SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
33


__ADS_3

Lara memasuki Villa disambut oleh Mbok Nah yang ternyata sudah menunggunya.


"Pulang pulang kok cemberut Non?"


Lara menggelengkan kepalanya pelan, "Lemes Mbok."


"Mau di bikinin teh hangat apa susu hangat?"


"Mau nya jus jeruk aja mbok." pinta Lara.


"Siap Non."


Lara memasuki kemarnya, Ia berbaring di ranjang. Lara merenung, memikirkan tentang dokter Clara yang ternyata mantan kekasih Aiden.


"Dia cantik, pintar, berpendidikan bahkan mempunyai pekerjaan yang bagus. bukankah seharusnya mereka menjadi pasangan serasi?" gumam Lara.


"Sementara aku, hanya gadis kampung tidak berpendidikan. apa mungkin Aiden benar bena menyukai ku?"


Pintu kamar terbuka, Mbok masuk membawa segelas jus jeruk yang terlihat sangat menyegarkan membuat Lara segera meneguk jus itu hingga habis.


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan Nona? apa semua baik baik saja?" tanya Mbok Nah.


"Semua baik Mbok, tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Mbok Nah tersenyum, "Syukurlah Non, saya ikut senang mendengarnya."


"Mbok, apa sudah lama bekerja dengan Aiden?" tanya Lara yang ingin tahu tentang Aiden.


"Saya bekerja sejak Tuan tinggal di villa ini. kebetulan kampung saya tidak jauh dari Villa ini." jelas Mbok Nah.


"Apa Mbok Nah tahu siapa saja mantan kekasih Aiden?" tanya Lara yang langsung membuat Mbok Nah tersenyum.


"Selama saya berada disini, saya tidak pernah melihat Tuan membawa pulang wanita atau menghubungi wanita malah saya pikir dulu Tuan Homoseksual karena kemana mana selalu sama Den Raka." jelas Mbok Nah terkikik geli.


Lara tampak menghela nafas panjang, Ia seperti kurang puas dengan jawaban Mbok Nah.


"Ada apa Non? apa ada yang menganggu pikiran Nona?"


Lara mengangguk, "Dokter kandungan yang memeriksa ku tadi mengaku jika dia mantan kekasih Aiden semasa sekolah." jujur Lara.


"Jadi Nona cemburu?" goda Mbok Nah.


"Ti tidak, aku tidak cemburu," bantah Lara tidak mengakui jika Ia cemburu.

__ADS_1


"Cemburu pun tidak apa apa Nona, mau bagaimanapun Nona saat ini sedang mengandung anak Tuan muda, tentu saja Nona adalah wanita spesial milik Tuan."


"Tapi apa Aiden juga menyukai ku Mbok, Rasanya aku ragu sekarang."


Mbok Nah tersenyum, "Jika dilihat dari cara Tuan menatap Nona, saya pikir Tuan benar benar mencintai Nona."


"Aku takut, Aiden membuangku." keluh Lara tampak sedih.


Mbok Nah mengenggam tangan Lara, "Nona sedang hamil muda, sebaiknya jangan pikirkan apapun yang belum tentu terjadi yang nanti akan menyebabkan kandungan Nona bermasalah."


Lara mengangguk, "Aku tahu Mbok, aku menahan diri agar tidak terlalu memikirkan ini semua tapi rasanya sulit di kendalikan."


Mbok Nah kembali tersenyum, entah mengapa jika melihat wajah Lara mengingatkan dirinya pada seseorang. Padahal awalnya Mbok Nah tidak terlalu menyukai Lara karena sikap Lara yang pembangkang namun sekarang Mbok Nah malah menganggap Lara itu seperti putrinya sendiri.


"Sudah, sebaiknya Nona istirahat, Mbok mau nyiapin makan siang dulu." kata Mbok Nah menyelimuti Lara.


"Jangan ceritakan pada Aiden tentang apa yang baru saja ku ceritakan ya Mbok, aku sedang tidak ingin mendengar omelan nya." pinta Lara yang langsung di angguki Mbok Nah.


Mbok Nah segera keluar dari kamar Lara, didepan kamar Lara sudah ada Risa yang menunggunya,


"Ada berita baru apa Mbok?" tanya Risa yang tak lain adalah keponakan Mbok Nah.


"Nggak usah kepo kalau masih pengen kerja disini." ucap Mbok Nah menatap kesal Risa yang selalu ingin tahu tentang Nona mereka.


"Lagian ngapain pengen tahu urusan Nona? kalau sampai Tuan tahu kebiasaan kamu ini bisa bisa langsung di pecat." kata Mbok Nah mengingatkan.


"Kalau aku sampai di pecat, aku tinggal bilang sama Tuan kalau aku punya rahasia tentang Nona."


"Rahasia apalagi?"


"Rahasia kalau Nona suka sama Nathan."


Mbok Nah memukul lengan Risa, "Jangan ngawur kamu. nggak mungkin Nona suka sama Nathan, yang bener Nathan suka sama Nona."


Risa melotot tak terima, "Enggak mungkin Nathan suka sama Nona karena Risa sering lihat Nona pergi ke taman buat godain Nathan."


Mbok Nah menggelengkan kepalanya tak percaya, "Sudah terserah kamu saja, yang jelas hati hati jangan membuat Tuan marah padamu." kata Mbok Nah lalu pergi meninggalkan Risa yang terlihat kesal.


Sementara di dalam kamar, Lara tampak bosan hanya berbaring seharian. Ingin rasanya Lara keluar duduk di taman namun Ia tak ingin bertemu dengan Nathan yang membuat Risa salah paham lagi dengan nya.


Lara akhirnya memutuskan duduk di dekat kolam ikan yang ada disamping kamar Aiden. Lara memandangi ikan koi milik Aiden yang berebutan menangkap makanan saat dirinya menyebarkan makanan ikan ke kolam.


"Enak sekali hidup kalian, bisa berenang kesana kemari dan menunggu diberi makan tanpa harus bekerja keras."

__ADS_1


"Tentu saja tidak enak Nona karena mereka terkurung di sini, seandainya mereka bisa memilih mungkin akan memilih keluar dari sini dan hidup bebas di laut bertemu dengan sanak keluarga mereka." sahut Nathan yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.


"Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Lara terlihat tak nyaman.


"Selain mengurus taman, saya juga mengurus ikan ikan yang ada disini." balas Nathan.


Lara berdiri hendak pergi, takut Risa melihat dan salah paham lagi padanya,


"Apa Nona sakit? sekarang Nona tidak pernah pergi ke taman."


Lara menggelengkan kepalanya, "Aku baik baik saja, hanya sedang malas keluar," balas Lara lalu pergi meninggalkan Nathan.


Lara terkejut melihat Risa berada dibalik pintu seperti sedang mengintip dirinya dan Nathan. Risa tersenyum sinis ke arahnya lalu pergi membuat Lara hanya bisa menghela nafas panjang.


"Dia pasti salah paham lagi. huh sungguh menyebalkan!"


Sementara itu ditempat lain, seorang pria memasuki ruangan dimana ada Hutama yang sedang memainkan dadu di tangan nya.


"Apa yang kau dapat? ku harap kau tidak mengecewakan ku." kata Hutama pada Pria yang kini menunduk takut ke arahnya.


"Maafkan saya Tuan, saya gagal lagi mengikuti Tuan Aiden."


Hutama tersenyum, "Jadi kau tidak menemukan alamat Villa itu?"


Pria itu mengangguk, "Asisten Tuan Aiden sangat pintar mengelabui hingga membuat saya tidak bisa mengikuti mobil mereka." jelas Pria itu.


Hutama tersenyum sebelum akhirnya Ia melemparkan dadu yang Ia mainkan hingga mengenai kening pria itu.


"Bukan dia yang pintar tapi kamu yang bodoh!" umpat Hutama pada pria itu membuat Pria itu berlutut ketakutan.


"Saya janji akan mengusahakan lagi agar bisa menemukan Villa itu Tuan."


Hutama tidak mengubris permohonan pria itu, Ia malah memberikan kode pada anak buah yang ada dibelakangnya dan...


Dorr, satu tembakan melesat mengenai kepala pria itu hingga akhirnya pria itu tergeletak tewas.


"Tak berguna, menghabiskan uangku saja. buang dia." perintah Hutama pada anak buahnya.


Hutama menatap foto Aiden yang terpajang di ruangan nya, "Sepertinya aku harus lebih kejam padamu Nak."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2