
Sebuah mobil yang ditunggu Aiden akhirnya datang juga. semalaman Aiden tidak bisa tidur karena memikirkan keberadaan Raka dan kini Ia bisa bernafas lega saat melihat mobil Raka memasuki Villa.
Aiden menunggu Raka keluar dari mobilnya,
"Tuan..." Raka terdengar gugup dan terkejut melihat Aiden, entah apa yang membuatnya seperti itu.
"Semalaman kau tidak pulang aku khawatir, dari mana saja?" tanya Aiden memperlihatkan raut wajah khawatirnya.
"Saya, egh... saya..." mendadak Raka gugup tak mampu menjawab Aiden karena masih tak menyangka jika Aiden mengkhawatirkannya.
"Sudah jangan dijawab jika memang itu urusan pribadimu aku tidak ingin tahu. lain kali pamitlah jika ingin pergi jadi aku tidak khawatir." kata Aiden.
"Apa yang Tuan khawatirkan?" tanya Raka.
"Kau tahu musuhku sangat banyak, aku tidak ingin orang orang yang dekat denganku terluka karena aku. cukup Friska pertama dan terakhir yang terluka karena aku." ungkap Aiden yang lagi lagi membuat Raka terkejut tak menyangka jika Tuannya sangat memikirkan dirinya.
Raka tampak menunduk, menyesali apa yang baru saja Ia lakukan dibelakang Aiden.
"Sudah sudah, jangan pikirkan apapun lagi sebaiknya kau masuk segera mandi dan makanlah. Mbok Nah memasak sup enak hari ini." kata Aiden diangguki Raka.
Raka baru saja selesai mandi, Ia segera ke dapur untuk mencari makanan karena sudah lapar.
"Kau dari mana saja semalam? Tuan mengkhawatirkanmu." kata Mbok Nah saat menyiapkan makanan untuk Raka.
Raka hanya diam, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Saat Ini Raka malah takut jika Aiden mengetahui dirinya mengkhianati Aiden, apa yang akan terjadi? Ingatannya kembali beberapa bulan yang lalu saat Friska mengkhianati Tuannya dan sekarang Raka pun melakukan hal yang sama, sungguh mengecewakan.
"Apa ada masalah dengan keluargamu?" tanya Mbok Nah tampak penasaran.
Raka hanya menggelengkan kepalanya,
"Lalu siapa? kekasihmu?"
Raka menggelengkan kepalanya lagi,
Mbok Nah menghela nafas panjang, "Jika tidak keduanya aku harap kau pergi bukan untuk mengkhianati Tuanmu."
Seketika Raka tersedak mendengar ucapan Mbok Nah,
"Ten tentu saja aku tidak akan melakukan itu!"
Mbok Nah tertawa, "Aku hanya bercanda, kenapa kau langsung tersedak."
Raka mendengus sebal, jantungnya sudah berdegup tak beraturan karena ucapan ucapan Mbok Nah.
"Sudahlah nikmati sarapanmu, aku harus mencuci piring." kata Mbok Nah meninggalkan Raka.
__ADS_1
Raka meletakan sendoknya. Sup yang lezat kini sudah tidak terasa lezat untuknya. Hatinya dan pikirannya merasa gelisah dan khawatir dengan apa yang baru saja Ia lakukan.
"Ck, bodoh sekali, apa yang harus ku lakukan sekarang!" umpat Raka pada dirinya sendiri sambil menjambaki rambutnya frustasi.
Siang hari saat Raka sedang duduk santai didepan Villa, Aiden memanggilnya dan mengajak ke ruang kerjanya.
"Ada yang harus kita bahas." kata Aiden saat Raka sampai diruangan.
Raka duduk didepan Aiden,
"Kita akan menanggani proyek baru, Devil Club sudah bangkrut dan kita harus mencari peluang ditempat lain."
"Baik Tuan, apapun itu saya akan mengikuti Tuan."
Aiden tersenyum, "Kau memang teman terbaik ku Raka, terimakasih sudah menemaniku selama ini." ucap Aiden yang entah mengapa terdengar tak nyaman untuk Raka.
Aiden menyodorkan sebuah kotak untuk Raka, "Ini hadiah untukmu."
Raka membuka kotak itu dan sangat terkejut saat melihat isinya. Sebuah ponsel keluaran terbaru yang memang diinginkan oleh Raka.
"Tu tuan, apa ini tidak berlebihan. harga ponsel ini sangat mahal." kata Raka merasa tak enak dengan Aiden.
"Berapapun harganya tidak masalah untukku, aku hanya ingin membuatmu senang dan nyaman bekerja denganku." kata Aiden yang lagi lagi membuat Raka terdiam.
Raka membawa kotak berisi ponsel barunya keluar dari ruangan Aiden.
"Tuan begitu baik padaku tapi aku sudah mengkhianatinya, apa yang harus ku lakukan sekarang?"
"Jika aku mengakui semuanya pada Tuan pasti Tuan akan kecewa padaku," Raka kembali tertunduk lemas.
"Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara mengejutkan Raka dan saat berbalik ternyata Nathan.
"Bukan urusanmu!"
"Wow ponsel baru, apa ini hadiah dari Tuan?" Nathan hendak menyentuh ponsel baru milik Raka namun segera Raka menyingkirkan tangannya.
"Pelit sekali!" ucap Nathan.
"Apa kau tidak pernah diberi hadiah oleh Tuan?" tanya Raka penasaran.
"Tentu saja tidak, aku ini hanya tukang kebun sementara kau asisten nya, kau selalu di istimewakan." ungkap Nathan membuat Raka kembali terdiam.
"Kita beruntung memiliki majikan seperti Tuan Aiden, yah meskipun kadang aku kesal namun aku bersyukur bisa bekerja dengan Tuan Aiden." ungkap Nathan.
"Ya kita memang beruntung." ucap Raka menghela nafas panjang.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu, Hutama dan Rena sudah pulang dari bulan madu. Sebelum ke villa Hutama, Rena ingin menemui Lara lebih dulu.
"Ibu terlihat kelelahan, apa ibu sakit?" tanya Lara tampak khawatir dengan raut wajah ibunya yang pucat.
"Tidak sayang, ibu memang sedikit kelelahan, semua karena ulah Ayahmu!" ungkap Rena menatap Hutama yang tersenyum tengil ke arahnya.
"Ck, aku tidak percaya pria tua itu bisa membuat Ibu kelelahan." cibir Aiden yang juga berada disana.
"Lihat saja, sebentar lagi Lara akan memiliki adik." balas Hutama tersenyum mengejek.
"Astaga Ayah, tidak kah kalian bersama saja jangan menambah anak lagi!" Lara seolah tak mau memiliki Adik.
"Kenapa? kau tidak mau memiliki adik?" heran Hutama mendengar protes Lara untuk pertama kalinya.
"Dulu aku mau tapi sekarang aku tidak mau." balas Lara sengit.
"Baiklah baiklah tapi jika sudah terlanjur jangan marah, terima saja adik barumu." kata Hutama kembali tersenyum tengil.
"Sudah sudah, jangan membuat putri kita kesal." kata Rena mengingatkan dan Hutama hanya tersenyum.
"Setelah ini mungkin Ayah akan mengajak Ibu tinggal ke kota jadi bagaimana dengan kalian?" tanya Hutama pada Aiden.
"Aku akan menetap disini." balas Aiden mantap.
"Baiklah jika seperti itu, kami akan sering mengunjungi kalian disini." kata Hutama yang langsung diangguki Aiden.
Sementara Raka hari ini pergi kerumah kakek tua untuk mengirim kebutuhan bulanan yang biasa Aiden berikan untuk kakek tua dan cucunya.
Namun sampai disana Raka terkejut melihat Weni cucu kakek Anto menangis histeris sambil mengoyang goyangkan tubuh kakeknya.
"Kakek bangun, kakek bangun!"
"Apa yang terjadi?" tanya Raka mendekat.
"Kakek ku dihajar oleh beberapa pria yang ingin tahu jalan ke Villa Tuan Aiden. Kakek ku tidak memberitahu mereka dan mereka langsung menghajar Kakek." jelas Weni.
Raka memeriksa nafas Kakek Anto dan sudah tidak ada nafas keluar masuk, Raka memeriksa denyut nadi juga sudah tidak terasa.
"Kakek sudah meninggal."
"Tidak! tidak mungkin!" ucap Weni menangis histeris.
Raka keluar untuk menelepon seseorang, "Kenapa kau harus membunuhnya brengsek!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yahh