
Aiden sedang berada di ruangan nya bersama Raka membahas masalah pekerjaan dan pintu terbuka, terlihat Adira berdiri didepan pintu dengan wajah cemberut.
"Kenapa tidak mengangkat panggilan teleponku?"
Adira masuk dan langsung duduk dipangkuan Aiden membuat Aiden tak nyaman dan akhirnya berdiri.
"Aku sibuk, jika kau kesini hanya untuk membuat ku kesal sebaiknya kau pergi saja!" kata Aiden menatap Adira malas.
"Tidak, aku ingin menemanimu seharian!"
"Apa kau tidak mempunyai pekerjaan lain hah?" sentak Aiden semakin kesal.
"Berhenti membentak ku! kau tidak bisa melakukan itu padaku!"
"Aku bisa melakukan apapun yang ku mau!"
Raka yang berada disana pun merasa tak nyaman melihat pertengkaran semakin sengit di antara keduanya.
Ia hendak berdiri dan pergi namun Aiden melototinya hingga membuatnya kembali duduk.
"Sabar Adira, sabar." batin Adira masih menatap Aiden tajam.
"Heh, kau gila. kami sedang bertengkar dan kau tidak keluar?" tanya Adira pada Raka yang menatapi keduanya bergantian.
"Dia masih ku butuhkan. kami sedang bekerja jika kau tidak suka sebaiknya kau saja yang keluar." balas Aiden membela Raka.
"Baiklah, bekerja lah sayang. aku akan duduk diam disana." Adira menunjuk ke arah sofa dan duduk disana membuat Aiden keheranan, Adira yang memulai pertengkaran namun Adira juga yang mengakhiri pertengkaran.
Aiden dan Raka kembali membahas masalah pekerjaan. Adira tampak memainkan ponselnya namun dengan wajah masih cemberut.
Beberapa jam Adira duduk disana hingga bosan sementara Aiden dan Raka masih saja membahas masalah pekerjaan.
"Sudah waktunya untuk makan siang, apa kalian masih ingin bekerja?" tanya Adira yang sudah berdiri, bersiap mengajak Aiden makan siang.
"Kebetulan kau ada disini, tolong belikan aku dan Raka makan siang dan kita akan makan siang disini." kata Aiden yang tentu saja membuat Adira sangat geram.
"Kau pikir aku pembantu mu! jangan menyuruhku seenaknya!"
"Ya sudah jika tidak mau, aku hanya meminta tolong. bukan kah wajar calon suami meminta tolong pada calon istrinya, jika memang sulit ya sudah aku meminta tolong pada orang lain saja." balas Aiden santai.
Adira terdiam sejenak, Ia sedikit senang kala Aiden menyebutnya calon istri namun Ia juga sangat kesal karena Aiden berani menyuruhnya padahal selama ini tidak ada yang berani menyuruhnya melakukan sesuatu, termasuk Ayahnya.
__ADS_1
"Aku ingin makan siang diluar bersama mu." kata Adira.
"Aku masih sibuk, jika lapar makanlah duluan jangan menunggu ku."
Dengan wajah cemberut, Adira kembali ke sofa dan duduk disana lagi.
Tak terasa satu jam sudah berlalu, Raka dan Aiden masih di posisi yang sama, tidak ada tanda tanda akan beranjak dari duduk mereka.
"Apa kalian ini Vampir yang tidak merasakan lapar?" tanya Adira kembali berdiri mendekati Aiden.
Aiden menghela nafas panjang, "Bukan kah sudah ku katakan padamu jika lapar makan lah lebih dulu tidak perlu menunggu ku!"
"Tidak, aku ingin makan siang bersama mu, ini sudah lewat jam makan siang dan kalian masih duduk di sini, apa kalian sengaja?" tuduh Adira.
"Kalian juga hanya berdiam diri tidak membahas apapun!" tambah Adira yang sedari tadi melihat Aiden dan Raka sibuk dengan laptop mereka masing masing.
"Kau ada disini, jika kami membahas sesuatu yang penting kau pasti mendengarnya!" balas Aiden masih terlihat santai.
"Ayo makan siang sekarang atau aku akan menelepon Ayahmu!" ancam Adira akhirnya.
"Telepon saja, bukankah bagus jika kita bisa makan siang bertiga dengan Ayah?"
Telepon Adira berbunyi, Menghentikan amarahnya sejenak untuk menerima panggilan.
"Sudah jadi ya? baiklah aku kesana."
Adira memasukan ponselnya ke dalam tasnya, "Undangan pernikahan kita sudah jadi di buat, ayo kita ambil bersama."
"Aku sibuk, aku tidak bisa kemana mana." balas Aiden membuat Adira benar benar emosi.
Adira akhirnya duduk meja Aiden tepat didepan Aiden,
"Apa yang kau lakukan?"
"Duduk disini sambil menatapmu yang sedang bekerja sangat menyenangkan." kata Adira membalas santai.
"Sebaiknya kau pergi, jangan menganggu." kata Aiden merasa tak nyaman.
"Aku hanya duduk dan menatapmu, tidak menganggu."
Aiden membiarkan Adira menatapnya namun lama kelamaan Ia mulai tidak nyaman dan kesal.
__ADS_1
"Baiklah kita makan siang sekarang." kata Aiden akhirnya menyerah dan membuat Adira tersenyum lebar.
Aiden dan Adira segera keluar membuat Raka menghela nafas lega, "Aku juga sudah kelaparan sejak tadi," keluh Raka yang tahu jika Aiden memang sengaja mengerjai Adira.
Raka keluar dari ruangan Aiden, setelah makan siang didekat club, Ia memilih berbaring di kamar Friska, kamar wanita yang Ia cintai yang kini sudah tiada.
Jika memiliki waktu senggang, Raka memang sering menghabiskan waktunya di kamar ini untuk mengingat wanita yang saat ini masih bertahta di hatinya.
Tanpa disadari Raka meneteskan air matanya, "Seharusnya aku berada disini malam itu." gumam Raka masih menyalahkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Aiden dan Adira kini sudah berada di sebuah restoran untuk makan siang. Adira benar benar tersenyum puas bisa mengajak Aiden makan siang.
"Sudah lewat jam makan siang, seharusnya aku tidak makan karena bisa membuatku gemuk." keluh Adira setelah memesan.
"Bukankah bagus jika kau gemuk? terlihat seksi."
"Ck, tidak. aku tidak mau gemuk. jika aku gemuk bisa bisa kamu berpaling pada wanita lain." kata Adira.
"Tentu saja itu tidak akan terjadi Adira, aku takut Ayahmu akan memenggal kepalaku jika sampai aku mempermainkan mu."
Adira tersenyum mendengar ucapan Aiden. Ia sangat bangga memiliki Ayah seorang menteri. dengan jabatan Ayahnya itu, Adira bisa melakukan apapun yang dia mau. bahkan mendapatkan segala sesuatu dengan mudah, termasuk mendapatkan Aiden yang di gilai banyak wanita diluar sana.
"Ya berkat Ayahku, semua orang tidak ada yang berani berbuat macam macam padaku, aku bisa mendapatkan apapun yang ku mau." kata Adira penuh bangga.
"Tapi bukan kah sebentar lagi jabatan Ayahmu akan lengser?" tanya Aiden.
Adira tersenyum sinis, "Ayah ku akan mendapatkan jabatan itu lagi meskipun sudah sepuluh tahun menjadi menteri."
"Hebat sekali." puji Aiden.
"Tentu saja, ayahku memang membanggakan. kau harus merasa beruntung memiliki mertua menteri, karena tidak semua pria bisa berada di posisimu." kata Adira terdengar meremehkan.
"Ya aku sangat beruntung sekali, memiliki calon istri yang sangat pintar, cantik dan juga putri seorang menteri, aku tidak akan mungkin menyia nyiakan kesempatan ini." kata Aiden yang membuat Adira semakin terbang, tersenyum lebar penuh kesombongan.
Beberapa pelayan tampak menyiapkan makanan pesanan Adira, namun tak sengaja seorang pelayan baru menumpahkan jus dan terkena baju Adira.
Segera Adira berdiri dan menampar pelayan baru itu, "Gadis bodoh, apa yang kau lakukan pada baju mahal ku!"
Adira tampak marah membuat pelayan itu ketakutan.
Bersambung
__ADS_1