SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
72


__ADS_3

Weni masih saja menangis menatapi nisan yang kini bertuliskan nama kakeknya. Ya kakek yang selama ini merawat dan menjaganya sudah tiada, sudah meninggalkan nya untuk selamanya.


Weni sangat ingat saat beberapa pria memasuki rumahnya siang tadi sebelum Raka datang, mereka menanyakan jalan menuju Villa, Kakek Anto tentu saja tidak memberitahunya karena memang itu jalan rahasia ke tempat Aiden dan membuat para pria itu marah langsung menghajar kakeknya yang sudah renta.


Weni panik dan tidak bisa melakukan apapun, dia akhirnya memberitahu jalan menuju villa Aiden agar mereka berhenti memukuli kakeknya namum sayang, mereka berhenti memukuli kakeknya setelah sang Kakek sudah tiada.


Aiden menepuk bahu Weni yang masih berduka setelah kehilangan kakeknya,


"Kita bicara diluar." kata Aiden yang langsung di angguki Weni.


Weni berdiri, meninggalkan makam kakeknya yang berada dibelakang rumah mereka. setelah Raka datang, ada beberapa orang yang membantu pemakaman yang kakek, meskipun pemakaman nya harus berada dibelakang rumah mereka sendiri karena rumah mereka jauh dari kampung penduduk.


"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Raka pada Weni setelah sempat mendengar cerita Weni tentang penyebab kakeknya meninggal.


"Saya juga tidak tahu, saya tidak memiliki siapapun selain kakek saya." kata Weni.


"Jika kau mau, kau bisa bekerja ditempat Tuan Aiden."


Weni menatap Raka penuh harap, "Apa bisa? saya bahkan tidak bersekolah."


"Tidak perlu sekolah tinggi jika hanya menjadi asisten rumah tangga." Kata Raka yang membuat Weni mengangguk setuju.


"Namun ada syaratnya..."


"Apa Tuan?"


Raka tersenyum,


Sore ini Weni diajak ke Villa Aiden dalam keadaan masih berduka. ditengah jalan tadi Raka sempat melihat mobil anak buah Hendra yang sudah memantau Villa Aiden, entah apa yang harus Raka lakukan Ia juga tak tahu karena Ia sudah terjatuh dijurang hitam Hendra, rasanya tak mampu lagi untuk keluar dari sana.


"Ada apa? kenapa dia menangis? bukankah dia cucu kakek yang tinggal dihutan?" tanya Aiden saat Raka membawa masuk Weni.


"Kakeknya baru meninggal siang tadi Tuan, saya ajak dia kesini karena dia tidak memiliki siapapun." jelas Raka sementara Weni menunduk, antara takut dan malu, belum terbiasa berada disekitar orang banyak.


"Apa yang terjadi pada kakekmu?" tanya Aiden terlihat terkejut dan khawatir.


"Ka kakek sa saya, serangan jantung Tuan." balas Weni berbata dan membuat Raka lega karena Weni menuruti ucapannya.

__ADS_1


"Apa syaratnya Tuan?" tanya Weni pada Raka. tadinya Weni pikir syaratnya Weni harus tidur dulu dengan Raka namun ternyata bukan itu yang di inginkan Raka.


"Jangan katakan pada Tuan Aiden jika kakekmu di bunuh, kasus ini biar aku yang selesaikan sendiri." pinta Raka.


Weni sempat terdiam, Ia baru ingin mengadukan pada Tuan Aiden namun Raka malah melarangnya, padahal Weni pikir hanya Tuan Aiden yang mampu menyelesaikan masalah ini.


"Bagaimana? kau mau tidak?"


Weni akhirnya mengangguk, "Lalu saya harus mengatakan apa Tuan?"


"Katakan saja kakekmu terkena serangan jantung." kata Raka.


"Baik Tuan."


Dan disinilah Weni berada, tepat didepan Aiden, seseorang yang bisa membantu Weni jika Weni mengatakan semuanya namun karena larangan Raka, Weni terpaksa membohongi Aiden.


"Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada kakekmu, dan kau tenang saja, kau bisa tinggal disini bekerja denganku." kata Aiden menepuk bahu Weni.


"Ada apa ini?" Hutama yang baru saja turun ikut mendekat ke arah mereka.


Weni tampak terkejut melihat Hutama, pria yang memberikan kalung waktu itu saat Ia menunjukan jalan pada pria itu.


Hutama mengerutkan keningnya melihat gadis muda yang ada didepannya itu, "Siapa kau?"


"Tuan tidak ingat saya?" Weni tampak kecewa karena Ia sangat mengingat Hutama.


Hutama terdiam sejenak, "Oh aku ingat, kau gadis manis yang menunjukan jalan padaku kan?" tebak Hutama yang langsung diangguki girang oleh Weni.


"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Aiden pada Weni dan Hutama.


"Benar Tuan, Saya menunjukan jalan rahasia itu pada Tuan ini karena kasihan ingin bertemu saudaranya waktu itu, saya tidak menyangka jika saudaranya adalah Tuan Aiden." ungkap Weni membuat Aiden memutar bola matanya malas sementara Raka menatap Weni kesal karena Weni begitu mudahnya memberi jalan rahasia itu kepada orang lain.


"Apa ini kebiasaanmu huh?" tanya Raka dengan nada kesal.


"Ti tidak Tuan, saya kasihan waktu itu melihat Tuan itu jadi saya memberitahunya." balas Weni lalu menundukan kepalanya.


Hutama tertawa, "Sudah sudah jangan dibahas lagi, lalu apa yang terjadi hingga membuatmu kesini?" tanya Hutama penasaran.

__ADS_1


Aiden menjelaskan tentang kakek Anto pada Hutama membuat Hutama ikut berduka.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya kakekmu, kau tidak perlu khawatir, kau bisa ikut denganku, bekerja denganku." kata Hutama membuat Weni tersenyum senang.


"Tidak bisa, aku yang pertama menawarinya pekerjaan." protes Aiden.


"Baiklah, biarkan gadis ini memilih dia ingin bekerja dengan siapa." kata Hutama.


Weni terdiam, memandangi Aiden dan Hutama bergantian sebelum akhirnya Ia memilih, "Aku ingin bekerja dengan Tuan ini saja." kata Weni menunjuk ke arah Hutama.


Hutama tersenyum kemenangan,


"Dasar kakek tua serakah, bukankah maidmu sudah banyak!" kata Aiden pada Hutama.


"Tentu saja namun aku membutuhkan lagi agar dia bisa melayani istriku."


Deg, Weni terkejut kala Hutama mengatakan Istriku,


"Jadi pria ini sudah memiliki istri?" batin Weni yang entah mengapa membuatnya sangat kecewa.


"Baiklah kau bekerja dengan Ayah mertua ku sekarang, katakan padaku jika dia berbuat jahat padamu." kata Aiden menepuk bahu Weni sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan Weni, Raka yang memandangi Aiden dengan pandangan kecewa, entah apa yang Ia rasakan.


"Bersiaplah, kita akan berangkat sebentar lagi." kata Hutama ikut menepuk bahu Weni dan kembali ke atas.


Raka hanya memandangi Weni sejenak sebelum Ia ikut pergi meninggalkan Weni.


Weni menghela nafas panjang, "Tentu saja dia sudah beristri, apa yang kau harapkan huh!"


Sementara itu Raka keluar dari Villa, Ia kini merokok di taman. Entah mengapa perasaannya kini berubah emosi. Bukan lagi karena Hendra yang membunuh kakek Anto melainkan ucapan Aiden yang membuatnya kesal.


"Ayah Mertuaku? huh jika kau ingat dia sudah membunuh kekasihku. kau sudah melupakannya Tuan, kau sudah melupakannya!"


Raka membuang rokok yang belum Ia hisap, Ia mengijak ijak rokok itu sebagai pelampiasan emosinya.


Tanpa disadari seseorang mengintip Raka yang dari balik pintu dapur.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn..


Rencana abis ini mau bikin ceritanya Raka, adakah yang setuju?


__ADS_2