
Rena saat ini sedang berada di kamar Lara. Ia mengenggam erat tangan Lara dan tak henti hentinya memandangi wajah cantik Lara.
"Jangan menatapku seperti itu Bu, aku malu." ucap Lara membuat Rena tertawa.
"Kau sangat cantik Nak, aku tak menyangka kau secantik ini." puji Rena.
"Ibu juga sangat cantik, tentu saja aku juga cantik." balas Lara tak mau kalah.
"Kau sangat mirip dengan Ayahmu."
"Ck, jangan menyamakan aku dengan pria itu, aku tidak mau!"
Rena tersenyum, "Apa kau membenci Ayahmu nak?"
"Aku membenci pria itu juga Ayah Roy, kedua orang itu sama sama jahat." ungkap Lara.
Roy, selama ini Rena sama sekali tidak memikirkan keadaan pria itu. Yang Rena pikirkan hanyalah Lara putrinya saja.
"Lihat apa yang pria itu lakukan pada Ibu hingga tangan Ibu seperti ini!" kata Lara saat melihat pergelangan tangan Rena masih ada bekas ikatan.
"Ayahmu tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Ibu."
"Ibu jangan membela pria itu!"
"Ibu mengatakan yang sebenarnya sayang. ah iya, apa yang sudah dilakukan Ayah Roy hingga membuatmu membencinya?" tanya Rena tampak penasaran.
"Tidak ada." Lara menyembunyikan apa yang sudah Roy lakukan padanya karena tak ingin membuat Rena sedih.
"Kau tidak mau jujur dengan Ibu sayang?"
"Ibu juga tidak jujur denganku, Ibu tidak mengatakan apa yang sudah Pria itu lakukan pada Ibu."
Rena tertawa, "Karena Ayahmu memang tidak melakukan apapun jadi Ibu harus jujur bagaimana?"
"Tidak mungkin! bukankah pria itu sudah menabrak Ibu?"
Rena menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, Ayahmu tidak sekejam itu."
"Sudahlah, lelah aku berbicara dengan Ibu yang terus saja membela pria itu."
Rena kembali tertawa, "Kau semakin mirip dengan Ayahmu, keras kepala dan tidak mudah percaya."
Lara mendengus sebal, "Ku bilang jangan samakan aku dengan pria itu!" kata Lara membuat Rena tertawa.
Pintu kamar terbuka, tampak Aiden memasuki kamar berjalan mendekat ke arah Rena dan Lara.
Aiden kini duduk dilantai, bersimpuh didepan Rena.
"Apa ini maksudnya? kau menikahi adikmu?" tanya Rena.
__ADS_1
"Apa tidak boleh Ibu?"
"Aku ingin kau menjaganya tapi malah menikahinya." protes Rena.
Aiden tersenyum, "Maafkan putramu yang tidak bisa menahan diri ini Ibu, adik ku sangat cantik membuatku jatuh cinta dan menginginkan nya." kata Aiden.
Wajah Lara sudah pucat, takut jika tidak mendapatkan restu dari ibunya.
Rena ikut tersenyum, "Putriku memang cantik, kau bisa memilikinya. jaga putriku baik baik. awas saja jika sampai kau menyakitinya!"
Aiden tersenyum, "Tentu saja tidak Ibu, aku mencintainya tidak mungkin jika aku menyakitinya."
Wajah Lara terlihat sangat lega, Ia tak menyangka jika semudah ini mendapatkan restu yang Ibu, tadinya Lara pikir akan sulit mendapatkan restu meski mereka sudah menikah mengingat Ibunya menganggap Aiden putranya.
"Aku lega putriku berada di tangan pria yang tepat." kata Rena sambil tersenyum mengenggan tangan Aiden.
"Terima kasih Ibu, sudah memberikan restu untuk kami." kata Aiden dan juga Lara.
...
Risa memasuki kamar Mbok Nah. saat ini Mbok Nah sedang tidak enak badan membuatnya hanya berbaring di ranjang seharian ini.
"Mbok, ternyata Ibu Nona Lara itu masih hidup." cerita Risa pada Mbok Nah.
"Apa yang kau katakan itu, tidak mungkin!"
Mbok Nah terdiam, Ia merasa sangat mustahil jika sahabatnya itu masih hidup mengingat Ia dulu ikut serta dalam pemakaman Sahabatnya meskipun Ia tidak melihat wajah Rena untuk yang terakhir kali karena mayat Rena sudah berada di peti dan tidak diperbolehkan untuk dibuka.
"Aku sedang tidak enak badan, sebaiknya kau keluar saja, jangan mengangguku!"
"Ck, ya sudah." Risa akhirnya keluar dari kamar Mbok Nah.
Dikamarnya Mbok Nah termenung memikirkan ucapan Risa baru saja. Ia ingin tidak percaya namun akhirnya penasaran juga. Mbok Nah bangun dan hendak keluar untuk memastikan jika ucapan Risa benar namun terlambat karena pintu kamarnya terbuka lebih dulu dan menatap ke arah wanita yang baru saja membuka pintunya.
"Re rena..." ucap Mbok Nah dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini.
"Ya Nana, ini aku Rena."
"Ka kau masih hidup?"
Rena tersenyum dan mengangguk, Ia menghampiri Mbok Nah dan langsung memeluknya.
"Apa yang terjadi? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mbok Nah masih tidak percaya dengan keberadaan Rena.
"Tama tidak membunuhku, selama ini Ia hanya menyembunyikanku." ungkap Rena.
"Astaga Rena." Mbok Nah yang paham akhirnya ikut memeluk erat Rena.
"Aku bersyukur kamu masih hidup." kata Mbok Nah.
__ADS_1
"Aku juga bersyukur masih bisa bertemu denganmu."
Tak terasa Mbok Nah sampai meneteskan air matanya karena terlalu senang dengan kehadiran Rena.
"Putrimu sudah besar, dia menikah dengan bocah laki laki yang berasal dari panti itu."
"Aku sudah tahu, aku juga sudah bertemu dengan mereka."
"Syukurlah, aku tidak menyangka Tama tidak membunuhmu."
"Dia pria yang baik, hanya kesalahpahaman yang membuatnya seperti itu."
Nana terdiam sebelum akhirnya Ia kembali mengatakan, "Jadi setelah ini apa kalian akan menikah?"
Rena menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, Lara saja masih membenci Tama padahal Tama adalah Ayah kandungnya."
"Ck, tentu saja semua orang akan membenci Tama, apa yang dia lakukan sangat keterlaluan!"
Rena tertawa, "Apa kau juga membencinya?"
"Ya kemarin namun melihatmu masih hidup mungkin aku akan bersikap biasa padanya mulai sekarang."
Rena mengenggam tangan Nana, "Terimakasih sudah menjaga anak anakku."
"Bukan aku yang menjaga Lara namun Aiden. selama ini aku bahkan tidak tahu keberadaan Lara sebelum Aiden yang membawanya kesini. setelah kau meninggal waktu itu, Roy membawa putrimu pindah tanpa pamit kepadaku."
"Aku tahu, setidaknya sekarang melihat semua orang bahagia sudah cukup." Kata Rena membuat Nana mengangguk setuju.
Sementara itu, Hutama masih berada ditaman. mengingat semua orang membencinya, Ia memilih menyendiri saja di taman sampai seseorang menghampirinya.
"Apa Ayah mertua juga akan menikahi ibu Rena?" sindir Aiden yang datang menghampiri Hutama.
"Tentu saja, memang kau saja yang ingin bahagia. aku juga."
"Apa kau yakin Lara akan menerima mu? juga Ibu Rena mungkin sudah tidak lagi percaya padamu." Ejek Aiden sambil tertawa sinis.
"Kita lihat saja, aku pasti akan mendapatkan Rena kembali." balas Hutama penuh percaya diri.
"Kau terlalu sombong pak Tua."
"Jika aku sudah mendapatkan Rena dan Lara, kau akan mendapatkan balasan dariku."
Aiden tertawa, "Aku akan menunggu itu!"
Sementara dari jauh tampak seseorang mengintip ke arah Aiden yang berbincang dengan Hutama, Ia mengepalkan tangannya, Ia tidak suka melihat kedekatan Aiden dan Hutama seperti saat ini.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yahh...
__ADS_1