SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
70


__ADS_3

Aiden berkali kali menghubungi nomor Raka namun tidak ada jawaban dari Raka. sejak siang tadi Ia tidak melihat keberadaan Raka hingga sekarang sudah malam dan Raka juga belum kembali. Aiden cemas tentu saja Aiden cemas karena Raka adalah orang yang sangat berarti untuknya, tidak hanya tentang pekerjaan namun juga Raka sudah Ia anggap sebagai adik kandung Aiden sendiri.


Aiden kembali mendial nomor Raka dan ini sudah hampir kelima belas kali Aiden menghubungi Raka namun tetap saja tidak ada jawaban dari Raka.


"Kemana Raka? tidak biasanya Ia pergi tanpa pamit seperti ini." gumam Aiden.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Lara yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat suaminya gelisah membuat Lara pensaran.


"Raka, dia pergi tanpa pamit dan sampai sekarang belum kembali, aku khawatir." kata Aiden wajahnya terlihat cemas.


"Mungkin dia sedang ada urusan lagipula masih pukul delapan malam, kita tunggu saja malam ini dia pulang atau tidak." kata Lara.


"Tapi seharusnya dia mengatakan padaku kemana akan pergi, tidak seperti ini membuatku cemas saja!"


Lara tersenyum geli, baru pertama kali melihat seorang bos yang begitu mengkhawatirkan asistennya seperti ini.


"Dia sudah dewasa dan dia hanya asisten mu, mungkin ada urusan pribadi yang tidak bisa Ia katakan padamu sayang." ucap Lara memanggil sayang membuat Aiden akhirnya tersenyum.


Aiden membawa Lara duduk dipangkuannya, "Kau ini benar benar bisa merayuku disaat seperti ini!" kata Aiden sambil mencubit pipi Lara.


Lara berdecak, "Aku tidak merayu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"Tetap saja itu merayu bagiku."


"Jadi sekarang kau sudah tidak khawatir lagi?" tanya Lara.


"Tentu saja masih, Raka itu sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." ungkap Aiden.


Lara tersenyum, Ia sangat kagum dengan sikap suaminya yang terlihat cuek padahal sebenarnya Ia sangat penyayang.


"Kita tunggu saja sampai besok jika memang belum kembali kita cari sama sama. bagaimana?"


"Mungkin hanya aku saja yang mencari, kau disini saja."


Lara cemberut tak terima, "Selalu saja seperti itu."


Aiden kembali dibuat gemas dan mencubit pipi Lara, "Semua demi keamanan mu sayang."


"Ck, aku akan baik baik saja."


"Tidak, kau harus menurut dengan apa yang ku katakan. kau juga harus menurut saat..."


"Saat?"

__ADS_1


"Aku menginginkan mu." kata Aiden membawa Lara berbaring di ranjang.


"Kita sudah melakukan sepanjang sore, apa kau tidak lelah?"


"Tidak sebelum aku bisa mengalahkan pria tua itu."


"Astaga, ibu tidak akan hamil secepat itu, ingat mereka juga sudah berumur."


"Tetap saja aku harus mendahului mereka." kata Aiden langsung menyerang Lara begitu saja membuat Lara hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan suaminya yang sangat memabukan.


Paginya...


Raka mencoba membuka matanya yang terasa lengket, kepalanya juga pening dan Ia merasa tubuhnya tidak bisa di gerakan.


Sekuat tenaga Raka akhirnya bisa membuka matanya, Ia melihat sekeliling bukan tempat yang Ia kenali. Raka mengerakan badan nya namun Ia tidak bisa bergerak dan barulah sadar jika tubuhnya terikat dan kini Ia berada disebuah gudang kosong.


"Sial, siapa yang melakukan ini padaku!" umpat Raka mencoba melepaskan diri dari ikatan namun sayang gagal.


Raka menyentuh kantong celananya, ponsel miliknya bahkan tidak ada. Ia akhirnya mengingat apa yang terjadi padanya. Setelah pergi dari Villa, Raka pergi ke kota dan berhenti disebuah club malam, Raka akhirnya masuk ke club dan minum ditemani seorang wanita dan setelah itu Raka tidak ingat lagi.


"Apa yang terjadi padaku? siapa yang berani menculik ku? Tuan Aiden pasti mencariku saat ini." gumam Raka.


Raka terdiam sejenak, "Tapi tidak, Tuan Aiden pasti sedang bersenang senang dengan istri dan juga mertua barunya, Ia tidak mungkin memikirkan ku. huh aku terlalu percaya diri." gumam Raka lagi.


Tak berapa lama pintu terbuka, awalnya Raka lega, Ia pikir akan diselamatkan oleh orang orang yang berada diluar namun setelah mengenali siapa orang orang itu Raka akhirnya mengetahui siapa yang menculiknya.


"Sial, mereka menjebak ku." batin Raka.


Empat pria bertubuh kekar yang Raka yakini adalah anak buah Hendra tampak memasuki gudang tempat dirinya terikat, mereka menertawakan keadaan Raka.


"Akhirnya kita bertemu lagi teman!" ucap salah seorang pria itu.


"Apa yang kalian inginkan?"


"Kau tentu tahu apa yang kamu inginkan bukan?"


Raka tertawa, "Bawa bosmu kesini dan aku akan membantunya."


"Sialan, siapa kau berani memerintahku!" bentak salah seorang pria hendak memukul Raka namun tangannya ditahan oleh salah satu temannya.


"Jika kami membawa bos kami apa kau mau memberitahu dimana Tuan mu berada?" tanya seorang pria lagi.


"Ya, aku ingin membantu bos kalian dan aku akan berpihak pada kalian mulai saat ini." kata Raka.

__ADS_1


"Baiklah, awas saja jika kau berani mempermainkan kami."


Raka menggelengkan kepalanya, pertanda jika Ia tidak akan mempermainkan keempat anak buah Hendra.


Salah satu anak buah Hendra keluar dan menuju rumah Hendra yang tak jauh dari gudang tempat Raka di ikat karena memang letak gudang itu berada dibelakang rumah Hendra.


"Kau berani kembali, apa kau sudah menemukan keberadaan Aiden?" tanya Hendra dengan wajah tak suka.


"Belum bos, saya kemari karena berhasil menangkap asisten Aiden."


"Bodoh! untuk apa menangkap pria itu, aku hanya menginginkan Aiden bukan asisten tak berguna itu!" marah Hendra pada anak buahnya.


"Bos dengarkan dulu, asisten nya mengatakan jika Ia memihak pada kita, sepertinya dia sudah tidak bekerja dengan Aiden lagi jadi kita bisa tahu keberadaan Aiden dengan bantuan Asistennya itu."


Hendra terdiam sejenak, "Dimana dia sekarang?"


"Ada di gudang belakang bos."


Tanpa mengatakan apapun, Hendra segera keluar pergi ke gudang belakang diikuti oleh anak buahnya.


Hendra menatap wajah Raka, Ia mencoba menelisik mencari kebenaran tentang Raka yang ingin bekerja sama dengannya.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanya Hendra pada Raka.


"Aku bisa memberitahumu keberadaan Aiden."


"Wow cukup mengejutkan, aku pikir kau begitu setia padanya." kata Hendra tertawa tidak percaya.


"Ada hal yang membuatku mengkhianati dia!"


"Apa karena dia sekarang sudah akur dengan Hutama yang sudah membunuh kekasihmu? kau tidak terima?"


Raka terkejut, "Kau juga tahu tentang ini?"


Hendra tertawa "Tentu saja aku tahu karena aku sedang mengincar mereka berdua."


Raka terdiam sejenak, jika Hendra juga mengincar Hutama berarti dirinya dan Hendra satu kubu, Ia tidak harus meminta tolong lagi pada Aiden pikir Raka.


"Kau membantuku untuk menghabisi Aiden dan aku akan membantumu menghabisi Hutama, bukankah adil?" tawar Hendra sambil tersenyum licik.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeenn yahh

__ADS_1


__ADS_2