
Raka dan Aiden bergegas menuju Devil Club malam ini juga. setelah mendengar kabar jika Friska bunuh diri.
Bahkan Aiden yang menyetir untuk Raka karena Raka terlihat linglung membuat Aiden khawatir.
"Aku yang bersalah Tuan, dia meminta ku untuk menemani namun aku malah meninggalkan nya."
"Sudah, jangan pikirkan apapun lagi, kita selidiki dulu apa yang terjadi."
Aiden melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga dua jam mereka sampai di Devil Club.
Raka berlari menuju kamar Friska dimana Ia melihat Friksa mengantung diri dikamarnya. Friska sudah tewas.
"Kami belum melakukan apapun Tuan, menunggu Tuan datang." kata salah seorang yang berjaga di club devil.
Raka tersungkur di lantai, meratapi tubuh Friska yang tergantung dan sudah terbujur kaku.
"Dia meninggalkan ini." seorang penjaga memberikan sebuah kertas pada Raka.
Maaf Raka telah membuatmu kecewa, tapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Aku mencintaimu selalu dan katakan pada Tuan Aiden, aku sangat bersyukur pernah mengenal dan menerima kebaikan nya.
Raka menangis membaca surat terakhir dari Friska. Raka sangat mengenal tulisan ini memang tulisan tangan Friska.
"Kenapa? kenapa kamu harus melakukan ini, bukankah semua sudah selesai? bukankah sudah waktunya kita untuk bahagia sekarang." kata Raka disela tangisnya.
Aiden tampak iba melihat Raka menangis dan hancur seperti itu, dia menarik salah satu anak buahnya dan mengajaknya masuk ke ruangannya.
"Kau yakin dia bunuh diri?" tanya Aiden pada anak buahnya.
Tampak anak buahnya menunduk kan kepalanya, tidak menjawab Aiden.
"Katakan, aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan, dia tidak bunuh diri kan?" tanya Aiden sekali lagi.
"Sa saya..."
"Tidak perlu takut, aku akan melindungimu."
"Tuan Hutama datang bersama anak buahnya, meminta kami diam. mereka memasuki kamar Friska dan saat keluar Friska sudah tidak bernyawa." jelasnya membuat Aiden mengepalkan tangan nya.
"Jadi pria tua bangka itu yang membunuh kekasihku?"
Aiden terkejut melihat Raka mendengar semuanya,
__ADS_1
"Ayah angkat mu yang membunuh kekasih ku Tuan?" Raka tampak marah.
"Tenanglah, jangan seperti ini."
"Bagaimana saya bisa tenang Tuan? kekasih saya meninggal di tangan Hutama padahal selama ini dia sudah membantu Hutama, apa ini adil?"
"Tenanglah Raka, kita pasti bisa membalasnya." kata Aiden mencoba menenangkan namun sepertinya Raka sudah sangat emosi.
"Jika yang di gantung disana itu adalah wanita yang Tuan cintai, apakah Tuan bisa tenang?" tanya Raka.
Aiden tersenyum, "Lalu apa yang akan kau lakukan? pergi kesana membuat kekacauan dan akhirnya kau mati sia sia menyusul kekasihmu? itu yang kau inginkan?"
Raka diam mendengar jawaban Aiden.
"Jika kamu ingin membalas dendam untuk kekasihmu, lihatlah cara musuhmu bermain. jangan gegabah atau kau yang akan mati sia sia." kata Aiden lagi.
"Lalu apa aku harus melapor polisi agar Hutama di tangkap?"
Aiden kembali tersenyum, "Apa kau pikir itu akan berhasil? tidak ingatkah kau manusia seperti apa Hutama itu?"
Raka kembali diam, hatinya hancur perasaan nya mati, yang Ia inginkan saat ini hanya membalaskan dendam pada Hutama namun kata kata Aiden menyadarkan dirinya jika dia tidak boleh gegabah.
Aiden menepuk bahu Raka, "Bersabarlah, perlahan kita akan membuat pria tua bangka itu hancur."
Tak menyangka waktu akan berjalan secepat ini, waktunya bersama Friska kini sudah berakhir. Cinta pertamanya juga cinta yang memberikan segalanya untuknya kini sudah terbujur kaku tak bernyawa.
Aiden memasuki mobilnya, Ia melajukan mobilnya meninggalkan devil club menuju kediaman sang Ayah.
"Tuan sudah tidur." kata penjaga rumah.
"Apa pria tua itu bisa tidur setelah berhasil membunuh seseorang?" tanya Aiden sinis.
"Tidak seharusnya Tuan muda mengatakan hal seperti itu." protes penjaga itu.
"Sebaiknya kau buka gerbangnya sekarang atau aku akan menabraknya." Ancam Aiden yang akhirnya membuat penjaga itu membuka gerbang rumah.
Aiden memasuki istana mewah milik Hutama, Ia menuju taman belakang dimana Hutama sedang berpesta disana bersama para gadisnya.
"Hebat sekali, bahkan setelah membunuh seseorang Ayah masih bisa berpesta seperti ini." kata Aiden membuat Ayahnya tersenyum.
"Apa yang kau katakan son? aku sama sekali tidak mengerti."
"Jangan pura pura bodoh, Aku tahu Ayah yang sudah membunuh Friska karena dia berhenti menjadi mata mata untuk mu!"
__ADS_1
Hutama kembali tersenyum, "Apa aku ketahuan sekarang?"
"Sampai kapan Ayah akan seperti ini? membunuh orang orang yang tidak bersalah, memeras orang miskin hanya untuk mendapatkan keuntungan. tidak bisakah Ayah berhenti dan menikmati masa tua Ayah?"
Hutama malah tertawa, "Siapa kau mengatur hidupku?"
Aiden akhirnya diam,
"Kau hanya anak angkat, anak pungut, tidak sepantasnya menasehati hidupku." kata Hutama membuat Aiden mengepalkan tangannya.
"Lalu bagaimana dengan Ayah? kenapa masih mengatur hidupku, mengekang hidupku bahkan mencari tahu segala sesuatu tentangku? kenapa Ayah masih melakukan itu pada anak pungut tidak berharga ini?"
"Karena kamu harus membalas budi padaku, jadi kamu harus tunduk padaku!"
"Aku tidak akan sudi tunduk pada iblis sepertimu!" kecam Aiden.
"Lalu apa yang akan kau lakukan huh?"
"Aku tidak akan menuruti semua kemauan mu lagi, aku tidak akan menganggap mu Ayah angkatku dan aku juga tidak akan menikahi Adira." balas Aiden yang malah membuat Hutama tertawa.
"Apa kau tidak takut jika wanita yang kau cintai akan bernasib sama seperti Friska?"
Deg, jantung Aiden berdetak sangat kencang. emosinya memburu, matanya bahkan memerah menandakan jika Ia marah saat ini.
"Jangan salahkan aku atas kematian Friska karena dia yang meminta sendiri, aku hanya membantunya saja dan jangan salahkan aku jika nanti wanita yang kau simpan di villa itu akan bernasib sama seperti Friska."
Pyaar... Aiden melempar botol bir dilantai hingga menimbulkan suara dan membuat anak buah Hutama mendekat untuk melindungi Tuan mereka.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
Hutama tertawa, "Aku bisa melakukan apapun yang ku inginkan jadi jika kau ingin wanita mu itu tetap hidup, bersikap baiklah padaku, jangan membuatku marah." kata Hutama menepuk bahu Aiden lalu mengajak para wanitanya memasuki kamar.
Aiden kembali mengepalkan tangannya, Ia tidak menyangka membawa Lara masuk ke dalam dunianya bukanlah iden yang baik karena Lara menjadi ancaman untuknya.
Hutama sudah mendapatkan kelemahan dirinya yang tak lain adalah Lara.
Aiden keluar dari istana megah Hutama, Ia memasuki mobil dan memukul setir mobilnya sangat keras.
"Pria tua pembunuh, tidak cukupkah hanya ibunya saja yang kau bunuh dan sekarang kau akan membunuh putrinya? aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Bersambung
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1