SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
75


__ADS_3

Tengah malam Raka dibuat kesal setelah seharian ini Raka mengabaikan pesan dari Hendra kini salah satu anak buah Hendra menghubunginya dan mengatakan jika sudah ada didepan.


Anak buah Hendra mengancam jika Raka tidak keluar mereka akan membuat keributan di Villa Aiden.


Ancaman Anak buah Hendra membuat Raka takut dan akhirnya keluar dari Villa namun baru saja membuka pintu, Ia melihat anak buah Aiden masih berjaga membuat Raka berpikir untuk membuat Anak buah Aiden tidak curiga kepadanya.


Raka akhirnya memberikan kopi yang sudah Ia campur dengan obat tidur. efek obat tidur itu hanya sampai tiga jam saja.


Dan benar saat semua anak buah Aiden menyesap kopi buatan nya, mereka langsung tergeletak seketika, terlelap di lantai.


"Ck, biarkan saja mereka tidur disini, lagipula Tuan juga tidak akan tahu." gumam Raka.


Raka baru ingin keluar namun anak buah Hendra sudah lebih dulu masuk ke dalam.


"Apa yang kau lakukan disini, jangan bodoh kita bisa ketahuan!" kesal Raka pada salah satu anak buah Hendra yang menerobos masuk.


Anak buah Hendra tidak menjawab dan malah tersenyum saat melihat anak buah Aiden bergeletak di lantai.


"Bagus juga kerjamu." ucap anak buah Hendra.


"Sial, pergilah dari sini!"


Anak buah Hendra kembali tersenyum, "Bos memintamu untuk datang.ada yang ingin dia bicarakan. jangan mengabaikan pesannya dan membuat bos kesal!"


"Aku akan kesana besok, sekarang kau pergilah!" usir Raka.


Anak buah Hendra baru saja berbalik dan mereka dikejutkan oleh suara gelas pecah dari arah pintu.


Raka menatap ke arah pintu dan sangat terkejut saat melihat Lara berdiri disana menatap ke arahnya dengan wajah takut.


"Sial!" umpat Raka segera berlari mendekati Lara yang berjalan mundur.


Saat Raka sudah semakin dekat, Lara berbalik, Raka ingin mengapai tangan Lara namun gagal karena seseorang berdiri dan membuat Lara menabraknya.


"Ada apa ini?" suara seseorang yang sangat Raka segani, suara Aiden.


Melihat Aiden yang Ia tabrak, Lara segera memeluknya erat, Lara sangat ketakutan saat ini.


"Tu tuan..." Raka terdengar gugup membuat Aiden menatapnya curiga.


"Apa yang kau lakukan diluar dan apa yang terjadi ini?" tanya Aiden mengelus kepala istrinya agar lebih tenang, Aiden merasakan jantung Lara berdegup sangat kencang membuat Aiden paham jika Lara sedang ketakutan saat ini.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu ke kamar lebih dulu." kata Aiden mengajak Lara kembali ke kamar.


Saat Aiden mengantar Lara ke kamar menjadi kesempatan Raka untuk menyingkirkan tiga orang anak buah Aiden yang pingsan didepan Villa.


Beruntung saat Aiden kembali turun, semua anak buah yang pingsan sudah Ia sembunyikan diruang penjagaan.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Aiden pada Raka.


"Tadi saya keluar karena melihat ada orang yang mencurigakan dan saya tidak tahu ternyata Nona juga ikut keluar." jelas Raka berbohong.


"Ck, pantas saja Lara terlihat ketakutan, lalu dimana para penjaga? apa mereka tidur?" tanya Aiden terlihat kesal.


"Tidak Tuan, para penjaga langsung berlari mengejar orang itu." jelas Raka sambil menunjukan pintu gerbang yang terbuka.


Aiden mengangguk paham, "Akhir akhir ini aku merasa di Villa sudah tidak aman lagi." ungkap Aiden.


"Sebaiknya Tuan kembali istirahat, biarkan saya yang berjaga disini menunggu para penjaga kembali."


"Kau yakin akan menunggu sendiri disini?"


Raka mengangguk, "Tidak apa apa Tuan, sebaiknya Tuan kembali istirahat."


Raka menghela nafas lega, "Maafkan saya Tuan karena saya telah membohongi Tuan." ucap Raka penuh penyesalan.


Aiden kembali ke kamarnya, Saat membuka pintu Ia melihat Lara belum kembali tidur. Lara duduk sambil termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya apa yang kamu lihat sayang, hmm?" tanya Aiden kembali membawa Lara ke dekapannya.


"Ak aku tidak tahu."


"Kau terlihat ketakutan tadi, aku sangat cemas." kata Aiden sambil mengelus kepala Lara.


"Tadi aku melihat Ra Raka-"


"Tenanglah, tenanglah sayang. Raka dan para penjaga sedang mengejar orang mencurigakan itu, jangan takut. kamu aman bersamaku."


"Mengejar? ta tapi bukankah para penjaga itu-"


"Husstt, sudah sebaiknya kau kembali tidur. jangan cemaskan apapun." potong Aiden menepuk nepuk punggung Lara.


Lara hanya bisa menghela nafas panjang saat Ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang baru saja Ia lihat.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, malam sudah hampir pagi namun Lara masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih memikirkan tentang Raka yang semalam berbicara dan terlihat sangat akrab dengan pria misterius itu. Bahkan Lara melihat para penjaga terkapar dilantai, bagaimana bisa Aiden mengatakan jika para penjaga mengejar pria misterius itu padahal Lara melihat mereka seperti pingsan dilantai. Lara sangat yakin, Raka menyembunyikan mereka saat Aiden mengantarnya ke kamar.


Lara menatap wajah suaminya yang masih terlelap, Ia menghela nafas panjang. Lara takut jika Raka mengkhianati Aiden, Ia takut itu akan menyakiti perasaan Aiden karena Aiden sudah menganggap Raka adalah Adiknya sendiri.


"Kau sudah bangun baby?" bisik Aiden membuat Lara tersadar dari lamunannya.


Lara memaksakan senyumannya, saat ini perasaan hatinya sedang tidak menentu karena memikirkan Raka dan Aiden.


"Kamu pura pura tidur padahal tidak tidur semalaman, apa kau masih memikirkan kejadian semalam?" tanya Aiden yang langsung diangguki Lara.


"Raka tidak melaporkan sesuatu padaku jadi mungkin tidak ada sesuatu buruk yang terjadi." kata Aiden.


"Bagaimana jika Raka mengkhianatimu?"


Aiden tertawa, "Tidak mungkin, dia sudah bersamaku selama bertahun tahun, aku sangat mengenalnya, dia tidak mungkin mengkhianatiku." kata Aiden sangat yakin membuat Lara hanya bisa menelan ludahnya, bingung apakah Ia harus mengatakan apa yang Ia lihat semalam namun Lara takut jika Aiden tidak mempercayainya.


"Sudah jangan khawatirkan apapun lagi, sebaiknya kita segera mandi dan turun untuk sarapan, aku sudah sangat lapar." kata Aiden mengelus rambut Lara sebentar sebelum akhirnya memasuki kamar mandi.


Pagi ini mereka sarapan bersama dimeja makan, ada Raka yang ikut sarapan. Raka terlihat santai dan bersikap biasa seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Bagaimana tentang semalam?"


"Aman Tuan, sepertinya dia pencuri disekitar kampung." jelas Raka membuat Lara langsung tersedak.


"Pelan pelan sayang." Aiden mengelus bahu Lara.


Raka menatap Lara sejenak lalu menundukan kepalanya seolah tahu apa yang membuat Lara tersedak.


"Aku sudah kenyang, lanjutkan sarapan kalian, aku ingin pergi ke taman." kata Lara meninggalkan meja makan begitu saja membuat Aiden kebingungan.


"Ada apa dengannya?" gumam Aiden.


"Mungkin Nona sedang datang bulan Tuan membuat moodnya tidak baik." kata Raka.


Aiden tertawa, "Tidak mungkin, kami bermain semalam."


Raka ikut tersenyum, setelah ini mungkin Ia akan menyusul Lara ke taman.


Bersambung...


Jangan lupa like dan vote

__ADS_1


__ADS_2