SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
62


__ADS_3

Rena memandangi pria yang kini berlutut di kakinya, Pria yang sangat Ia cintai namun juga pria yang banyak memberikan luka untuknya.


Dengan tangan gemetar, Rena menyentuh bahu pria itu. "Sudah jangan seperti ini." kata Rena dengan bibir bergetar.


Pria yang tak lain adalah Hutama itu mendongak menatap Rena dengan posisi masih berlutut.


"Aku pria jahat, aku sudah jahat padamu." ucap Hutama akhirnya menangis.


Rena menatap mata Hutama, terlihat Hutama sangat menyesal membuat Rena bertanya tanya dalam hatinya, mungkinkah Hutama sudah mengetahui segalanya?


"Jika kamu jahat mungkin aku sudah mati waktu itu." kata Rena sekuat tenaga mengangkat bahu Hutama dan mengajaknya duduk dibangku.


"Tapi aku membuatmu harus berpisah dengan putrimu, putri kita."


Rena terkejut, "Ka kamu sudah mengetahui semuanya?"


Hutama mengangguk, "Aku bodoh, aku pria yang sangat bodoh baru mengetahui betapa menderitanya kamu dulu karena orangtua ku dan bahkan tidak menyadari kehamilanmu waktu itu, maafkan aku. aku bersalah padamu, maafkan aku." kata Hutama sambil sesenggukan menangis.


Rena mengangkat tangannya dan langsung menyeka air mata Hutama, "Lalu bagaimana dengan putri kita? apa kau sudah menemukannya?"


Hutama mengangguk, "Saat ini dia sudah bersama dengan pria yang tepat, pria yang mencintainya dan bisa menjaganya."


Seketika tangis Rena ikut pecah mendengar cerita tentang putrinya, "Dia sudah menikah?"


Hutama mengangguk, "Dia cantik, putri kita sangat cantik sama sepertimu." kata Hutama membuat tangis Rena semakin keras.


Hutama merengkuh tubuh kurus wanita yang Ia cintai itu, ya tubuh Rena terasa lebih kurus dari tubuh Rena yang dulu saat mereka menjadi sepasang kekasih.


Hutama melepaskan pelukannya saat Rena sudah tenang, Ia mengenggam tangan Rena, melihat ada bekas ikatan di tangan Rena juga bekas pasung di kaki yang terlihat jelas membuat Hutama semakin merasa bersalah. Awal Ia membawa Rena kemari dulu Rena selalu memberontak, ingin pergi dari sini, ingin pulang dan melihat anaknya membuat Hutama marah dan mengikat tangan serta kaki Rena. Hutama juga tka segan segan memberikan hukuman pada Mak Siti jika Rena melanggar tidak menurut membuat Rena takut dan akhirnya menurut pada Hutama. bertahun tahun Rena kesepian, terpenjara dikamar itu, hanya bisa menangis saat Ia merindukan Lara karena Hutama memalsukan kematiannya.


Rena pasrah dan percaya jika Hutama akan datang padanya meminta maaf padanya atas segalanya kesalahpahaman ini dan sekarang waktu itu datang, ya akhirnya semua penderitaan Rena akan berakhir.


"Kamu pasti kesakitan selama ini, semua karena aku, aku adalah pria yang sangat buruk. tidak bisa menjagamu, malah menyakitimu." ucap Hutama menyalahkan dirinya sendiri.


Rena menggelengkan kepalanya, "Semua terjadi karena kamu salah paham waktu itu. aku tidak pernah selingkuh, aku tidak pernah mengkhianatimu."


Hutama menganggukan kepalanya, "Maaf, maaf karena tidak mempercayai mu waktu itu."


Rena tersenyum, "Aku tidak marah, aku justru menunggu saat ini, saat dimana kamu mengetahui semuanya dan menemuiku, ternyata hari ini datang. hari yang sudah ku nanti selama ini."


Hutama mengelus pipi Rena, "Kenapa kamu masih bisa sebaik ini padaku?"

__ADS_1


"Bukankah kamu juga orang baik?" Rena kembali bertanya membuat Hutama menundukan kepalanya.


"Sekarang aku bukan orang baik, aku orang jahat." balas Hutama.


"Lalu bisakah kau kembali menjadi baik?"


"Mustahil, semua kejahatanku sangat membekas pada orang orang dan mereka sangat terluka." balas Hutama terlihat sekali penyesalan dimata Hutama.


"Mereka akan memaafkan mu jika kamu ingin berubah." kata Rena membuat Hutama tertawa.


"Mustahil, putri kita saja sangat membenciku setelah tahu siapa aku."


Rena terdiam cukup lama, "Apa aku boleh bertemu dengan putri kita?" tanya Rena dengan suara serak seperti ingin menangis.


"Tentu saja, kita akan segera bertemu dengannya."


Rena tersenyum bahagia, Ia langsung saja memeluk Hutama. Tak peduli sebanyak apa luka yang diberikan Hutama untuknya, Ia tetap mencintai pria itu sampai kapanpun.


"Aku sangat merindukan dia, sangat." kata Rena membuat Hutama mengelus kepalanya.


Hangat, nyaman seperti itulah yang dirasakan Hutama saat ini. Setelah sekian lama Ia tidak merasakan hal seperti ini.


"Dimana ikatan tangan dan pasung ku?" tanya Rena yang langsung membuat Hutama menangis.


Entah kebiasaan atau memang Rena menyindir Hutama, Namun apa yang diucapkan Rena baru saja membuat hati Hutama sakit.


"Maaf, aku sudah terbiasa di ikat jadi rasanya aneh jika tidak ada." kata Rena saat melihat Hutama kembali menangis.


Hutama tak mengatakan apapun lagi, Ia ikut berbaring disamping Rena, memeluk tubuh Rena.


"Rasanya sudah lama kita tidak sedekat ini." gumam Rena membuat tangis Hutama berhenti.


"Apa kamu merindukan aku?" tanya Hutama dengan suara serak.


Rena hanya tersipu malu tidak menjawab apa yang Hutama tanyakan membuat Hutama tersenyum.


"Setelah ini, aku ingin menikahimu." kata Hutama.


Rena terdiam, termenung dan tidak menjawab ucapan Hutama.


"Kau tidak mau?"

__ADS_1


Rena menatap Hutama dengan tatapan sedih, "Dulu aku pernah mendengar kata itu dari mulutmu namun semua berakhir menyedihkan."


"Maafkan aku, aku hanya ingin kita memulai lembaran baru dan aku pastikan apa yang terjadi dulu tidak akan terulang."


Rena tersenyum, "Kita bertemu putri kita dulu saja."


Hutama tersenyum kecut, "Apa ini artinya kau menolak ku?"


"Apa kau akan marah jika aku menolakmu?"


Marah, Ya Hutama ingin marah karena Ia sangat ingin bersama Rena namun Hutama tidak ingin memaksa apapun lagi, apa yang sudah Ia lakukan pada Rena sudah sangat keterlaluan.


"Aku tidak akan marah jika kau tidak kembali dengan Roy!"


"Roy, bagaimana kabar pria itu sekarang?" tanya Rena membuat Hutama kesal.


"Kau merindukan pria itu huh?"


Rena sadar jika Hutama cemburu, akhirnya Ia menundukan kepalanya takut.


"Jangan rindukan pria manapun, cukup rindukan aku saja." kata Hutama membuat Rena tersenyum dan mengangguk.


Rena semakin mendekat, kepalanya berada di lengan Hutama, mereka saling memeluk satu sama lain. namun posisi seperti ini membuat Hutama semakin tak nyaman, meskipun dia sudah berumur namun tetap saja masih bisa merasakan gairah apalagi jika berdekatan dengan Rena wanita yang Ia cintai juga wanita yang pertama kali membuatnya merasakan bercinta.


"Kenapa nafasmu seperti ini? apa kau mempunyai sesak nafas?" tanya Rena saat merasakan nafas Hutama memburu.


"Ck, menyebalkan sekali!" umpat Hutama menjauhkan tubuh Rena.


"Ada apa? apa ada yang sakit?" tanya Rena tampak khawatir.


"Kau tahu dibawah sana sangat sakit sekali jika aku hanya menyentuhmu." kata Hutama sambil menunjuk apa yang Ia maksud.


Rena melototkan matanya tak percaya, "Dasar mesum, ingatlah kita sudah tua!"


Hutama tertawa, pertama kalinya Ia kembali mendengar omelan Rena setelah sekian lama.


Rindu, Ya Ia sangat merindukan wanita yang ada didepannya saat ini.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yasss...

__ADS_1


__ADS_2