitar sini yang bisa menyelamatkan Raka dan Aiden dari orang orang suruhan Hutama.
"Ada dua pria yang lewat baru saja, aku mengoda nya namun mereka malah lari ketakutan." kata wanita yang tak lain adalah cucu kakek tua yang tinggal di tengah hutan.
Kakek Tua itu tersenyum, "Tuan muda Aiden sudah sangat berbaik hati memenuhi kebutuhan kita setiap bulan nya, kenapa pula kamu masih ingin bekerja mengoda para pria?"
"Ck, aku tidak hanya butuh makan kek, aku juga butuh cinta!"
"Ya sudah terserah dengan apa yang ingin kau lakukan." kata kakek tua itu memasuki rumah.
Kakek tua duduk di kursi, kembali mengingat saat dua pria muda yang sangat tampan sedang mencari jalan pintas, Raka dan Aiden.
Kakek pikir, Raka dan Aiden adalah mafia jahat yang akan mengunakan jalan untuk menyelundupkan barang barang haram namun kakek itu salah saat mengetahui kedua pria bermobil itu selalu di ikuti oleh pria suruhan seseorang.
Kakek itu akhirnya menunjukan jalan pintas yang bisa di lewati Raka dan Aiden saat kembali ke villa.
Dan yang membuat kakek itu tidak menyangka, Aiden memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengirimkan bahan makanan untuk bisa dipakai satu bulan.
Semejak itu, Kakek selalu membantu Aiden seperti yang Ia lakukan pada kedua pria pemotor yang kakek yakini memang mengikuti mobil Aiden.
"Kau sudah kembali?" tanya Aiden melihat Raka keluar dari mobil.
"Sudah Tuan dan semuanya aman."
Aiden tersenyum, "Jadi ada yang mengikuti mu lagi?"
Raka mengangguk, "Saya juga bertemu dengan Nona Adira di Kua."
Aiden mengerutkan keningnya, "Kua, apa yang dia lakukan disana?"
"Maafkan saya Tuan, saya tidak menanyakan apa yang Nona Adira lakukan karena Nona malah salah paham dengan apa yang lakukan."
"Salah paham bagaimana?"
Raka sempat menahan tawa sebelum menjawab Aiden, "Nona pikir saya ke kua untuk mendaftarkan pernikahan Tuan dengan Nona, saya ingin menjelaskan namun Nona mempercayai ucapan nya sendiri."
Aiden pun ikut tertawa, "Biarkan saja apapun yang ingin Ia lakukan dan katakan hanya akan membuatnya semakin sakit nanti."
"Tuan, kenapa Tuan begitu membenci Nona Adira?"
Aiden tersenyum, "Kau akan tahu nanti."
Aiden kembali ke dalam selesai berbincang dengan Raka. Ia memasuki kamar dan melihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi masih mengenakan jubah mandinya.
Aiden tersenyum, berjalan mendekati Lara lalu memeluknya, memghirup bau wangi dari tubuh istrinya.
"Apa masih kurang?" cibir Lara saat Aiden meminta dirinya berkali kali setelah ijab kabul.
"Aku tidak akan ada puasnya jika melakukan nya bersama mu." balas Aiden.
__ADS_1
"Dasar mesum!"
Aiden tertawa, Ia membawa tubuh Lara diranjang. mereka berbaring berdua disana.
"Jika aku mesum dengan wanita lain apa boleh?"
"Tentu saja tidak boleh!"
Aiden tersenyum, "Jika aku hanya boleh mesum dengan mu jadi kau tidak boleh menolak jika aku menginginkan mu." kata Aiden.
Lara terdiam, "Apa kau pernah melakukan dengan wanita lain?"
Kini giliran Aiden yang terdiam.
"Kamu ingin jawaban yang jujur atau bohong?" tanya Aiden dengan nada bercanda membuat Lara menatapnya sebal.
"Tentu saja aku ingin jawaban jujur."
"Jika aku jujur aku takut akan mengecewakan mu."
"Aku sudah tahu jawaban nya, kau pasti sering melakukan ini kan? tentu saja lagipula kau pemilik club malam pasti kau mencicipi semua wanita sebelum mereka menjual diri." kata Lara dengan nada sebal.
Bukan nya marah, Aiden malah tertawa, "Kenapa kau malah tertawa?"
"Karena pikiran mu sangat kotor!"
"Pikiran ku tidak kotor, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" ucap Lara mengebu.
"Meskipun aku pemilik club malam juga banyak wanita yang bekerja di tempatku, aku tidak pernah tergoda dengan mereka." tambah Aiden namun Lara masih tak percaya.
"Kau pasti membual!"
"Jika tidak percaya, tanya saja pada Raka. dia mengetahui segalanya tentang aku!"
"Ck, dia tidak mungkin jujur dengan ku karena kau adalah bosnya."
"Jadi kau masih tidak mempercayai ku?" tanya Aiden masih tersenyum.
Lara menatap mata Aiden, mencari kebohongan disana namun Lara melihat mata Aiden jujur, Ia tidak berbohong.
"Aku tidak tahu, karena biasanya para pria memang pandai berbohong."
"Apa berarti kamu pernah memiliki pria sebelum bersama ku?"
"Ti tidak, bukan begitu. aku hanya mendengar cerita dari teman teman ku. lagipula mana ada pria yang mau berkencan dengan ku. aku hanya wanita miskin."
"Dan aku menikahimu sekarang." kata Aiden yang akhirnya membuat Lara tersipu malu.
"Dasar pria perayu!"
Aiden tertawa, membawa Lara lebih dekat dengan nya.
__ADS_1
"Kau menginginkan nya lagi? kita baru saja melakukan nya satu jam yang lalu!" protes Lara.
"Jadi kau ingin menolak ku?"
"Tidak, bukan seperti itu. aku hanya-"
Aiden mencium bibir Lara membuat Lara tidak bisa melanjutkan ucapan nya.
"Bibirmu manis sekali membuat ku candu ingin mencium mu setiap saat." ucap Aiden setelah melepaskan bibir Lara.
"Aku tidak akan melakukan nya lagi untuk malam ini, kau bisa tidur." kata Aiden sambil mengelus pipi lembut Lara.
Lara tersenyum, bukan Ia tidak ingin melakukan kewajibannya namun dibawah sana miliknya masih terasa nyeri meskipun Aiden sudah melakukan beberapa kali untuk hari ini namun milik Lara masih juga rapat dan sakit.
Lara akhirnya terlelap di pelukan Aiden yang juga ikut terlelap bersamanya.
Entah berapa jam Lara terlelap, Ia merasa ada tangan dingin yang menyentuh pipinya.
"Bangun tukang tidur," suara khas dengan bau mint yang sangat segar yang Lara yakini jika itu suara Aiden.
Lara membuka matanya dan melihat Aiden sudah rapi dengan setelan nya.
"Kau ingin berangkat ke kota hari ini?" tanya Lara dengan bibir cemberut.
"Tentu saja, ada yang harus ku urus dan aku tidak bisa libur terlalu lama."
Lara akhirnya mengerti dan bangun, "Baiklah, ku antar sampai depan."
Aiden mengangguk, keduanya keluar bersamaan melihat di luar masih gelap karena memang ini masih subuh.
"Kau menggunakan mobil lain?" tanya Lara melihat mobil yang terparkir didepan bukan mobil yang biasa Aiden gunakan.
"Ya, mobil yang biasa harus di service hari ini." balas Aiden mengecup kening Lara.
"Jaga diri baik baik, jika terjadi sesuatu minta Mbok Nah untuk menghubungi ku." kata Aiden yang langsung di angguki Lara.
Aiden segera memasuki mobil dan mobil melaju meninggalkan pekarangan Villa.
Lara ingin kembali memasuki Villa namun melihat pintu garasi masih terbuka. Lara memasuki garasi dan melihat pintu mobil Aiden yang terbuka.
Awalnya Lara berniat menutup pintu mobil namun tak sengaja Lara melihat sebuah undangan yang tergeletak di kursi kemudi.
Karena penasaran Lara mengambil undangan yang terlihat sangat cantik itu.
"Untuk Raka, oh jadi ini milik Raka." gumam Lara.
Karena penasaran, Lara membuka undangan itu dan....
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komeenn
__ADS_1