
Beberapa hari Vans mengambil cuti, Ia sengaja karena ada urusan pribadi juga Ia ingin menemui Raka, teman lama yang kini menjadi musuhnya itu. Bukan, Bukan Vans yang menanggap Raka musuh melainkan Raka lah yang menganggap Vans musuh.
"Sebentar lagi kau lulus dan aku ingin segera menikahi mu." kata Vans pada seorang Gadis yang kini tersipu malu.
Hari ini Vans pergi menemui kekasih hatinya yang masih bersekolah. Vans memang gila karena memacari anak sekolahan namun inilah cinta, Ia tidak mengkhianati hatinya karena memang Ia suka.
"Jangan buru buru, aku masih ingin kuliah." kata Gadis itu.
"Ck, kau masih bisa kuliah meskipun kita sudah menikah." kata Vans.
"Apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Vans.
"Tentu saja aku mau." balas Gadis itu penuh semangat, "Aku ingin ada yang menjagaku dan tidak ingin merepotkan dia lagi." tambah gadis itu.
Vans mengelus puncak kepala gadis itu, "Segeralah lulus dan kita akan menikah." kata Vans yang langsung diangguki gadis itu.
Setelah menemui Kekasihnya, Kini Vans melajukan mobilnya menuju rumah Raka yang tak jauh dari sekolahan sang kekasih. Rumah baru Raka pemberian dari Aiden.
Raka memang dipecat, namun Ia masih mendapatkan banyak fasilitas dari Aiden, Rumah baru, mobil baru juga perusahaan yang Aiden bangun diam diam diberikan pada Raka. Sungguh saat ini Raka pasti menyesal karena telah mengkhianati Aiden.
Vans berada didepan salah satu pintu kompleks perumahaan yang cukup mewah. Ia menunggu pemilik rumah membukakan pintu.
"Ck, untuk apa kau kemari?" tanya Raka saat membuka pintu dan melihat Vans membuatnya sangat kesal.
"Ada yang harus kita bicarakan." kata Vans.
"Tapi aku tidak ingin berbicara denganmu!" balas Raka ketus.
Raka hendak menutup pintunya namun Vans menahannya, "Ini tentang Friska."
Seketika Raka membiarkan pintu terbuka saat mendengar nama Friska.
"Apa kau menyesal sudah membunuh kekasihku karena Tuan mu itu?" sinis Raka.
"Kita bicara didalam." ajak Vans masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilahkan oleh Raka.
Vans duduk di sofa milik Raka, Ia mengajak Raka ikut duduk bersamanya.
"Kau bahkan tidak ku persilahkan masuk!" kesal Raka melihat Vans begitu percaya diri berada dirumahnya.
"Sepertinya kau harus tahu sesuatu tentang Friska," kata Vans membuat Raka akhirnya penasaran.
Raka duduk disamping Vans,
"Dia tidak sebaik yang kau pikirkan!"
"Apa maksudmu!" Raka terlihat tidak terima.
__ADS_1
"Selama dia menjadi kekasihmu, dia juga menjual dirinya pada Pria lain." ungkap Vans membuat Raka semakin emosi.
"Omong kosong apa lagi ini, apa karena kau tidak ingin mengakui jika kau membunuhnya maka kau membuat cerita omong kosong seperti ini!"
"Aku memang tidak membunuhnya, dia bunuh diri!" Vans tak kalah kesal.
"Jika kau masih tidak percaya lihatlah ini." Vans mengulurkan ponselnya pada Raka, memperlihatkan sebuah video yang membuat Raka terkejut sangat terkejut.
Video yang berisi percintaan Friska dengan seorang pria yang Ia kenal, Hendra. Ya video itu jelas sekali Friska menikmati setiap sentuhan Hendra.
"Tidak mungkin!" Raka masih tidak percaya.
"Tuan Hutama memang meminta Friska untuk menjadi mata matanya, dan karena sering ke tempat Tuan Hutama membuat Friska sering bertemu dengan Hendra, aku tidak tahu sejak kapan hubungan gelap mereka berlangsung karena Video ini ku dapatkan dari Tuan Hendra sendiri. memang Video ini dijadikan ancaman untuk Friska namun aku berani bersumpah, aku dan Tuan Hutama tidak membunuh Friska." jelas Vans.
Raka tersenyum, senyuman yang menyedihkan. Rasanya Raka ingin menertawakan dirinya sendiri saat ini karena sangat bodoh sudah mempercayai dan mencintai Friska sementara Friska melakukan hal hina itu dibelakangnya.
"Kau tahu, biaya hidup Ayah Friska dan adiknya sangat besar setiap bulannya, Friska menjadi tulang punggung keluarganya, mungkin itu yang membuat Friska menjadi simpanan Hendra." ungkap Vans lagi.
Raka masih terdiam, Ia sama sekali tidak menjawab ucapan Vans.
"Ku pikir hanya itu yang ingin ku sampaikan padamu, aku tidak ingin lagi kau salah paham tentang kematian Friska, jika kau masih tidak percaya kau bisa mencari buktinya sendiri." kata Vans sebelum akhirnya Ia pergi keluar dari rumah Raka.
Tanpa disadari, Air mata Raka menetes, tangannya mengepal. Ia benar benar sangat membenci kenyataan ini.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan,
"Jangan bekerja terlalu keras, ingat kau sudah tidak muda lagi." ucap seorang wanita menghampiri pria itu dan memberikan gelas berisi minuman.
Pria itu tersenyum, "Aku memang sudah tidak muda lagi namun aku bisa membuat perutmu sebesar ini." kata Pria itu membuat Wanitanya tersenyum.
"Ayah... Ibu... Apa kalian sudah selesai?" wanita muda cantik tampak menghampiri pria paruh baya juga wanitanya.
"Lara... apa suamimu sudah pulang dari kebun?" tanya Wanita itu yang tak lain adalah Rena.
"Ya, dia sudah mengomel dimeja makan karena kelaparan, ayolah kita segera pulang." ajak Lara pada Hutama dan Rena.
"Baiklah, ayo kita pulang dan makan siang bersama." kata Hutama.
"Ibu pelan pelan saja, kasihan baby yang ada diperut." kata Lara mengingat sebentar lagi Ia akan memiliki adik, Rena hamil dan sudah memasuki delapan bulan.
"Tenang saja putriku, Ayahmu ini akan selalu menjaga ibumu. lihatlah ini." kata Hutama memperlihatkan genggaman tangan bersama Rena.
"Baiklah aku percaya pada Ayah."
Mereka pun masuk kerumah dimana sudah ada Aiden yang menunggu makan siang bersama.
"Kenapa lama sekali, aku sudah sangat kelaparan." protes Aiden.
__ADS_1
"Mertuamu ini sudah renta, jadi wajar jika langkah kami sangat pelan." kata Hutama.
"Ck, bagaimana kau bisa mengatakan renta sementara kau masih memproduksi bayi lagi!" cibir Aiden.
"Ck, jangan seperti itu, aku senang memiliki seorang adik." ungkap Lara.
"Kau tidak membela suamimu huh!"
Lara tertawa, "Jangan bersikap kekanakan sayang."
Aiden akhirnya luluh dan tersenyum saat Lara memanggilnya sayang.
"Jadi kapan kalian akan menyusul Ibu memiliki baby?" tanya Rena akhirnya.
Aiden tersenyum, "Soon Ibu."
Dengan raut wajah malu, Lara mengeluarkan tespack garis dua yang Ia bawa sendari tadi.
"Jadi Lara hamil?" Rena tampak sangat senang.
"Ya, kami akan menyusul Ayah dan Ibu menjadi orangtua."
Rena memeluk Lara, "Ibu sangat senang mendengarnya."
Hutama dan Aiden memandangi Ibu dan Anak yang saling menyayangi itu.
Hutama tersenyum, Ia tak menyangka kehidupan kelamnya berubah drastis menjadi kehidupan bahagia yang Ia nanti selama ini.
Dimasa tuanya, Ia merasakan kebahagiaan yang tiada tara, Istri yang sangat Ia cintai juga keluarga kecilnya yang saling menyayangi satu sama lain. keputusan Hutama melepaskan pekerjaan mafianya dan memilih tinggal didesa bersama istrinya dan anaknya adalah pilihan yang tepat karena Ia mendapatkan kedamaian disana.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Aiden. Setelah bertahun tahun mengalami penderitaan akhirnya kini Ia mendapatkan kebahagiaan. Dendam dalam hatinya sudah hilang berganti dengan pintu maaf yang Ia buka, Aiden sudah berdamai dengan masa lalunya.
Kini dirinya hanya ingin hidup bahagia dan selamanya bersama wanita yang sudah merubah hidupnya.
Senandung Lara, wanita yang seharusnya menjadi adiknya namun terkalahkan oleh rasa cinta ingin memiliki lebih dari seorang adik.
Senandung Lara, kelahirannya membawa luka namun mampu membuat kehidupan Hutama dan Aiden berubah menjadi seseorang yang lebih baik dan bahagia.
**TAMAT.
Halo semuanya, terimakasih untuk kalian yang baca cerita ini dari awal sampai akhir.
Maaf jika ada kata yang kurang berkenan karena author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Dan seperti janji Author kemarin, setelah novel ini tamat ada lanjutan cerita tentang Raka dan Nira (nama sebelumnya Nila aku ganti Nira ya guys, harap maklum hehe) dengan judul baru yang sedang on proses.
Jadi stay tune yahh, jika sudah release author akan segera kabar kabar.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk Reader setiaku, salam cinta dari Author**.